Ternyata ini penyebab bayi Zee Zee Shahab lahir dengan berat badan rendah

lead image

Pengalaman Zee Zee Shahab yang melahirkan bayi dengan berat badan rendah bisa dijadikan pelajaran penting yang perlu diketahui para Bumil.

Bulan Agustus 2018, menjadi bulan istimewa bagi Zee Zee Shahab dan sang suami, Prabu Revolusi. Pasalnya, tanggal 5 Agustus pasangan ini dikaruniai putra kedua yang diberi nama Lucky Keriym Putra Revolusi di RSIA Evasari, Jakarta Timur.

Dikutip dari laman Kompas.com, Prabu mengatakan bahwa proses kelahiran putra keduanya secara caesar.

“Lancar semuanya, lamanya 30 menit. Saya dengar dari dokternya suara nangisnya kenceng banget, Alhamdulillah laki-laki, panjang 44 cm,” ungkap Prabu.

Meskipun begitu, rupanya kehamilan Zee Zee sempat mengalami sedikit masalah. Zee Zee sempat mengalami peyumbatan plasenta. Hal ini akhirnya berujung terjadinya pengapuran pada plasenta yang menyebabkan penyaluran nutrisi pada janin tidak bisa maksimal.

Hal inilah yang mengakibatkan putra kedua pasangan yang menikah tanggal 26 November 2011 tersebut,  lahir dengan berat badan rendah. Keterangan ini disampaikan oleh Zee Zee lewat akun istagramnya.

Dalam foto yang diunggah pada tanggal 23 Agustus, Zee zee Shahab menuliskan kisahnya

Holaa, aku share dikit pengalaman melahirkan Baby K kemarin ya. Aku melahirkan tanggal 5 Agustus kemarin. Lumayan banyak majunya karena HPL-nya tanggal 22 dengan indikasi sudah 3 minggu (cek USG-nya tiap minggu) BB-nya baby stuck di 2,3 kg.

Dokter aku curiga ada penyumbatan di placenta dan ini juga terjadi di kehamilan pertama waktu @fauzikhaleev yang lahir di 2,3 kg. Dan karena kecil jadi dokter menyarankan untuk SC lagi (padahal udah niat banget normal tapi Allah punya takdir baik).

“Pas lahir ternyata placenta pun udah pengapuran jadi nutrisi yang masuk juga nggak maksimal. Alhamdulillah banget ya Allah masih lindungi dan baby k lahir di 2.035 kg. 

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Holaa aku share dikit pengalaman melahirkan baby k kmrn yaa, aku melahirkan tgl 5 Agustus kmrn lumayan byk maju nya karna hpl nya tgl 22 kmrn 😅dgn indikasi sudah 3 minggu (cek usg nya tiap minggu) bb nya baby stuck di 2,3kg Dr ku curiga ada penyumbatan di Placenta dan ini jg terjadi di kehamilan pertama waktu @fauzikhaleev yg lahir di 2,3kg, dan karna kecil jd Dr menyarankan utk SC lagi ( pdhal udh niat bgt normal 😢tp Allah punya takdir baik) dan pas lahir ternyata Placenta pun udh pengapuran jd nutrisi yg masuk jg gak maksimal , alhamdulillah bgt ya Allah masih lindungi baby 🤗dan baby k lahir di 2.035kg alhamdulillah sehat walaupun kecil hehe, dan bersyukur sekali ASI Lgsg keluar dan sampe saat ini banyak jd bisa Support baby k utk cepet besar dan kuat ya nak! ❤🤗 ,dan sejak baru lahir Baby keriym tidur dengan bantal lovenest, selain nyaman bantal lovenest ini juga bisa mencegah dan memperbaiki bentuk kepala bayi menjadi bulat 😊 #lovenest #tidurlebihbaik #babymoovmomsreview

A post shared by Zeezeeshahab (@zeezeeshahab) on

Alhamdulillah sehat walaupun kecil hehe, dan bersyukur sekali ASI langsung keluar dan sampe saat ini banyak jadi bisa support Baby K untuk cepet besar dan kuat ya, Nak!”

Ibu hamil perlu mengenali pengapuran plasenta

Parents tentu telah memahami bahwa saat sedang mengandung, seorang bumil perlu memeriksakan kondisi kehamilannya secara rutin dan berkala.

Hal ini tentu saja tidak terlepas untuk mengetahui kondisi kesehatan dan tumbuh kembang janin. Selain itu, tentu saja untuk mencegah risiko yang diakibatkan jika terjadinya pengapuran plasenta seperti yang dialami oleh Zee Zee Shahab.

Kondisi ini berisiko membuat janin tak berkembang dengan baik saat berada dalam rahim.

Dikutip dari laman Alodokter, kondisi pengapuran plasenta seperti yang dialami Zee Zee Shahab sebenarnya normal terjadi.

Umumnya, lebih dari setengah kondisi plasenta akan mengalami tingkat derajat pengapuran dan 18 persen plasenta lainnya mengalami pengapuran yang parah setelah memasuki minggu ke-33 pada masa kehamilan.

Meskipun begitu, kondisi pengapuran plasenta tidak bisa dianggap sepele. Perlu dilihat dari tingkatan pengapuran plasenta yang terdiri dari beberapa tingkat.

Tingkat 1 terjadi pada kehamilan usia 31-32 minggu, tingkat 2 terjadi pada kehamilan 36-37 minggu, kemudian pada tingkat 3 adalah kehamilan sekitar 38 minggu.

Pengapuran plasenta pada tingkat 3 dinilai sebagai kondisi terberat. Pada tingkatan 3 inilah, sudah terbentuk lingkaran seperti cincin pada plasenta.

Adapun beberapa risiko komplikasi yang disebabkan terjadinya pengapuran plasenta adalah pendarahan parah setelah melahirkan, mengalami abrupsi plasenta, bayi lahir prematur, dan janin meninggal saat masih di dalam kandungan atau stillbirth.

Risiko lainnya termasuk peningkatan risiko tekanan darah tinggi yang berhubungan dengan kehamilan dan memiliki bayi lahir dengan berat rendah dapat terjadi.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi para Bumil, ya.

 

Baca juga:

Bayi Meninggal dalam Kandungan (Stillbirth) Akibat Dokter Mengabaikan Keluhan Ibu Tentang Rasa Gatal Selama Kehamilan

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.