Yuk, Tanamkan Kebiasaan Baik Pada Anak

lead image

Mengapa menanamkan kebiasaan baik seperti mengantri pada anak jauh lebih penting dari mengajarkan matematika? Temukan 12 pelajaran yang bisa dipetik di sini.

src=https://id.theasianparent.com/wp content/uploads/2014/08/dreamstime s 9920743.jpg Yuk, Tanamkan Kebiasaan Baik Pada Anak

Tanamkan kebiasaan baik pada anak sejak dini.

Menanamkan kebiasaan baik merupakan tugas setiap orangtua dan pendidik. Pembiasaan ini merupakan salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter anak, yang diperoleh melalui keteladanan dan usaha yang terus-menerus dalam membangun prilaku tersebut.

‘Ala bisa karena biasa’ dan Practise makes perfect merupakan dua istilah yang berbeda, namun bermuara pada hal yang sama. Bahwa, suatu tindakan akan teraplikasi dengan baik, manakala, tindakan itu menjadi kebiasaan.

Kita tidak mungkin mengharapkan anak-anak akan menjadi pribadi-pribadi yang menjaga kebersihan diri dan lingkungannya, bila kita tidak membiasakan mereka untuk mandi dan gosok gigi secara teratur dan mencontohkan perbuatan itu dalam keseharian kita.

Menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik yang sederhana pada anak-anak akan membuahkan kepribadian yang mengagumkan dikemudian hari. Menanam kebiasaan-kebiasaan baik ini, sekalipun tidak sulit, namun membutuhkan komitmen dan konsistensi.

Tidak perlu memulai dengan hal-hal yang memberatkan, kita bisa menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik dari hal-hal sederhana, seperti : mengingatkan anak-anak agar tidak membuang sampah sembarangan, misalnya, hal ini akan membuat anak-anak menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan merawat alam.

Contoh lain kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa kita terapkan pada anak-anak sejak kecil : mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi dengan teratur, mengucapkan terimakasih setiap kali mendapatkan pertolongan, meminta maaf jika anak bersalah dan lain-lain.

Sebagai inspirasi tambahan, Bunda, ada baiknya kita belajar dari budaya bangsa Jepang yang sukses membangun kepribadian bangsa melalui pembiasaan yang ditanamkan sejak kanak-kanak. Di Jepang, anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.

Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Filosofi ini pula yang mempengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai dan membentuk sistem moral di Jepang.

Di sekolah-sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem moral melalui empat aspek. Yaitu :

  1. Menghargai diri sendiri (Regarding Self)
  2. Menghargai Orang Lain (Relation to Others)
  3. Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime)
  4. Menghargai Kelompok dan Komunitas (Relation to Group& Society)

Pendidikan seperti ini ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar, maka tak heran, bila dalam realitanya, masyarakat Jepang saling menghargai dan menjaga lingkungannya.

 

Hal ini tampak berbalik seratus delapan puluh derajat dengan karakter masyarakat kita. Pendidikan di tanah air yang selama ini lebih mengedepankan pendidikan akademis dan menomorduakan pendidikan moral, membuat masyarakat kita menjadi masyakat yang egois.

Kita tidak peduli dengan rusaknya lingkungan akibat sampah-sampah yang kita buang sembarangan. Kita tidak peduli dengan rusaknya hutan-hutan, rusaknya alam asalkan kita bisa menikmati keuntungannya. Bahkan, untuk belajar antri pun, kita kerap gagal.

Mungkin itu sebab, mengapa seorang guru di Australia mengatakan :

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Mengapa menanamkan kebiasaan mengantri pada anak-anak jauh lebih penting dari mengajarkan matematika? Karena, dengan membiasakan anak untuk mengantri, banyak pelajaran penting yang bisa diperoleh si anak.

Yaitu :

  1. Anak belajar manajemen waktu
  2. Anak belajar bersabar menunggu giliran
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain
  4. Anak belajar disiplin dan tidak menyerobot hak orang lain
  5. Anak belajar kreatif dengan memikirkan solusi mengatasi kebosanan saat mengantri
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi
  7. Anak belajar tabah menjalani proses
  8. Anak belajar hukum sebab akibat
  9. Anak belajar disiplin, teratur dan rapi
  10. Anak belajar memiliki rasa malu, jika menyerobot antrian dan hak orang lain
  11. Anak belajar bekerjasama dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, jika ia perlu keluar antrian sementara waktu.
  12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

So, Bunda, mari tanamkan tanamkan kebiasaan-kebiasaan baik pada anak. Dengan kebiasaan-kebiasan baik yang sederhana. Agar mereka kelak tumbuh menjadi pribadi yang mempesona dan penuh tanggung jawab. Baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Cara Meningkatkan EQ agar Anak Lebih Sukses di Kemudian Hari

10 Ketrampilan Sosial yang Wajib Dimiliki Anak