Yaser Arafat, Anak Tangguh di Tengah Bencana Banjir Bima

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Yaser Arafat, bocah berusia 12 tahun menggantikan ibunya mengurus kedua adiknya yang masih kecil di posko pengungsian korban banjir Bima.

Banjir bandang yang merendam lima kecamatan di Bima pada 21 dan 23 Desember lalu ini  menyebabkan 18 bangunan SD, 5 bangunan SMP dan 4 bangunan SMA mengalami kerusakan.

Bencana ini juga menyisakan trauma bagi anak-anak di Bima yang harus menghadapi kengerian banjir yang menenggelamkan rumah dan merusak sekolah mereka.

Berbeda dengan Yaser Arafat, anak berusia 12 tahun ini tak ingin berlarut dalam trauma karena bencana. Ditengah pengungsian, dia bangkit dan mengambil alih tugas merawat sang adik yang berusia 9 bulan.

Nurma, ibunya Yaser mengidap penyakit jantung yang membuat tubuhnya lemah. Sedangkan Ilyas, ayah Yaser yang berprofesi sebagai tukang ojek kini kesulitan mencari nafkah karena motornya rusak setelah terendam banjir.

Terbiasa membantu orang tua

Yaser bersama keluarganya mengungsi di Posko Masjid Baitul Hamid Penaraga. sumber: suarantb.com

Yaser bersama keluarganya mengungsi di Posko Masjid Baitul Hamid Penaraga. sumber: suarantb.com

Sejak sebelum bencana banjir melanda desanya, Yaser memang terbiasa membantu mengurus kedua adiknya karena ibunya yang lemah tak berdaya. Dan kakaknya, Sri membantu pekerjaan rumah tangga sambil bekerja membantu mencari nafkah sepulang sekolah.

Yaser yang masih duduk di bangku kelas 6 SD dengan telaten mengurus dua adiknya, yakni Alfian yang berusia tiga tahun dan Ardiansyah yang baru berusia sembilan bulan.

sumber:tribunnews.com

sumber:tribunnews.com

Setiap malam, saat semua orang sedang lelap tertidur, Yaser bangun untuk membuatkan susu dan memberikannya pada Ardiansyah yang masih bayi.

“Ibu saya sakit, kasihan kalau istirahatnya terganggu.” Demikian Yaser berujar lirih.

Sempat dinyatakan hilang

Saat banjir pertama, Yaser dan kedua adiknya diungsikan ke rumah kerabat yang dirasa aman dari banjir. Namun saat banjir susulan datang, Yaser dan kedua adiknya terpaksa mengungsi ke SMAN 1 Kota Bima.

Ketika banjir susulan terjadi, Yasir sedang tidur siang di rumah Uwaknya. Saat air semakin meninggi, Yasir menggendong Alfian yang masih tiga tahun menuju lokasi pengungsian. Sedangkan adiknya, Ardiansyah dibawa oleh sang Uwak.

Ilyas, sang ayah beserta ibu dan kakak perempuan Yaser yang mengungsi ke Masjid Hamid di Penaraga sempat khawatir kalau Yaser hilang ditelan banjir. Setelah dua hari, baru diketahui bahwa Yaser berada di posko pengungsian SMAN 1 Kota Bima.

“Setelah tahu Yaser mengungsi di SMAN 1, Bapak pergi menjemputnya,” ujar Sri.

Menurut  pengakuan Yaser, banjir bandang yang dua kali menerjang Bima telah merendam rumahnya yang terletak di areal persawahan hingga bagian atap. Selain beberapa potong pakaian, tidak ada harta lain yang bisa diselamatkan.

Butuh seragam sekolah

Kondisi keluarga Yaser cukup memprihatinkan, apalagi kedua adiknya yang masih kecil. Mereka terlihat kurus dan kekurangan gizi. Yaser dan kakaknya membutuhkan bantuan berupa perlengkapan sekolah dan seragam.

“Rumah dan isinya rusak kena banjir, saya hanya ingin punya seragam sekolah lagi,” ujar Yaser.

“Seragam, tas dan buku sangat kami butuhkan. Karena semuanya telah hanyut diterjang banjir.” Sri menambahkan.

Sayangnya, ditengah ratusan ribu korban banjir Bima yang mengungsi, keluarga Yaser seolah tak terlihat. Padahal mereka juga sangat membutuhkan bantuan, keluarga Yaser yang hidup dalam kekurangan tidak menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah Bima.

kondisi di pengungsian. sumber: suarantb.com

kondisi di pengungsian. sumber: suarantb.com

Selain keluarga Yaser, bantuan bagi anak-anak dan ibu hamil di pengungsian masih kekurangan, seperti popok bayi dan susu formula. Hal ini patut menjadi perhatian, karena ibu hamil dan bayi berada pada kondisi yang rentan terkena penyakit.

Sejak 2 Januari lalu, sekolah sudah mulai dibuka setelah diliburkan karena bencana banjir. Anak-anak dihimbau untuk kembali ke sekolah dengan perlengkapan seadanya dan tanpa memakai seragam.

Keluarga Yaser tidak bisa segera kembali ke rumah mereka, karena rumahnya masih digenangi lumpur. Keluarga Yaser membutuhkan bantuan untuk memulihkan kondisi rumah mereka, karena Yaser dan kakaknya sudah sibuk mengurusi Alfian dan Ardiansyah serta sang ibu yang sakit-sakitan.

Sri Mulyani, kakak Yaser yang turut menjadi relawan membantu korban banjir di Bima, berharap pemerintah segera memberi bantuan kepada keluarganya.

 

Referensi: tribunnews.com, suarantb.com, metrotvnews.com

Baca juga:

Anak-anak yang menjadi Korban Terorisme dan Trauma yang Akan Menghantui Mereka





Kisah Mengharukan