[Video] Tukang becak berhasil jadi sarjana, bawa ibunya ke wisuda naik becak

lead image

Hamzah, 23 tahun, berhasil menjadi sarjana sembari menjalankan profesi sebagai tukang becak.

Video viral seorang tukang becak yang berangkat wisuda dengan mengayuh becak sambil membawa ibunya ternyata menyimpan kisah inspiratif tentang perjuangan meraih pendidikan walau ekonomi pas-pasan. Kejadian wisuda naik becak itu terjadi Minggu, 18 November 2018, di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Wisuda naik becak: Hamzah, tukang becak yang jadi sarjana manajemen

Pemuda tukang becak itu bernama Muhammad Hamzah Amirullah, kelahiran 2 April 1995. Minggu pagi 18 November 2018 adalah hari bahagia buatnya. Pagi itu, ia berangkat dari rumahnya di Tanjung Batu, Majene, menuju balai tempat wisuda Universitas Terbuka Majene di Rangas yang berjarak 6,3 kilometer. Dengan toga lengkap, ia dudukkan ibunya, Nursamiah, di bangku penumpang.

Hari itu, Hamzah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak akan diresmikan sebagai sarjana manajemen. Ia lulus dengan IPK 3,49.

Video viral itu dibagikan oleh akun Irwan Fals. Di statusnya, Irwan menulis,

“Inspiratif !!!!

“Teman yang satu ini, Muhammad Hamzah Amirullah Us lagi viral di facebook dan grup-grup Whats’app. Pagi tadi, ia menghadiri wisudanya di UT Majene dengan mengendarai becak bersama ibunya.

“Mulai SD hingga lulus kuliah, Hamzah bekerja serabutan untuk biaya hidup dan kuliah. Mulai dari tukang batu, pemulung, nelayan hingga jadi tukang becak,

“Bagikan yuk kabar baik ini !!!”

Hamzah adalah salah satu anak dari tujuh bersaudara yang lahir dari keluarga berekonomi pas-pasan. Nursamiah, ibunya, bekerja sebagai penjual kue dan ikan dengan penghasilan di bawah 100 ribu per hari.

Untuk menambah penghasilan keluarga, sejak kelas V SD, Hamzah sudah bekerja sebagai penarik becak. Menurut ibunya, sejak kecil Hamzah memang rajin bekerja.

Dengan keterbatasan ekonomi dan harus menyambi sejak lama, Hamzah bertekat melanjutkan pendidikan setelah SMK karena dorongan orang tua dan guru-gurunya.

Namun, jalan itu tidak mudah. Mulanya ia hendak mendaftar sebagai tentara di Akademi Militer, tetapi orang tuanya tidak merestui.

Ia kemudian mendaftar di sekolah perikanan di Makassar, kota yang berjarak 400 kilometer dari Majene. Ia bahkan sudah diterima dengan sokongan beasiswa Bidik Misi.

Namun, lagi-lagi orang tuanya tak merestui Hamzah bersekolah di kota lain. Akhirnya, Hamzah memutuskan bersekolah di Universitas Terbuka.

Baru sebulan bersekolah di UT, ia harus menerima kenyataan pahit. Ayahnya, Usman, berpulang ke rahmatullah.

Becak Hamzah bukan becak biasa

Selain kisah perjuangannya meraih pendidikan, Hamzah juga mendapat pujian karena usahanya menyebarkan budaya literasi.

Becak yang ia andalkan untuk mencari nafkah ia modifikasi sebagai perpustakaan keliling. Sembari membawa penumpang, ia juga membawa buku-buku yang bisa dipinjamkan kepada anak-anak di lingkungannya. Di bagian belakang becak Hamzah tertulis “Becak Pustaka”. 

Luar biasa! Selamat wisuda, Hamzah!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.