Waspadai Preeklampsia Pada Kehamilan

Waspadai Preeklampsia Pada Kehamilan

Apakah preeklampsia? Dan apakah membahayakan bagi ibu dan janin? Simak selengkapnya kisah pengalaman penulis serta pembahasan tentang preeklampsia.

Kehamilan yang lancar dan sehat hingga persalinan adalah harapan semua ibu hamil. Ada baiknya ibu memperhatikan dengan seksama segala kondisi atau gejala yang mungkin timbul selama kehamilan, salah satunya adalah preeklampsia.

Preeklampsia pada kehamilan perlu diperhatikan

Preeklampsia pada kehamilan perlu diperhatikan

Apa itu Preeklampsia?

Preeklampsia adalah kondisi yang dialami oleh ibu hamil di usia kehamilan di atas 20 minggu yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tinggi kadar protein urine.

Kemungkinannya besar terjadi pada ibu di kehamilan pertama, hamil di usia remaja di bawah 20 tahun atau usia lebih dari 40 tahun, kehamilan kembar, memiliki riwayat hipertensi, diabetes, obesitas, keturunan dari keluarga yang pernah mengalami preeklampsia.

Penyebabnya belum dapat diketahui dengan pasti, tapi diduga karena kurang berfungsinya plasenta dengan baik.

Saya didiagnosis mengalami preeklampsia

Inilah kehamilan pertama saya dan tentunya saya sangat gembira dan bersemangat sekali untuk mencari tahu segala info yang saya butuhkan mengenai kehamilan.

Salah satu hal yang pernah saya baca dan dengar adalah mengenai preeklampsia. Saya sangat terkejut ketika didiagnosa mengalami kondisi tersebut di usia kehamilan 35 minggu pada kontrol rutin ke dokter kandungan.

Saat cek tensi oleh suster, ternyata tensi saya 152/96 yang terbilang tinggi dan setelah dilakukan cek lagi beberapa menit berikutnya, tensi saya tetap tinggi.

Saya tidak merasa mengalami gejala yang signifikan seperti pembengkakan di wajah, tangan dan kaki saat itu dan gejala lainnya yang pernah saya dengar.

Lalu saya segera diopname malam itu juga dan harus bed rest karena menurut dokter, saya mungkin akan melahirkan segera bila kondisi tak membaik.

Di rumah sakit, saya di-tes darah dan urine dan ternyata terdapat protein di urine yang sedikit melebihi batas normal.

Observasi pada janin terus dilakukan secara rutin dengan alat untuk menghitung detak jantung dan hasilnya cukup baik.

Setelah 3 hari bed rest di rumah sakit dan diberikan obat penurun tensi, kondisi saya semakin membaik. Tensi saya menurun dan kembali normal sehingga saya tak perlu melahirkan saat itu juga dan dapat kembali ke rumah.

Gejala yang biasa timbul

  • Tekanan darah tinggi (di atas 140/ 90 mm Hg)
  • Kadar protein tinggi pada urine
  • Mengalami pembengkakan di kaki, muka dan tangan
  • Buang air kecil sedikit atau berkurang
  • Berat badan naik dengan cepat
  • Sakit kepala yang berat
  • Penglihatan kabur
  • Sakit perut terutama bagian sebelah kanan atas
  • Mual dan muntah yang berlebihan

Namun mungkin saja gejala tidak terlihat hingga dilakukannya tes darah serta urine. Maka dari itu kontrol rutin ke dokter selama kehamilan sangat perlu dilakukan.

Resiko komplikasi jarang terjadi tetapi perlu diwaspadai seperti eklampsia yang disertai dengan kejang-kejang karena dapat membahayakan nyawa baik ibu dan janin.

Cara mengatasi

Memang belum ada obat untuk menyembuhkan preeklampsia dan umumnya kondisi ibu akan kembali normal setelah melahirkan.

Namun hal ini dapat diantisipasi dengan ditangani secara medis segera bila terdapat indikasi preeklampsia. Untuk ibu yang mengalami preeklampsia ringan, akan disarankan untuk bed rest atau dirawat di rumah sakit untuk observasi lengkap kondisi detak jantung janin dan pemeriksaan USG.

Obat penurun tekanan darah mungkin diberikan oleh dokter, juga dilakukan tes darah dan urine. Bila usia kehamilan ibu sudah di atas 37 minggu, bayi akan segera dilahirkan baik dengan induksi atau dengan operasi Caesar.

Tetapi dalam kasus preeklampsia berat, kelahiran harus dilakukan saat itu juga tanpa menunggu usia kandungan yang cukup. Maka dari itu kelahiran prematur kemungkinan besar terjadi.

Konsultasikan kondisi anda dengan dokter bila mengalami gejala-gejala tersebut di atas agar segera ditangani dan resiko komplikasi bisa dicegah demi kesehatan ibu dan bayi.

Simak pula artikel  berikut:

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner