4 Tipe Orangtua Berdasarkan Jenis Unggahan Media Sosialnya

lead image

Coba cek Parents, Anda termasuk tipe orangtua media sosial yang mana?

Konten yang diunggah oleh para orangtua media sosial ini amat beragam. Kita bisa melihat macam-macam metode pengasuhan anak, kisah keseharian si kecil yang jenaka, jurnal tumbuh kembang, hingga gaya berbusana yang tak kalah keren dengan pengguna media sosial dewasa. “Follower” mereka pun kian hari kian bertambah. Kok bisa ya?

Mungkin dengan melihat orangtua lain yang mengalami hal yang serupa dengan yang Mams alami, ada rasa lega. Lega bahwa kita bukan satu-satunya yang mengalami susah-senangnya mengasuh anak. Mungkin ada pula rasa nyaman.

Nyaman, bahwa kita bisa mengamati dan saling berbagi ilmu parenting tanpa ada yang menghakimi atau menggurui. Mams juga dapat melihat berbagai metode-metode pengasuhan anak berbeda-beda dan mengikuti yang paling cocok dengan kondisi Mams da si kecil di rumah.

Mari tengok macam-macam “orangtua media sosial” berdasarkan hal-hal yang sering mereka unggah. Siapa tahu, ada ilmu di balik konten tersebut yang bisa Mams terapkan juga.

1. Tipe Orangtua Achiever 

Tipe orangtua seperti ini biasanya rajin mengunggah foto atau cerita pencapaian-pencapaian yang diraih si kecil secara eskplisit, misalnya saja, sertifikat lulus gym class, medali anak atau foto buku parenting yang sedang mereka baca. Orangtua Achiever umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan tahapan dan aturan pengasuhan anak yang sangat disiplin.

Hal yang dapat kita pelajari dari orangtua media sosial yang Achiever adalah mereka lebih teliti dan perhatian terhadap detil-detil tumbuh kembang anak. Namun, Orangtua Achiever harus berhati-hati agar tidak panik jika terjadi sesuatu yang di luar ekspektasi, dan lebih terbuka terhadap solusi alternatif pengasuhan anak yang mungkin tidak sesuai dengan buku parenting yang mereka baca.

2. Tipe Orangtua Trend Setter 

Mams pernah melihat orangtua yang selalu mengunggah foto si Kecil mengenakan pakaian, perangkat makan, bahkan mainan edukasi yang sedang ramai dibicarakan? Kemungkinan besar ini adalah tipe Orangtua Trend Setter.

Bagi orangtua seperti ini, tak masalah berapapun harganya, atau seberapa pun sulit untuk dicari, si kecil pasti akan mendapatkannya, padahal untuk anak-anak berusia 1-3 tahun siklus pemakaian barangnya masih tergolong cepat.

Satu hal yang bisa kita amati dari tipe Orangtua Trend Setter ini adalah mereka selalu memastikan si kecil mendapat yang terbaik yang bisa mereka berikan. Mereka juga biasanya jarang berkata “tidak” untuk permintaan si kecil. Karena tidak ada keterbatasan, anak juga cenderung memiliki lebih banyak kesempatan untuk mencoba banyak hal yang tak sekadar baru, tapi juga mendidik.

3. Tipe orangtua D.I.Y

Sering merasa iri dengan tipe orangtua ini, nggak, Mams? Tipe orangtua serba D.I.Y. atau “Do It Yourself” ini mungkin termasuk yang paling sulit ditandingi. Sejak maraknya metode pendidikan yang menekankan aktivitas merangsang stimuli tumbuh kembang anak, banyak Mams yang jadi seniman dadakan di rumah untuk mengeluarkan segala kreativitasnya untuk membuat kegiatan stimulasi anak menjadi menyenangkan.

Sering melihat unggahan media sosial seperti ini, Mams?Tak hanya menyiasati kegiatan dan mainan anak, tipe orangtua serba D.I.Y. juga kerap ditemui kreatif di dapur untuk menyiasati asupan makanan dan gizi si kecil. Sayangnya, tak semua orangtua memiliki keleluasaan waktu untuk melakukan seperti yang dilakukan tipe orangtua D.I.Y., karena diperlukan extra time dan effort lebih.

4. Tipe orangtua Casual

Biasanya tipe Orangtua Casual akan mengunggah cerita-cerita jenaka yang mereka alami dalam proses parenting. Apakah Mams termasuk ke dalam kategori ini? Tipe ini biasanya berlawanan dengan Orangtua Achiever yang menjalankan segala sesuatu “by the book”. Namun, tipe Orangtua Casual juga tidak melulu memanjakan anak seperti tipe Orangtua Trendsetter.

Tipe Orangtua Casual lebih fleksibel dalam menjalankan perannya sebagai orangtua. Bagi orangtua tipe ini, merawat anak adalah perpaduan dari belajar dari buku dan belajar dari pengalaman. Sebagai orangtua kita seringkali diharuskan membuat keputusan-keputusan kecil namun penting dalam keseharian kita, dengan hanya mengandalkan intuisi kita sebagai orangtua. Keputusan-keputusan ini, ditambah kemampuannya untuk berkomunikasi dan mengamati respon anaklah yang menambah ilmu parenting orangtua tipe Casual.

Tipe orangtua manakah yang terbaik?

Ada banyak peran orangtua yang tidak cukup untuk masuk ke dalam satu kategori terbaik, Mams. Kita dapat melihat bahwa dari empat tipe orangtua yang kita temui di media sosial, semuanya memegang andil penting dalam membangun fondasi belajar anak.

Ada yang memberi anak kesempatan seluas-luasnya agar anak dapat belajar dari mencoba banyak hal baru, ada yang memfasilitasi anak dengan permainan dan aktivitas untuk merangsang pertumbuhan otak, fisik dan emosi anak.

Ada juga yang menjaga dan memastikan agar pertumbuhan anak sesuai dengan tahapan dan usianya. Dan tak ketinggalan, ada yang mendengarkan dan memberi kesempatan anak untuk menjalani setiap hari dengan bebas. Semuanya merupakan #CARAPINTARMAM untuk membuat landasan tumbuh kembang anak yang optimal.

#CARAPINTARMAM dukung fondasi belajar si Kecil

Jika usia 4-14 tahun merupakan masa di mana Mams harus mengetahui bakat dan minat si Kecil, maka usia 1-3 tahun merupakan usia emas, atau periode paling penting dalam pembentukan fondasi awal kepintaran si Kecil.

Dalam periode ini, peran Mams sangat dibutuhkan untuk mendukung proses pembentukan fondasi belajar si kecil secara menyeluruh. Caranya? Dengan memberikan inspirasi, stimulasi dan nutrisi sesuai dengan usia dan tumbuh kembangnya yang dapat membantu pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak. Pertumbuhan fisik dan mental secara optimal inilah yang akan menjadi landasan agar si kecil dapat belajar dengan lebih optimal.

Di usia 1 hingga 3 tahun, anak akan menunjukkan perkembangan motorik, bahasa, dan emosi yang cukup pesat. Namun, tentu saja Mams tidak dapat memaksakan anak untuk dapat mengeluarkan satu kalimat penuh, ketika kapasitas perkembangan bahasanya baru sampai pada membuat satu frasa yang terdiri dari dua kata saja. Ingat, Mams, semua stimuli yang diberikan harus sesuai dengan usia dan tumbuh kembang si kecil.

Sama seperti #CARAPINTARMAM memberi aktivitas untuk si kecil yang sesuai dengan kapasitas mental dan fisik tubuhnya, memenuhi kebutuhan nutrisi pun untuk anak tidak bisa sembarangan, lho. Harus sesuai juga dengan usia dan tumbuh kembang anak dan tentunya harus menyenangkan.

Banyak hal bisa dilakukan, seperti misalnya mengajarkan si kecil belajar mengenal angka dengan mengajarkan senam sambil menghitung gerakan, “satu…dua… tiga… empat… lima… enam.. tujuh.. delapan”. Atau selain hanya mengenalkan si kecil tentang binatang dengan “flash card”, Mams bisa mengajak si kecil ke kebun binatang sehingga si kecil tidak hanya mengenal jenis binatang tapi juga mengenal konsep bentuk (binatang besar – kecil), warna, dan mengajarkan si kecil dekat dengan alam.

Nutrisi memegang peran penting dalam mendukung tumbuh kembang si Kecil. Susu adalah salah satunya. Mams harus mengetahui nutrisi penting yang mendukung fondasi belajar si kecil. Susu yang mengandung asam linoleat dan tinggi zat besi, juga iodium, baik untuk membantu pertumbuhan otak anak berusia 1-3 tahun. Demikian juga protein, kalsium, vitamin D, A, B12, dan Zink yang membantu pertumbuhan badannya.

Ayo Mams, berikan si kecil inspirasi, stimulasi, dan nutrisi menyeluruh yang terdiri dari nutrisi esensial dan nutrisi penting lainnya sesuai dengan usia dan tumbuh kembang si kecil sebagai #CARAPINTARMAM dukung fondasi belajar si Kecil. Pastikan ia siap belajar, dukung langkah awal kepintarannya.

Untuk Bunda dengan anak berusia 1-3 tahun, yuk ikutan survey singkat Nutrisi Anak, di sini. Bunda bisa mendapatkan sample susu pertumbuhan GRATIS, voucher belanja senilai Rp 100,000,- dan juga berkesempatan memenangkan grand prize voucher belanja Rp 500,000,-. Ditunggu hingga April 2018!