Cek Suhu dengan Termometer Tembak (Thermo Gun) Membahayakan Otak? Ini Faktanya

Cek Suhu dengan Termometer Tembak (Thermo Gun) Membahayakan Otak? Ini Faktanya

Faktanya, termometer tembak atau thermo gun yang dianggap membahayakan otak hanyalah informasi salah atau hoaks. Lebih jelasnya, simak penjelasan dokter berikut ini.

Guna mencegah penyebaran COVID-19 yang semakin luas, di beberapa tempat, terutama yang dikunjungi banyak orang seperti kantor, mal, bank, dan lainnya, selalu disediakan termometer tembak atau thermo gun.

Setiap orang yang akan masuk ke tempat itu terlebih dahulu dicek suhu badannya menggunakan thermo gun. Jika pengunjung atau pegawai suhu badannya di atas 37,5ºC, maka dilarang masuk dan disarankan untuk memeriksakan diri.

Akan tetapi, belakangan ini beredar informasi tentang penggunaan thermo gun yang dianggap membahayakan otak karena memancarkan laser. Kabar ini tentu saja berhasil membuat khawatir masyarakat.

Lantas, apakah informasi yang sedang viral terkait termometer yang membahayakan otak itu memang benar adanya atau sekadar hoaks? Berikut ini penjelasannya yang perlu Parents ketahui.

Artikel Terkait : PSBB Transisi DKI Jakarta Diperpanjang, Waspadai Peningkatan Kasus Virus Corona

Benarkah Termometer Tembak Berbahaya bagi Otak?

termometer tembak

Para dokter membantah jika termometer tembak dapat membahayakan kesehatan manusia.

Faktanya, anggapan tentang termometer tembak atau thermo gun yang berbahaya bagi tubuh, terutama otak, adalah salah. Melansir dari situs Kompas, menurut Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, termometer yang digunakan di dahi untuk mengukur suhu tubuh tersebut aman dan telah lulus uji kesehatan.

Thermal gun sudah lulus uji kesehatan, jadi sudah diperhitungkan bahwa alat ini aman,” kata dokter Ari selaku guru besar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI RS Cipto Mangunkusumo.

Penggunaan termometer inframerah juga tidak berdampak kepada sistem saraf atau retina manusia. Pasalnya, menurut dokter Ari, termometer inframereah tidak memancarkan radiasi seperti sinar-X.

“Termometer inframerah tidak memancarkan radiasi seperti sinar-X. Oleh karena itu, tidak memengaruhi sistem saraf termasuk juga tidak merusak retina,” jelasnya.

Artikel Terkait : Sedang musim sakit, begini cara tingkatkan kekebalan tubuh pada anak!

Senada dengan itu, Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM selaku ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) juga mengatakan bahwa informasi yang tengah viral saat ini adalah tidak benar.

“Alat itu (thermo gun) menggunakan inframerah, bukan laser,” ucap Aru, mengutip dari laman Kompas.

Thermo Gun Cocok untuk Screening Gejala COVID-19

termometer tembak

Termometer tembak yang digunakan untuk mengukur suhu tubuh manusia sudah dilakukan uji kesehatan dan aman.

Salah satu gejala yang ditunjukkan oleh pasien COVID-19 adalah demam. Oleh karenannya, tidak heran jika suhu tubuh seseorang sudah mencapai 37,5°C harus diwaspadai dan disarankan untuk segera lakukan pemeriksaan.

Menurut penjelasan ilmiah dari Departemen Fisika Kedokteran/Klaster Medical Technology IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, termometer dahi atau thermo gun lebih cocok untuk screening gejala demam COVID-19. Sebab, alat ini hanya perlu “ditembak” ke arah dahi tanpa melakukan kontak langsung dengan kulit.

Lagi pula, alat thermo gun dengan laser yang membuat resah masyarakat hanya ditemukan untuk keperluan pengukuran temperatur di industri, bukan untuk medis. Serta, yang jelas, penggunaan thermo gun industri untuk mendeteksi temperatur tubuh manusia tidak tepat karena bukan peruntukannya.

Artikel Terkait : Beberapa penyebab demam pada Si Kecil dan cara efektif mengatasinya, Parents perlu tahu!

Cek Suhu dengan Termometer Tembak (Thermo Gun) Membahayakan Otak? Ini Faktanya

Sumber Gambar: FKUI

Intinya, alat thermo gun untuk mengecek temperatur seseorang bekerja dengan menerima pancaran inframerah dari benda, bukan dengan memancarkan radiasi apalagi laser. Sebagai alat pengukur suhu untuk indikator kesehatan, thermo gun direkomendasikan agar dikalibrasi minimal 1 tahun sekali.

Kalibrasi diperlukan agar screening suhu terjaga akurasinya, karena informasi yang salah bisa membuat gagal screening suhu (positif palsu dan negatif palsu), sehingga membahayakan banyak orang.

Di sisi lain, pengukuran suhu tubuh dengan thermo gun tidak bisa dijadikan acuan utama terkait apakah seseorang menderita COVID-19 atau tidak. Sebab, pasien COVID-19 bisa saja muncul tanpa gejala demam.

Tak luput, penggunaan thermo gun secara luas di tempat-tempat publik, seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan layanan transportasi publik sebaiknya disertai juga dengan SOP yang jelas.

Demikian penjelasan tentang penggunaan termometer tembak atau thermo gun yang faktanya aman digunakan untuk mengukur suhu tubuh. Dari contoh kasus ini, diharapkan Parents lebih bisa berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar.

Baca Juga :

Virus corona ditandai demam, pastikan Anda memiliki 1 dari 7 thermometer digital terbaik berikut

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner