Tantrum, Mengapa Terjadi dan Bagaimana Mengatasinya?

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Bila si kecil sering tantrum, ketahui penyebabnya serta ambil langkah yang tepat untuk mengatasi tantrum sejak dini.

Mengapa anak melakukan tantrum?

Mengapa anak melakukan tantrum?

Seperti halnya orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalami rasa frustasi dan tertekan manakala keinginannya tidak terpenuhi. Pada sebagian anak-anak, ketidaknyamanan itu lahir dalam bentuk ledakan amarah yang kita kenal dengan sebutan tantrum.

Tantrum merupakan perilaku normal, yang biasanya terjadi pada usia 2 dan 3 tahun atau biasa terjadi pada masa prasekolah, ketika kemampuannya berkomunikasi belum cukup untuk menyampaikan keinginannya.

Pada masa tantrum seperti ini pun, anak tengah belajar menjadi pribadi mandiri, mengembangkan otonomi dan egonya.  Tantrum juga sering disertai dengan sikap-sikap seperti di bawah ini.

1. Keras kepala dan sulit diatur

Mereka cenderung menolak atas kontrol dalam bentuk apapun.

2. Tidak suka dibantu

Keinginannya untuk mandiri tampak menonjol. Mereka akan menolak untuk disuapi, ingin memakai pakaian sendiri dan lain-lain.

3. Berganti-ganti antara kemandirian dan sikap manja

Hal ini mereka lakukan untuk mendapatkan kendali dan mengendalikan orangtua dan orang dewasa lain yang ada di sekitarnya.

Sebagai orangtua, kita dapat belajar bagaimana memelihara dan menegakkan disiplin secara efektif. Terlalu permisif dengan disiplin yang longgar membuat anak merasa segala sesuatu harus dipenuhi.

Sebaliknya, bila orangtua bersikap terlalu otoriter akan menimbulkan dampak tidak baik dalam pengasuhan anak. Tidak ada salahnya mencoba sekali-kali gaya pengasuhan dengan lebih mendengarkan suara anak.

Intinya, Parents, adalah bagaimana cara kita memberi keseimbangan dalam pengasuhan, kapan kita perlu bertindak disiplin dan kapan perlu mendengarkan keinginan dan hak anak. Dan itu akan mengurangi tantrum pada anak.

Berikut beberapa beberapa fakta menarik tentang tantrum:

  1. Tantrum hanya dilakukan anak di hadapan orangtua atau orang dewasa lain yang dianggap aman oleh anak.
  2. Tantrum sering terjadi saat perasaan anak di luar kendali.
  3. Jika ditangani sejak dini, tantrum akan berkurang dengan sendirinya
  4. Kira-kira tiga perempat dari semua tantrum terjadi di rumah, tetapi tantrum terburuk sering terjadi di tempat umum.
  5. Pada tantrum yang parah, wajah anak bisa membiru, mual, atau bahkan menahan napas hingga kehilangan kesadaran tetapi refleks alaminya memastikan ia segera bernapas kembali sebelum membahayakan tubuhnya.

Dikutip dari Children’s Hospital of Philadelphia, berikut ini adalah petunjuk yang paling tepat dan bermanfaat tentang cara mengatasi tantrum:

  • Tetap tenang.
  • Terus lakukan kegiatan Anda. Abaikan anak sampai dia lebih tenang dan tunjukkan aturan yang sudah disepakati bersama.
  • Jangan memukul anak Anda. Lebih baik mendekapnya dalam pelukan sampai ia tenang.
  • Cobalah untuk menemukan alasan kemarahan anak Anda.
  • Jangan menyerah pada kemarahan anak. Ketika orang tua menyerah, anak-anak belajar untuk menggunakan perilaku yang sama ketika mereka menginginkan sesuatu.
  • Jangan membujuk anak Anda dengan imbalan yang lain untuk menghentikan kemarahannya. Anak akan belajar untuk mendapatkan imbalan.
  • Arahkan perhatian anak pada sesuatu yang lain.
  • Singkirkan benda-benda yang berpotensi berbahaya dari anak Anda.
  • Berikan pujian dan penghargaan perilaku bila tantrum telah selesai.
  • Tetap jaga komunikasi terbuka dengan anak Anda.

Selamat mencoba Bunda…

 

Baca juga artikel menarik lainnya :

Efek Pelukan saat Anak Tantrum

Mengatasi Anak Pemarah





Batita Pra Sekolah