Buku IPA SD Berkonten ‘Vulgar’ Disita Polisi, ini Tanggapan Netizen

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Buku yang seharusnya menjadi sumber ilmu pengetahuan, malah dianggap mengandung konten porno hingga disita oleh polisi. Simak tanggapan netizen di sini.

Kepolisian Sektor Rao dikabarkan oleh jpnn.com telah melakukan penyitaan terhadap buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk murid kelas VI SD di Pasaman, Sumatera Barat.

Penyitaan ini dilakukan atas laporan dari masyarakat terkait peredaran buku yang dianggap meresahkan karena mengandung konten pornografi. Seperti dilansir jpnn.com, pihak sekolah juga mengaku resah dengan adanya buku tersebut.

“Sejumlah sekolah juga meminta kepada kita agar membentuk tim menelusuri keberadaan buku tersebut di seluruh SD di Kecamatan Rao. Mereka bersedia menyerahkan buku tersebut kepada polisi karena sudah meresahkan,” kata Kapolsek Rao AKP Syamsuir.

Buku IPA Murid Kelas 6 SD yang dianggap mengandung konten porno

Buku IPA Murid Kelas 6 SD yang dianggap mengandung konten porno

Tanggapan netizen

Seperti terlihat pada gambar di atas, buku IPA tersebut hanya menunjukkan saluran reproduksi manusia. Yang notabenenya wajar untuk dipelajari murid kelas 6 SD yang sudah berusia sekitar 10-12 tahun.

Lantas, ketika beredar di media sosial, berita tersebut langsung menuai kritik dari para netizen. Sebagian besar menganggapnya kebodohan dan ketakutan yang tidak rasional.

Berikut ini adalah beberapa tanggapan netizen yang beredar di media sosial;


Panduan pendidikan seksual untuk anak

Menurut Advocates for Youth, lembaga advokasi yang membantu para remaja bertanggungjawab atas kesehatan reproduksi dan seksual mereka, pendidikan seksual justru harus dimulai sedini mungkin.

Hal tersebut juga diuraikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP), guna mendukung pendidikan seksual yang komprehensif baik di rumah maupun di sekolah.

Panduan pendidikan seksual berdasarkan usia adalah sebagai berikut:

  • Anak usia 2 tahun sudah bisa menyebut organ tubuh, termasuk alat kelamin.
  • Usia 2 sampai 5 tahun sudah memahami dasar-dasar tentang reproduksi. Seperti laki-laki dan perempuan bisa membuat bayi bersama-sama, dan bayi tumbuh dalam rahim wanita. Selain itu pada usia ini anak juga harus mengerti tentang privasi di sekitar tubuh mereka. Mereka harus tahu bahwa orang lain tidak boleh menyentuh area pribadi mereka.
  • Usia 5 sampai 8 tahun sudah harus memiliki pemahaman dasar tentang preferensi seksual. Mereka juga harus tahu apa peran seksualitas dalam hubungan, konvensi sosial terhadap privasi, ketelanjangan, dan menghormati orang lain dalam hubungan.
    Juga diajarkan dasar-dasar tentang pubertas menjelang akhir rentang usia ini. Pemahaman anak terhadap reproduksi manusia juga harus mulai dikembangkan. Termasuk peran berhubungan seksual.
  • Usia 9 sampai 12 tahun. Pada usia ini, selain memperkuat semua hal di atas yang  telah mereka pelajari, anak juga harus memahami apa yang membuat hubungan yang positif dan apa yang membuat  hubungan negatif. Remaja juga harus belajar untuk menilai apakah penggambaran seks dan seksualitas di media adalah benar atau salah, realistis atau tidak, dan apakah mereka positif atau negatif.
  • Usia 13 sampai 18 tahun. Pada usia ini, para remaja umumnya mulai tidak terbuka. Sehingga mulai sulit untuk mengajarkan seksualitas kepada mereka. Namun, tetap berbicara kepada anak tentang hal-hal yang penting untuk mereka ketahui. Terutama tentang seks aman dan alat kontrasepsi, atau perihal menjaga untuk tidak berhubungan seksual sampai tiba waktunya.

 

Baca juga:

Inilah Panduan Pendidikan Seksual untuk Anak Menurut UNICEF dan WHO





Berita