Mengenal 3 jenis susu dijual di pasaran, mana yang terbaik?

lead image

Kenali perbedaan susu pasteurisasi, UHT dan susu bubuk berikut ini.

Siapa di antara Parents yang membiasakan keluarga untuk mengonsumsi susu? Tentunya termasuk anak di rumah? Sudahkah Parents memahami jenis susu termasuk susu pasteurisasi?

Seperti yang kita ketahui, susu memiliki ragam manfaat untuk kesehatan tubuh sehingga baik dikonsumsi setiap hari untuk mendukung tumbuh kembang anak. Namun, perlu digarisbawahi bahwa susu bukanlah pengganti makanan pokok, melainkan pendamping.

Sayangnya, sampai saat ini budaya mengonsumsi susu di Indonesia masih cukup rendah. Data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) tahu. 2017 menyebutkan, konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 16,5 liter per kapita per tahun.

Padahal, di pasar Indonesia sudah memiliki ragam susu yang bisa dipilih. Adanya beberapa pilihan produk susu ini tentu saja dibedakan berdasarkan tekstur dan proses pengolahannya.

Sudahkan Parents memahami dan menentukan mana susu terbaik untuk keluarga?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/susu pasteurisasi.jpg Mengenal 3 jenis susu dijual di pasaran, mana yang terbaik?

Belum lama ini, theAsianparent Indonesia berkesempatan bertandang ke pabrik dan peternakan susu Greenfields Indonesia di Malang.

Darmanto Setyawan selaku Head of Dairy Manufacturing Southeast Asia, PT Greenfields Indonesia menerangkan beberapa jenis susu yang perlu Parents ketahui:

1. Susu Pasteurisasi

Dijelaskan oleh Darmanto Setyawan, bahwa susu pasteurisasi merupakan proses paling sederhana agar susu bisa dikonsumsi.

Proses pasterurisasi bisa dibilang, mirip dengan proses Parents memasak susu murni di rumah.

Namun, dikarenakan proses pemanasannya tidak membutuhkan suhu yang tinggi dan proses lama, maka susu ini perlu treatment yang berbeda dibandingkan dengan susu UHT.

“Karena prosesnya sederhana, susu pasteurisasi tak dapat bertahan lama dalam suhu ruang, sehingga perlu usaha penyimpanan ekstra, meski kandungan nutrisinya paling mendekati susu segar,” ujar Darmanto.

Selain itu, Darmanto menjelasan bahwa alasan lain susu paesteurisasi tidak bisa bertahan lama disebabkan karena tidak semua bakteri yang ada di dalam susu mati.

2.Ultra High Temperature (UHT)

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/susu pasteurisasi 1.jpg Mengenal 3 jenis susu dijual di pasaran, mana yang terbaik?

Parents tentu sudah cukup familiar dengan jenis susu ini bukan?

Susu UHT merupakan salah satu jenis susu yang mudah ditemui di pasaran. Susu UHT merupakan kepanjangan dari Ultra High Temperature, artinya susu UHT ini telah lebih dulu melewati proses produksinya dengan susu tinggi, 135-140 derajat Celsius dalam waktu 2-4 detik saja. Karena suhunya yang tinggi, semua bakteri atau mikroorganisme pun mati.

Selain mematikan seluruh bakteri, pemanasan dengan suhu tinggi membuat enzim yang terdapat dalam susu juga dinonaktifkan. Proses tersebut membuat susu UHT dapat tahan lebih lama tanpa pendingin.

Susu ini sendiri termasuk salah satu susu jenis susu favorit keluarga Indonesia. Maklum saja, setelah dikemas dengan teknologi dari TetraPak, susu UHT memang mudah dinikmati setiap saat

Selain itu, susu UHT juga bisa bertahan di susu udara normal, tanpa perlu dimasukan ke dalam lemari pendingin. Bahkan, susu UHT bisa bertahan hingga satu tahun.

Namun, saat susu UHT sudah diminum atau kemasannya terbuka, maka perlu disimpan di lemari pendingin untuk menghindari terpapar dari bakteri.

3. Susu Bubuk

Nah, salah satu jenis susu yang akrab dengan kehidupan Parents tentu saja susu bubuk.

Sama dengan jenis susu lainnya, susu bubuk juga dibuat dari susu segar. Namun susu bubuk memerlukan proses yang lebih lama lagi karena suau perlu melewati proses pengeringan lebih dulu. Hal inilah yang menyebabkan teksturnya menjadi kering seperti bubuk.

Susu bubuk juga tersebut diolah menggunakan suhu yang tinggi, yaitu 200 derajat celsius. Mengingat proses pengolahannya cukup panjang, otomatis kandungan enzim ataupun nutrisinya banyak yang menghilang. Oleh karena itulah diperlukan proses fortilisasi, yaitu penambahan nutrisi ke dalam susu bubuk agar kandungan gizinya tidak berubah.

 

Soal yang mana jenis susu terbaik buat anak, semua itu tergantung dari pilihan Parents dan kesukaan anak. Yang terpenting, semua nutrisi anak tercukupi agar perkembangannya bisa tumbuh optimal.

 

Baca juga:

Benarkah susu UHT tanpa pengawet? Ini faktanya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.