Lahir Prematur, anak Surya Saputra pakai kacamata di usia 2 tahun

lead image

Bayi kembar prematur yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu lebih cenderung memiliki masalah kesehatan.

Seperti anak kembar pasangan Cynthia Lamusu dan Surya Saputra, yang lahir prematur di usia kandungan 33 minggu. Anak laki-laki yang bernama Artharva Bimasena Saputra (2 tahun) sekarang ini menderita gangguan mata.

Gangguan mata yang diderita Bima sapaannya, ini bisa memberikan beberapa dampak buruk jika tak segera ditangani, paling parah adalah kebutaan. Kini, Bima yang baru berusia dua tahun, terpaksa harus mengenakan kacamata karena terkena gangguan Aggressive posterior retinopathy of prematurity (AP-ROP). Menurut Surya Saputra, hal itu dikarenakan salah satu anak kembarnya itu lahir secara prematur.

“Minus itu akibat dari kondisi AP-ROP karena waktu itu kelahiran dia yang prematur. Jadi prematur di-scanning full dan akhirnya ketahuan bahwa Bima itu kena AP-ROP,” ucap Surya Saputra, saat ditemui di Grand Indonesia, kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/44640574 1940103579627848 5251485439423938560 n.jpg Lahir Prematur, anak Surya Saputra pakai kacamata di usia 2 tahun

Keluarga Surya Saputra dan Cynthia Lamusu (foto : Instagram)

Meski begitu, Surya menambahkan bahwa ia dan Cynthia tak masalah anaknya wajib mengenakan kacamata karena hal itu adalah solusi terbaik saat ini. “Tapi kami enggak ada masalah mata (anak) minus karena bisa pakai kacamata, yang penting dia masih jelas lihat warna, dia masih tahu ‘red, merah; biru, blue’ bentuk pun gitu, dia bilang, panah, bulat, kotak, yang penting itu dia tahu,” ungkap Surya Saputra.

Sementara Cynthia mengaku bahwa ia dan Surya perlahan mulai membiasakan putranya untuk mengenakan kacamata. “Awalnya itu sempat dia minta lepas terus karena enggak nyaman, tapi lama-lama dia mulai terbiasa,” ucap Cynthia saat ditemui di lokasi yang sama.

Sempat lakukan operasi kecil

Surya Saputra mengatakan untuk mengatasi masalah gangguan mata ini Bima sempat menjalani operasi kecil beberapa waktu lalu. “Jadi itu udah ada penanganannya, ada operasi kecil. Alhamdulillah sekarang matanya sehat, bisa lihat. Meski harus pake kacamata minus,” kata Surya.

Sejak itu, Surya dan istrinya Cynthia Lamusu, harus bolak-balik ke dokter untuk mengecek kesehatan Bima. Meski demikian Surya mengaku tidak terlalu risau dengan hal itu. Dia lebih mengkhawatirkan tumbuh kembang anak untuk ke depannya.

“Saya pikirkan adalah bagaimana tumbuh kembangnya Bima ini lebih baik. Karena kalau enggak pakai kacamata pasti akan burem. Kalau burem pasti akan berpengaruh nanti belajarnya,” kata Surya.

Lantas apakah gangguan pada mata tersebut bisa pulih seperti sediakala? “Kalau soal itu saya enggak tahu. So far sih so good, enggak ada masalah. Doakan saja sampai dewasa nanti tidak ada masalah,” kata dia.

Kelahiran prematur berisiko terkena penyakit kardiovaskular

Sebanyak 90 persen bayi yang lahir sebelum 33 minggu, bisa selamat, dan pulang ke rumahnya. Namun, sayangnya mereka yang pulang ini masih harus menanggung dampak kelahiran prematur hingga dewasa, yakni risiko sakit parah di kemudian hari. Mereka yang kategori prematur adalah hanya 32-34 minggu di dalam kandungan dari seharusnya 40 minggu.

Responden prematur direkrut dengan bantuan Bliss, sebuah badan amal untuk membantu bayi prematur di Inggris. Para peneliti menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan teknik pembuatan profil kimia lanjutan untuk menyelidiki perbedaan biologis pada remaja yang lahir prematur.

Spektroskopi resonansi magnetik nuklir (NMR) menunjukkan perbedaan dalam susunan kimia urin mereka. Subjek prematur menghasilkan lebih banyak metabolit yang terkait dengan peradangan, tekanan darah tinggi, dan penumpukan lemak yang lebih besar. Relawan yang lahir prematur, memiliki tekanan darah lebih tinggi dibanding mereka yang lahir normal.

Profesor Neena Modi, peneliti utama dalam studi ini menyarankan pemantauan kesehatan bayi prematur saat masa kanak-kanak dan remaja. Pria dan wanita prematur mungkin berisiko lebih besar terkena penyakit kardiovaskular dan metabolik. Namun, kemungkinan tersebut dapat diminimalisir dengan melihat tanda-tanda penyakit sejak dini dan menjaga mereka tetap sehat dengan mengatur pola hidup, dan pengobatan yang sesuai.

“Ini hanya sebuah penelitian kecil tapi perbedaan yang kami temukan cukup mengejutkan,” katanya.

 

Sumber : Kompas 

Baca juga :

Ibu ini berbagi kisah suka duka merawat bayinya yang lahir prematur

Keguguran dan kehilangan 3 bayi prematur, akhirnya ibu ini bisa memiliki anak yang sehat

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.