Surat Terbuka Seorang Ibu, “Ketika Kau Merasa jadi Ibu yang Gagal…”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Surat terbuka seorang ibu ini akan membuka mata bahwa kita harus saling menghargai dan berhenti menghakimi. Karena sesungguhnya tidak ada ibu yang gagal.

Seorang ibu menulis surat terbuka tentang keadaan para ibu yang sering dianggap gagal maupun menganggap diri sendiri gagal. Lewat surat terbuka, ia menyampaikan bahwa menghakimi seorang ibu dalam melakukan tugasnya itu bukanlah sesuatu yang bijak.

Berikut surat terbuka yang ia tulis di Facebooknya:

Sejak awal hamil mual hebat, di tengah kehamilan pun sempat beberapa kali pendarahan, dan terpaksa harus menjalani operasi caesar saat persalinan. Kemudian orang-orang sekelilingmu mulai meracau menyalahkan. Bahwa kau kurang ikhtiar, atau tak menjaga kesehatan selama kehamilan, bahkan ada yang bilang kau kurang iman.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil dan persalinan lancar, tapi entah kenapa begitu IMD ASI tak juga mau keluar, bahkan sehari dua hari hingga batas waktu terakhir ASI diberikan. Lalu susu formula pun menjadi alternatif yang terpaksa kau pilih dengan penuh pertimbangan. Tiba-tiba orang yang tak tahu apa-apa menghakimimu sebagai ibu yang tak sempurna karena tak menjalankan amanat Menteri Kesehatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, hingga menyusui lancar. Tapi kau meninggalkan bayi mungilmu yang baru berusia 3 bulan itu untuk sebuah pekerjaan yang gajinya menjadi sandaran hidup emak bapak di kampung halaman.

ASI yang susah payah kau perah demi bayimu itu mereka bilang tak bisa disamakan dengan ASI yang langsung disusukan. Pun ditambah komentar sinis bahwa anak-anak para ibu bekerja adalah anak yang terabaikan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau hamil, persalinan, menyusuimu lancar, kau juga seorang ibu rumah tangga sejati yang menjiwai peran. Tapi kau tak mengilmui MPASI homemade ala-ala WHO atau BLW atau Food Combining yang sedang tenar.

Kau lebih memilih membeli MPASI instan yang dijual di pinggir jalan agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu menemani anak bermain dan menstimulasi dengan berbagai kreasi seharian. Lalu berbagai komentar berdatangan akan nilai gizi, rasa, higenitas dan kemasan makanan. Mereka bilang, buat anak kok sembarangan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau ibu baru yang tak tahu centang perenang dunia parenting kekinian. Marah-marah menjadi kegiatan harian saat anak rewel tak keruan. Hingga akhirnya kau dipertemukan dengan pakar parenting terbarukan atau kau membaca buku parenting yang mengagumkan.

Lalu kau berkaca diri, menghitung ratusan omelan dan bentakan yang sempat dikeluarkan. Tiba-tiba kau merasakan penyesalan menyesapi setiap ruang di hati dan pikiran.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh mengikuti setiap postingan pakar parenting kesayangan. Pun membaca berbagai buku parenting yang bertengger rapi di rak bukumu jejer-berjejeran. Tapi kau punya innercild yang belum berhasil kau taklukkan. Hingga bayang kelam pengasuhan masa lalu masih lebih mendominasi setiap perkataan dan perbuatan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

Atau kau sungguh-sungguh mengerti segala teori parenting, pun semuanya telah kau praktekkan. Tapi anakmu sungguh menguji iman. Kau rasa seakan tak ada teori parenting manapun yang mempan. Padahal kau dan suami telah memberikan sebaik-baik teladan.

Lalu kau merasa menjadi ibu yang gagal.

***

Hai para ibu kesayangan Tuhan

Pervaginam atau caesar, ASI atau susu formula, bekerja di luar rumah atau ibu rumah tangga, MPASI homemade atau instan, dan berbagai gaya parenting yang diterapkan sungguh tak bisa menjadi ukuran keberhasilan.

Setiap ibu menjalani kisah heroik pengasuhannya sendiri-sendiri. Yang unik, yang berbeda satu sama lain, yang mengagumkan, yang pada saatnya nanti meninggalkan kesan di memori.

Setiap ibu memiliki perjuangan dan jalan cerita dalam membersamai anak yang tak sama. Seorang ibu mungkin berhasil menerapkan teori parenting A, tapi bisa jadi teori yang sama tidak bekerja di kondisi keluarga yang berbeda.

Anak yang tak semontok anak lain yang seumuran, tak segesit anak tetangga depan, atau tak sepandai anak temen fesbukan barangkali pernah mengusik pikiran. Tapi ingatlah bu, itu bukan berarti kau ibu yang gagal.

Sungguh menjadi ibu bukanlah kompetisi siapa yang anak nya lebih sehat, lebih pintar, lebih shaleh. Menjadi ibu adalah semua perjalanan yang kau lalui bersama anakmu dengan segala jatuh bangunnya, suka dukanya.

Mungkin kau rindu pada rumah yang selalu rapi. Padahal anakmu sungguh menikmati kesempatan yang kau berikan di setiap sudut rumah yang kau bolehkan menjadi tempat bermain dan bereksplorasi.

Mungkin kau merasa bersalah tak mampu memberikan ASI setiap hari. Padahal anakmu merasa nyaman saja berada dipelukmu sambil kau cium pipinya kanan kiri.

Mungkin kau merasa bodoh tak mengilmui berbagai teori parenting masa kini. Padahal instingmu sebagai ibu dan bonding yang kau bangun dengan bayimu sungguh lebih berarti.

Apapun kekurangan mu sebagai ibu. Bagaimana pun jatuh bangun kau rasakan kala menjadi ibu. Percayalah selalu ada tatapan kagum yang tulus di mata, hati, dan pikiran anakmu.

Yang memerhatikan kekhawatiranmu saat sakit menyerangnya.
Yang memedulikan rasa bersalahmu saat kau pamit berkerja.
Yang memaafkanmu saat kau masih perlu menata hati dan jiwa.
Yang melihatmu jatuh bangun mengurus rumah tangga dan dirinya.
Yang bahagia melihat senyummu merekah indah untuknya.
Yang tuluuuuus mencintaimu apa adanya.

Bangun, dan bangkitlah, ibu.
Hapus air mata dan kesedihanmu.
Buang resah dan khawatir yang ada di hatimu.
Buat segala lelahmu menjadi pahalamu.
Peluuk eraat, ciuum, katakan maaf dan terimakasih pada anakmu.
Dan dengan sungguh-sungguh, bisikkan di telinga anakmu itu
I love you

Because our children don’t need a perfect mom. They need a happy one for happy moms raise happy kids.

~Novika Amelia ~

Apa yang ia tulis mementahkan anggapan bahwa, ‘Pasal satu: perempuan selalu benar. Jika perempuan salah, maka kembali ke pasal satu’. Sekalipun hanya ungkapan bercanda belaka, banyak juga yang meyakini bahwa perempuan memang egois seperti itu dan selalu ingin merasa benar sendiri.

Padahal kenyataannya, jika terjadi apa pun dalam rumah tangga, persoalan anak, persoalan keamanan, maka yang akan disalahkan adalah perempuan itu sendiri.

Novika Amelia mengaku bahwa tulisan di atas terinspirasi dari obrolan para Book Advisor Tim Cetar yang saling berbagi tentang pengalamannya menjadi ibu. Ada yang pernah dikata-katai bahwa dia bukan ibu sejati hanya gara-gara saat melahirkan memilih operasi caesar.

Bahkan ada yang dikatai sebagai pembawa virus caesar karena sejak dia melahirkan dengan operasi caesar, banyak tetangganya yang kemudian mengalami masalah saat melahirkan dan akhirnya berakhir di meja operasi. Sedih rasanya diejek seperti itu.

“Ada juga yang berbagi cerita tentang pengalaman menyusui yang gak semudah keliatannya karena dia mengalami inverted nipple (puting datar) sampai bingung bagaimana memberi asupan bergizi buat bayinya. Meski sudah ke ahli laktasi, masalahnya tetap tidak terselesaikan. Akhirnya dengan sangat terpaksa dia memberikan susu formula,’ ujar istri dari Andriansyah ini.

Artikel terkait: “ASI yang Tidak Keluar Membuatku Merasa Gagal Sebagai Ibu…”

Ia bercerita bahwa temannya punya kisah beragam seputar anak dan rumah tangga. Misalnya, ada yang sampai trauma melahirkan dan menyusui, ada juga yang punya anak berkebutuhan khusus karena terkena virus rubella saat hamil, ada yang bayinya meninggal saat lahir, dan berbagai cerita menarik dan penuh hikmah lainnya.

“Itulah yang membuat saya mengerti bahwa setiap ibu memiliki pengalaman dan perjuangannya masing-masing.”

Ia sendiri pernah mendapatkan tanggapan yang kurang menyenangkan dari orang terdekat saat mengatakan bahwa dirinya mau resign dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

“Banyak yang menyayangkan potensi saya yang menurut mereka bisa lebih berkembang jika bekerja di luar rumah. Dan menganggap ibu rumah tangga adalah pilihan yang bodoh. Termasuk dari ibu saya sendiri,” ucapnya sedih.

Ibunya mengangap bodoh dalam artian, kenapa tidak mau memaksimalkan potensi diri dan memilih berjuang di jalan sunyi tanpa pundi-pundi rupiah yang mewarnai?

“Padahal alhamdulillah, saya bisa tetap berpenghasilan dari rumah dengan menjadi penulis dan book advisor.”

Karena itulah ia memilih untuk tidak menghiraukan semua komentar negatif tentang dirinya dan fokus pada kebahagiaannya sendiri.

Menurutnya, ibu yang sering menghakimi ibu lainnya adalah mereka yang kurang bisa berempati pada kesulitan sesamanya. Selain itu, kurangnya ilmu pengetahuan tentang banyaknya persoalan kesehatan yang ada membuat seseorang bisa merendahkan orang lain yang kondisinya tidak sebaik dirinya.

Yang terakhir, seorang ibu menghakimi yang lainnya karena perbedaan latar belakang sosial ekonomi. Memiliki teman yang beragam akan membuat seseorang memiliki pandangan lebih luas sehingga bisa maklum dengan lainnya.

“Sejujurnya, saya pernah ada di tahapan ibu yang mencela ibu yang lain. Alhamdulillah, Allah pertemukan saya dengan komunitas Book Advisor yang isinya para ibu brilian dari berbagai latar belakang. Ada IRT cerdas yang menginspirasi lewat tulisan-tulisannya.”

Ibu dari Qairina Novandra ini melanjutkan, “Ada ibu bekerja yang mampu mengerjakan double perannya di rumah dan di kantor dengan sangat baik. Ada berbagai cerita yang sangat menambah pengetahuan dan wawasan saya tentang kehidupan setiap ibu dengan berbagai keunikannya.”

Ia menjelaskan bahwa sejak itulah, ia jadi punya sudut pandang lain dalam menilai seorang ibu, “Bahwa kita, tak pernah tau, kesusahan apa yang pernah dialaminya. Alasan apa yang ada di balik pilihan perannya. Oleh karena itu, kita sama sekali tak punya hak menghakiminya.”

Untuk menghindari stres dari pilihan yang pernah diambil, Novika memilih untuk membuktikan bahwa ia bahagia dengan pilihannya. Ia berharap nantinya para ibu lain pun akan begitu.

“Kita sungguh-sungguh menjalankan peran kita. Kita punya alasan yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.  Maka Insya Allah, beliau-beliau mau mengerti. Jika tidak, serahkan saja semua pada Allah. Hanya padanya kita memohon pertolongan dan ketenangan hati,” tutup ibu yang punya hobi menulis ini.

Yuk, Bunda, mulai sekarang kita harus berhenti menghakimi ibu-ibu lain yang berbeda pilihan dan pandangan dengan kita.

 

Baca juga:

“Stop Menghakimi! Apapun Gaya Parenting yang dipilih, Anda adalah Ibu yang Baik”

 





Kisah Mengharukan