Surat Istri Pada Suaminya, “Suamiku, Maaf, Aku Sudah Banyak Berubah…”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Ketika punya anak, seorang wanita menjadi ibu, istri, pengasuh, koki, manager, dan banyak pekerjaan lainnya yang membuatnya jadi sosok yang berbeda dari ia saat masih gadis dulu.

Ada banyak perubahan yang terjadi ketika seorang perempuan telah menjadi istri dan ibu. Mereka adalah sosok yang berbeda dari wanita yang dulu suami nikahi.

Jika suami menyadari bahwa perlahan wanita yang ia nikahi mulai berubah, maka hal itu memang benar terjadi. Gadis muda yang dinikahi dulu, kini jadi seorang istri dan ibu yang memiliki tanggung jawab besar dalam rumah tangga.

Laura Birks menyadari hal itu sepenuhnya. Di usia pernikahannya yang menginjak 11 tahun, ia menulis surat untuk suaminya. Ia harus berkata jujur padanya bahwa ia bukanlah wanita yang dulu lagi.

Berikut isi surat Birka:

Suamiku tersayang,

Aku minta maaf.

Aku menyesal telah mengabaikanmu selama 4,5 tahun. Aku menyesal telah menjadikan keperluan-keperluanmu sebagai peringkat kedua.

Aku bersumpah, kamu masih menjadi prioritas utama dalam hidupku. Hanya saja, saat ini memang tidak menempati prioritas puncak lagi.

Aku tahu bahwa kamu pun memiliki kebutuhan, keinginan, impian, dan ambisi. Ketika aku memberitahumu bahwa aku ingin menjadi seseorang yang kamu jadikan tempat bersandar, aku benar-benar serius soal itu.

Aku tahu kau capek mendengar alasan mengapa aku selalu merasa lelah dan sakit kepala. Atau ketika aku sudah terlelap ketika kamu meringkuk di samping tempat tidurku.

Percayalah, aku berharap aku punya energi yang sama dengan yang aku punya lima tahun yang lalu. Sialnya tidak.

Aku berharap aku punya energi yang aku miliki dua minggu yang lalu ketika aku mencuci, melipat, dan menyelesaikan 10 ember cucian.

Tentu saja, kamu tidak melihat itu semua karena aku membiarkanmu mendapatkan durasi tidur yang cukup.

Kita tahu bahwa apa yang kita jalani lebih tampak seperti hubungan bisnis. Dan kau benar. Beberapa hari - bahkan minggu - rasanya memang seperti itu.

Aku selalu ingin melakukan hal terbaik untuk kita. Karena kita sangat bagus melakukannya bersama.

Masalahnya adalah, hidupku, otakku, dan tubuhku begitu sibuk dengan menjadi seorang ibu bagi mereka, anak-anak kecil yang tampak persis seperti mu.

Bahkan setelah mereka tertidur lelap dan kita sedang duduk di sofa menonton film, otak ku masih dalam mode ibu.

Aku berpikir tentang besok. Aku sedang berpikir tentang 10 tahun dari sekarang. Aku ingin tahu apakah kamu memiliki pakaian kerja untuk besok.

Aku khawatir tentang uang, perkembangan tubuh dan susu. Apakah kita memiliki cukup susu?

Aku tidak bisa berhenti berperan sebagai seorang ibu. Ini adalah diriku saat ini, itulah adanya secara fisik, emosional, dan mental yang melelahkan.

Aku tidak ingin kamu berpikir bahwa kamu tidaklah sepenting dahulu. Aku tidak bisa menjalani hidup ini tanpamu dan aku tidak ingin, begitupun sebaliknya.

Tapi fakta sederhana adalah, kamu sudah dewasa dan kamu dapat melakukan hal-hal untuk diri sendiri.

Kamu bisa membuat makan siang sendiri. Secara hukum kamu juga bisa mengendarai mobil, sehingga kamu bisa tahu bagaimana caranya untuk membuat janji dengan dokter.

Sayangnya, ketika kamu pulang kerja, kamu selalu bertemu dengan versi terburuk dariku. Anak-anak kita lah yang mendapatkan versi terbaikku.

Rahasia ya: Kadang-kadang, selama beberapa hari, selalu ada versi terbaik diriku. Namun kadang juga tidak ada versi terbaik dari diriku.

Aku tidak bisa mengkhawatirkan kesehatanmu, kesehatan anak-anak, kesehatan hewan peliharaan, dan kesehatanku.

Siapa yang kamu pikir jadi yang paling terabaikan? Bukan, bukan kamu.Bukan pula anak-anak kita maupun hewan peliharaan kita.

Ketika aku mengatakan padamu bahwa aku tidak sedang baik-baik saja, atau ketika aku belum tidur, itu karena aku belum merawat diri sendiri.

Kamu memang memberitahuku untuk segera pergi ke dokter, makan teratur, minum lebih banyak air, dan sebagainya. Tapi aku adalah prioritas terakhirku.

Aku tahu bahwa aku harus mengubah itu dan aku tidak mengeluh soal itu. Aku hanya menjelaskan bahwa ketika kita harus memberikan sesuatu, namun tidak ada satu orangpun yang dapat melakukan semuanya, maka aku lah yang akan melakukannya.

Aku khawatir tentang apnea tidurmu, alergimu, dan kejang lututmu. Aku khawatir tentang ruam yang Alex miliki, dan hidung beringus yang tiba-tiba saja dimiliki oleh Ben.

Aku prihatin tentang telinga anjing kita dan berapa banyak biayanya jika membawa ia ke dokter hewan. Ketika aku sedang berpikir tentang hal itu, aku khawatir bahwa ikan kita memiliki terlalu banyak lumut dalam tangki mereka dan airnya perlu diganti.

Halaman berikutnya: Kau adalah orang yang paling peduli dengan semua orang di banding dengan siapapun.

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Mengharukan