Terharu! Surat ibu untuk anak pertamanya ini sangat menyentuh

lead image

Seorang ibu menulis sebuah surat untuk anak pertamanya. Dalam surat ibu itu, ia mengungkapkan bagaimana setiap momen bersama si kecil adalah kenangan yang tak terlupakan.

Saat usia anak mulai bertambah besar, pasti begitu rindunya Anda pada masa-masa saat ia masih tak berdaya dalam gendongan Anda. Kemudian Anda berpikir, mengapa waktu berlalu begitu cepat? Kerinduan ini juga tertuang dalam sebuah surat ibu yang sangat menyentuh, yang ditulis khusus untuk anak pertamanya.  

Artikel terkait: Surat terbuka dari bayi baru lahir untuk para orangtua agar selalu kuat

Surat ibu untuk anaknya mengungkapkan momen tak terlupakan

Dalam surat ibu yang menyentuh itu, tertulis:

“Aku tidak akan lupa”

“Kamu mungkin tidak mengingat detail kehidupan yang kamu jalani sebelum kehadiran adikmu. Tapi, aku akan mengingatkannya, dan itulah tujuanku menulis surat ini. Aku adalah penjaga yang akan mengingat kenanganmu yang terlupakan, dan aku pun tidak akan pernah melupakannya.

Baru-baru ini, aku menemukan foto lama anak sulungku. Ia baru berusia 6 tahun sekarang. Tapi ketika aku melihat fotonya beberapa tahun lalu itu, aku merasa emosional.

Ke mana pipi tembam dan paha mungilnya pergi? Ke mana senyum menggemaskan yang memperlihatkan pipi ompongnya itu? Melihatnya, aku merasa tak berdaya.

Mengapa semua itu pergi begitu cepat?

Sekarang, dia adalah kakak laki-laki yang (agak) bertanggung jawab dan mampu mengatasi amukan adik laki-lakinya. Ia baik-baik saja, tetapi tidak terlalu percaya diri seperti adiknya yang berusia empat tahun.

Tetapi orang-orang memberi tahuku bahwa anakku  hanya akan mengingat seperti apa kehidupannya  sekarang, kehidupan kami berempat sebagai keluarga yang bahagia.

Hal itu mungkin benar. Dia tidak akan mengingat secara detail sebelum adiknya masuk ke dalam kehidupannya dan menjadikan kita sebuah keluarga yang lengkap.

Tetapi, aku tidak akan pernah melupakan saat ketika kami hanya bertiga dan aku ingin memberi tahumu tentang hal-hal yang akan selalu aku ingat tentang anak laki-laki pertamaku yang manis:

Melalui surat ibu ini, aku akan selalu ingat tentang masa ‘kekosongan’ yang pernah aku rasakan. Ketika aku mencoba hamil, tahun demi tahun. Sakit hati dan kecewa pernah menghampiri karena siklus demi siklus perawatan IVF yang gagal.

Aku tidak akan pernah melupakan hari ketika aku dan ayahmu berpikir bahwa kehamilan hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan terwujud, ketika kami mulai mencari pilihan lain, seperti adopsi dan surogasi (surrogacy).

Saya tidak akan lupa.

Melalui surat ibu ini, aku akan selalu mengingatkan tentang kegembiraan yang tak terlukiskan dan penuh air mata ketika akhirnya aku melihat dua garis biru itu.

Aku menelepon ayahmu di kantornya, memberi tahu resepsionis bahwa ini adalah “panggilan darurat”, dan memintanya pulang, saat itu juga. Banyak tes kehamilan berikutnya yang saya ambil, hanya untuk memastikan bahwa kehadiranmu nyata.

Pertama aku melihat sosokmu pada layar USG, yang menegaskan keberadaanmu. Bahagianya tetap kurasakan meski mual menyerang, karena itu berarti sosokmu ada di sana dan sedang berkembang.

Dalam surat ibu ini, ibu ingin mengingatkanmu betapa bahagianya saat kamu menendang perut ibu. Ketika kamu yang masih merah lahir dan diletakkan pada dada ibu untuk pertama kalinya untuk tegukan makanan pertamamu, hal itu membiusku.

Aku tidak akan lupa…

Ibu selalu mengingat hari-hari yang panjang dan indah ketika hanya berdua denganmu, berjalan-jalan, berpelukan, ketika menyusui, kamu menatap ibu dengan mata indahmu.

Senyum pertamamu, wajah kocakmu ketika mencoba makanan padat untuk pertama kalinya.  Bagaimana kamu merangkak, langkah pertamamu, dan juga gigi pertama yang tumbuh tepat sebelum ulang tahun pertamamu. Serangkaian pengalaman pertamamu bagiku sangat membahagiakan.

Aku tidak akan lupa, dan mengingatkanmu dalam surat ibu ini.

Terima kasih, kamu memilihku menjadi seorang ibu bagimu. Mengajarkan ibu arti cinta yang sebenarnya, kebanggaan, suka cita dan juga sakit hati. Kau berhasil mengubah duniaku, hidupku yang kedua adalah saat kau dilahirkan, saat kau diletakkan di dadaku, bersimbah darah dan dengan kulit keriputmu.

Benar. Mungkin kamu tidak akan mengingat momen-momen ini. Ini terjadi waktu sebelum adikmu lahir.

Kamu tidak akan ingat bahwa aku dan ayahmu pernah memberi cinta dan perhatian yang tak terbagi-bagi seperti sekaramg. Mungkin, inilah yang membuat sifatmu manis dan murah hati sekarang.

Kamu mungkin tidak ingat kehidupan itu… Tetapi, melalui surat ibu ini, aku memberitahunya untukmu.

Aku penjagamu, dari kenangan yang kamu lupakan. Dan aku, tidak akan pernah lupa.

Mohon jangan lupakan itu, jangan pernah.”

 

Apakah Bunda juga terharu membacanya? Bagi di kolom komentar ya, Bun!

 

Dilansir dari artikel Nalika Unantenne di theAsianparent Singapura
Baca juga: 

Surat Terbuka Seorang Ibu, "Ketika Kau Merasa jadi Ibu yang Gagal…"

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.