“Tolong Jangan Berteriak Kepadaku”; Surat Curahan Hati Anak untuk Orangtuanya

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Sering kita tak menyadari telah melukai hati anak dengan berteriak padanya, surat pada orangtua ini akan menyadarkan kita bahwa membentak anak adalah salah.

Anak-anak selalu ingin mendapatkan perhatian dari orangtuanya, iapun melakukan berbagai cara untuk memenuhi tujuan tersebut. Namun saat orangtua sedang memusatkan perhatian pada hal lain, tingkah anak yang mencari perhatian akan terasa mengganggu. Hingga tak sadar orangtua akan berteriak atau membentak sang anak.

Anak mungkin akan diam, namun dalam hatinya ia menyimpan luka. Berikut ini adalah sebuah surat pada orangtua dari anak yang telah dibentaknya, seperti dilansir dari The Method Mother.

Ayah dan Bunda berkomunikasi denganku dan juga berhubungan denganku melalui banyak cara, lebih banyak dari yang Ayah dan Bunda sadari

Dengan matamu, saat kau melihat gambar ikanku yang berharga

Dengan telingamu, ketika kau mendengarkan aku menyanyi tentang kadal

Dengan sentuhanmu, pabila kau memberiku pelukan selamat malam, dengan pelukan yang erat untuk kesebelas kalinya

Dengan suaramu, saat kau memberitahuku betapa kau mencintaiku apa adanya.

Perhatianmu laksana obat bagiku. Aku mendambakannya secara terus menerus. Aku akan menerima apapun pengakuan yang bisa kudapat, kapanpun itu.

Tapi, aku ingin kau tahu bahwa reaksimu tidak selalu apa yang aku cari

Aku mungkin merecokimu dengan gambar kehidupan laut, saat kau punya hal penting untuk dicari di internet

Mungkin aku membuatmu kesal dengan lagu baruku, saat kau sedang bicara di telepon

Mungkin aku membuatmu terganggu ketika aku meminta satu pelukan lagi untuk membantuku menghadapi malam yang panjang dan gelap

Mungkin aku membuatmu frustasi saat aku tidak mendengarkan permintaanmu untuk diam karena aku terlalu asyik menjadi anak-anak

Lalu kau berteriak padaku…

Tapi aku masih kecil, dan aku masih belajar bagaimana caranya terhubung denganmu. Aku ingin melakukan yang terbaik semampuku, aku mati-matian berusaha menyenangkanmu

Jadi aku mohon padamu…

Tolong jangan berteriak padaku

Karena lengkingan suaramu membuatku bersembunyi ke dalam diriku, dimana aku merasa tenang dan aman. Di tempat paling dalam, dimana kata-katamu tak bisa menyentuhku

Tolong jangan berteriak padaku

Karena saat kau perlu mengingatkanku untuk mewaspadai bahaya, aku tidak akan bisa mendengarmu. Dan aku tidak akan punya waktu untuk bereaksi

Tolong jangan berteriak padaku

Sebab aku mulai belajar bahwa berteriak adalah cara yang normal untuk berkomunikasi dengan orang lain. Kau mengajariku cara terbaik mengekspresikan diri saat aku ingin semua berjalan sesuai kehendakku

Tolong jangan berteriak padaku

Karena ini sangat membingungkan saat kau memberitahuku bahwa aku tidak boleh berteriak pada orang yang berteriak kepadaku. Sangat tidak adil, dan begitu ironis

Tolong jangan berteriak padaku

Sebab aku tahu bahwa aku melakukan kenakalan, tapi itu tak menjadikanku orang yang nakal. Ketika kau mencapku seperti itu, apakah kau sadar bahwa aku akan membawa kalimat tersebut bersamaku selamanya?

Tolong jangan berteriak padaku

Karena matamu yang garang, dan lidahmu yang tajam secara perlahan membuatku yakin, bahwa mungkin aku tidak berharga sama sekali. Mungkin aku tidak dikagumi, dan mungkin aku tidak layak untuk dicintai

Tolong jangan berteriak padaku

Sebab aku tidak bisa lagi mendengar suaramu yang berbicara normal. Semuanya tersaring, dan aku hanya bisa mendengar teriakanmu sekarang

Karena aku tahu bahwa teriakan itu ditujukan padaku

Dan aku sungguh berharap bahwa teriakan itu bukan untukku

Berteriak pada anak, akan memberikan dampak negatif pada perkembangan psikologisnya. Oleh karena itu, berusahalah untuk tidak berteriak kepada anak walau tingkahnya sangat menganggu.

Mari jadi orangtua yang penuh kasih sayang dan cinta, dengan tidak berteriak pada anak.

 

Baca juga:

Surat Kepada Ibu yang Pernah Memukulku saat Masih Kecil

 

 

 

 

 

 

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting Kisah Mengharukan