Surat Cinta Suami kepada Istri: “Kau Meninggalkanku dan Anak-anak Demi Pria Lain, tapi Aku Masih Mencintaimu”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Surat cinta suami pada istri yang masih dirindukannya ini sungguh menyentuh. Berjuang menghadapi rasa sedih karena ditinggalkan sang istri demi pria lain.

Surat cinta suami kepada istrinya yang telah pergi ini begitu menyentuh. Ia mengungkapkan kerinduannya pada sang istri meski mereka telah berpisah.

Kini, mantan istrinya telah bahagia dengan pria lain.

Surat cinta suami ini ditujukan pada istri yang telah meninggalkannya dan anak-anak mereka demi pria lain. Meski demikian, sang suami masih tetap mencintai istrinya.

Demi menjaga nama baik istrinya, surat cinta suami ini tidak menyebutkan nama siapa pun. Ia mengungkapkan segenap perasaannya,  menyatakan kerinduannya pada mantan istri yang masih sangat disayanginya.

 Aku pikir, kau pasti bertanya-tanya. Mengapa kau menerima sebuah surat cinta dari mantan suamimu, tapi dengarkan aku sejenak.

Aku tidak pernah pandai membuka diri, jadi sejak hubungan kita berakhir, aku menyimpan semua masalah sendirian. Bukan berarti aku tidak peduli atau tidak memiliki perasaan. 

Hanya saja, setiap kali aku mencoba bicara pada teman, atau kerabat. Aku merasa bahwa mereka tidak mengerti. Aku ingin mereka mengerti, bahwa kau tidak jahat. 

Aku ingin mereka memahami, bahwa kita dulu pernah bahagia. Dan kau akan selalu menjadi bagian dari diriku.

Kau menyakitiku, dan meninggalkan anak-anak kita tanpa ibunya. Namun aku masih mencintaimu. Tidak ada apapun yang bisa mengubahnya, bahkan sebuah hati yang patah sekalipun.

Aku benci apa yang kau lakukan. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa aku mencintaimu. Dan Aku bersyukur bahwa kau adalah ibu dari anak-anakku.

Aku masih merasakan keanehan, ketika bangun di pagi hari dan kau tidak berada di sampingku. Ampas kopi favoritmu masih berada di atas rak dapur kita, mereka seakan mengejekku. 

Namun, sudah lama aku telah mengucapkan selamat tinggal pada harga diriku. Kurasa, sebagian dari diriku tahu, bahwa keangkuhan dan harga diriku yang telah membuatmu jauh dariku.

Setiap pagi seperti ini, pertanyaan yang berulang terus muncul di kepalaku. Hal apa yang seharusnya bisa kulakukan lebih baik agar kau tidak pergi? Haruskah aku menjadi pendengar yang lebih baik?

Haruskah aku meyakinkanmu bahwa kau berarti besar bagiku? Dan layak untuk dicintai?

Ada banyak hal yang seharusnya bisa kuubah, dan banyak hal lain yang seharusnya tak kulakukan. Bertentangan dengan apa kata orang, kenyataan bahwa kau selingkuh, tidak membuatmu jadi seseorang yang buruk. 

Aku juga memiliki kesalahan. Aku menyadari hal ini, awalnya aku tak mampu mengakuinya. 

Sudah beberapa bulan berlalu, tetapi aku masih memutar kembali obrolan terakhir kita di kepalaku. Seperti sebuah film sedih yang aku tonton berulang-ulang, berharap bahwa akhir film akan berubah.

Aku juga sempat berpikir, apakah kenyataan ini akan lebih mudah dihadapi jika aku selingkuh lebih dulu. Namun aku tidak pernah menginginkan siapapun selain dirimu. 

Bagiku, kau adalah wanita tercantik yang pernah aku kenal. Tidak ada seorangpun, yang bisa membangkitkan perasaan mendalam di hatiku, seperti yang kau lakukan.

Aku akui bahwa aku masih berharap kau mengubah pikiranmu, bahkan setelah kau memilih pria lain itu. 

Aku tidak bisa mengatakan hal ini pada siapapun, karena mereka akan menertawakanku. Mengejekku, karena tidak cukup berani untuk mengumbar perasaanku di internet. Jadi, aku membiarkan surat ini tersebar secara anonim.

Tetapi, aku meyakini satu hal.

Aku cukup kuat untuk menjadi suami yang setia padamu, namun aku tidak cukup kuat untuk membuatmu tetap bersamaku. 

Suatu hari, aku akan berhenti menyalahkan diri sendiri, dan kekurangan diriku yang mengakibatkan kau pergi jauh. 

Aku tidak bisa menyalahkanmu, tak peduli betapa kau telah menyakiti hatiku, juga keluarga kita. Aku masih tetap ingin menunggumu, kembali padaku. 

Aku tidak peduli jika orang-orang memanggilku 'martir'. Aku akan tetap mencintaimu, hingga rasa sakit ini menghilang. 

Inilah caraku menghadapi rasa sakit karena kehilanganmu.

Aku tidak tahu apakah kau akan membaca surat ini. Kurasa surat ini lebih bertujuan untuk diriku sendiri. Sebagai cara untuk menyembuhkan diri. 

Mungkin satu saat, setelah aku menulis ribuan surat, aku bisa ikhlas melepaskanmu. Dan bisa bangkit melanjutkan hidupku.

Tetapi aku tidak bisa menghapusmu dari hidupku begitu saja. Bersamamu membuatku menjadi diriku yang sekarang.

Terlepas dari semua rasa sakit yang kau beri, aku akan tetap mensyukuri kenanganku bersamamu. 

Bersyukur karena diberi kesempatan mencintaimu lebih dulu, sebelum dia datang dan membawamu pergi dariku.

Bersyukur karena pernah merasakan indahnya cintamu, yang menjadikanku orang yang lebih baik dari sebelumnya. 

Aku bersyukur pernah memilikimu.

Hati sang suami begitu tegar merelakan wanita yang dicintainya pergi agar si istri bahagia bersama orang lain. Ia tidak menyalahkan sang istri walau telah diselingkuhi.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca surat cinta suami ini? Semoga sang istri bisa menyadari kesalahannya.

 

Baca juga:

Surat Seorang Suami Tentang Istri yang Butuh Liburan, “Pergilah Bu, Bahagiakan Dirimu.”

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Mengharukan