10 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Memutuskan untuk Bercerai

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Saat memutuskan untuk bercerai, ada banyak hal di masa depan yang tidak bisa Anda bayangkan sebelumnya. Hal-hal berikut ini perlu Anda waspadai.

Memutuskan untuk bercerai bukan perkara mudah. Banyak hal harus dilewati agar perpisahan yang terjadi tidak membuat segalanya jadi makin buruk.

Perubahan pasca perceraian dengan mantan pasangan dan anak menyebab. Sebelum Anda memutuskan untuk bercerai, ada baiknya mengetahui 10 hal berikut yang disarikan dari Pop Sugar ini:

1. Perceraian mempengaruhi anak

Bagi anak-anak, terutama balita, perceraian jelas mempengaruhi psikologis mereka. Ada baiknya membawa anak-anak ke tempat terapi psikologi saat perceraian dilakukan agar potensi masalah psikologis yang ada bisa ditangkal sejak dini.

Artikel terkait: Bagaimana Menjelaskan Perceraian Orangtua pada Anak Dengan Baik

2. Jangan menggunakan teman dekat sebagai pengacara

Sekalipun teman dekat yang jadi pengacara itu akan memberi diskon biaya pengacara perceraian maupun malah gratis, biasanya campur tangan teman yang jadi penasehat hukum justru akan memperpanjang prosesnya. Karena ia tidak hanya mengalami masalah kompleks soal perkara hukum, tapi juga dilema sebagai teman.

3. Buat surat dengan bahasa yang jelas

Surat perjanjian perceraian menyangkut hak asuh anak dan harta gono-gini harus dibuat menggunakan bahasa yang jelas serta tidak mengandung banyak interpretasi.

Sebutkan kepastian soal waktu, jumlah, jenis barang, dan bahkan bisa juga menyebut jenis kegiatan yang boleh maupun tidak boleh dilakukan bersama anak nantinya. Jangan sampai adanya bahasa yang bersayap justru akan merugikan kita.

4. Pasangan baru sang mantan akan membuat ia berubah

Ia awalnya bisa jadi ayah yang baik sekalipun sudah jadi mantan suami. Namun, pasangan baru si mantan suami bisa saja mengubah karakter dan sikap suami pada anak dan mantan istrinya.

Jadi, jangan kaget jika ia tiba-tiba jadi tidak ingin bertemu anak maupun perubahan lain yang akhirnya terjadi. Karena dengan siapa mantan menikah nantinya, maka perubahan sikap adalah hal yang biasa terjadi.

5. Menjaga hati saat ada pasangannya si mantan akan sulit

Barangkali hati Anda memang sudah move on sepenuhnya dari mantan suami. Namun, ketika ia memperkenalkan calon istrinya yang baru kepada anak, hal ini akan jadi persoalan yang cukup sulit.

Selain harus menjelaskan ke anak tentang orang baru yang masuk ke kehidupannya, Anda juga merasa ada hal aneh yang mengganjal hati. Misalnya perasaan bahwa Anda harus mulai menjaga cara komunikasi dengan mantan suami karena mempertimbangkan kemungkinan calon istrinya cemburu dengan Anda.

6. Butuh waktu untuk pulih

Sekali pun memutuskan untuk bercerai adalah yang terbaik, namun perasaan gagal menjalani kehidupan rumah tangga memang butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Apalagi jika Anda menjalaninya tanpa bantuan profesional.

Waktu akan menyembuhkan luka. Setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda-beda kok untuk bisa pulih sepenuhnya.

7. Penghasilan yang berkurang

Dalam perjanjian perceraian, biasanya ada jatah bulanan untuk anak. Namun kenyataannya tak selalu seperti itu.

Banyak orang yang akhirnya mangkir dari kewajiban memberikan uang pada anaknya.

Menjadi seorang single mother akan membuat Anda merasa berat untuk menanggung semua kebutuhan rumah tangga. Apalagi jika Anda seorang ibu rumah tangga.

8. Berpisah ya berpisah. Titik

Anda tak perlu merencanakan adanya liburan bersama mantan, atau berharap rujuk kembali. Keputusan pisah haruslah didasari dengan argumentasi yang kuat.

Jika masih ragu dan memungkinkan adanya rujuk, sebaiknya Anda pergi ke konselor pernikahan dan menyelesaikan masalah pernikahan bersama sebelum memutuskan untuk bercerai.

Baca juga: Ingin Bercerai? Baca Dulu 9 Nasihat Terapis Pernikahan Ini

9. Tak harus mengoper anak terus menerus agar adil

Keputusan yang selama ini dianggap adil justru melelahkan secara psikologis bagi anak. Misalnya, jika Anda dan pasangan membuat aturan satu bulan di rumah mama dan satu bulan di rumah papa.

Biarkan anak memilih akan tinggal di mana dan bertemu orangtuanya kapan saja. Tanpa jadwal yang ketat, anak justru tidak akan merasa kehilangan salah satu orangtuanya.

10. Menghabiskan waktu bersama mantan dan anak itu menyakitkan

Hal ini terasa menyakitkan bagi anak karena ia akan melihat bahwa orangtua lainnya saling bergandengan tangan, saling menyuapi makanan, dan lainnya. Sedangkan Anda dan mantan pasangan tak dapat melakukan hal itu.

Ada perasaan sepi yang dirasakan oleh anak ketika orangtuanya seolah bersama tapi juga terpisah sekaligus.

Saat memutuskan untuk bercerai, pastikan bahwa segalanya sudah dipikirkan baik-baik. Konsultasikan terlebih dahulu dengan konselor pernikahan yang mumpuni.

Tutup telinga terhadap segala macam komentar orang terhadap Anda demi kesehatan mental yang lebih baik. Semoga Anda kuat menjalani segalanya.

 

Baca juga:

7 Hal yang dapat Anda Lakukan untuk Menghindari Perceraian

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Pernikahan