Ingin Melahirkan Water Birth? Simak Dulu Risiko Penyakit yang Dapat Menyerang Bayi ini

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Penelitian menunjukkan adanya risiko penyakit Legionnaire pada bayi yang lahir lewat water birth. Argumentasi dokter patut jadi pertimbangan sebelum memilih metode melahirkan yang nyaman untuk ibu dan bayinya.

Metode melahirkan dengan water birth atau melahirkan di air mulai banyak dilirik oleh para orangtua sebagai alternatif yang baik untuk kesehatan ibu dan bayinya. Namun, di balik itu semua, sebuah penelitian dari Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (CDC- Centers for Disease Control and Prevention) di Amerika menunjukkan bahwa anak yang lahir dengan proses water birth memiliki peluang untuk terkena penyakit Legionnaire.

Penyakit Legionnaire adalah sebuah jenis Pneumonia atau yang biasa dikenal sebagai infeksi paru-paru yang berkembang dari bakteri Legionella yang berada di air hangat. Sejauh ini, CDC sudah menemukan bahwa ada dua bayi yang lahir tahun 2016 lewat water birth yang terkena penyakit Legionnaire.

Rekomendasi American College of Obstetricians and Gynecologists dan American Academy of Pediatrics (ACOG) pada tahun 2016 lalu menyatakan bahwa sebaiknya ibu melahirkan anaknya di daratan kering. Bukan di air. Setidaknya, sampai penyebab penyakit Legionnaire ini terbukti.

ACOG menjelaskan bahwa risiko penularan di dalam air sangat tinggi. Termasuk di dalamnya risiko infeksi maternal dan neonatal yang lebih tinggi. Bayi juga merasa kesulitan dalam mengatur suhu tubuhnya sehingga penyakit ini dapat mengancam nyawa bayi.

Selain itu ada peningkatan kemungkinan kerusakan tali pusar. Fatherly juga mencatat bahwa terdapat juga gangguan pernapasan akibat bayi yang menghirup air bak mandi, dan potensi asfiksia serta kejang.

Padahal, beberapa tahun belakangan ini, sering muncul anjuran kepada para ibu untuk melahirkan di dalam air dengan beragam manfaat untuknya dan bayi.

Melahirkan di air disebut lebih menenangkan bagi para ibu agar tidak mengalami stres selama persalinan. Mereka juga menyarankan agar daya apung meningkatkan kontraksi yang lebih efisien dan sirkulasi darah yang lebih baik.

Di saat yang sama, tidak ada lingkungan yang lebih sesuai untuk bakteri Legionella yang menyebabkan penyakit Legionnaire daripada bak air panas yang tidak dipelihara dengan baik.

Apalagi bakteri tersebut berkembang di lingkungan yang tidak terlalu panas dan membentuk biofilm tebal dan lumut yang melindungi mikroba berbahaya dari desinfektan. Pengguna bak mandi air panas bahkan tidak perlu menyentuh biofilm untuk terinfeksi-Legionella bisa masuk ke tubuh lewat tetesan air maupun embun di udara.

Secara teori, perawatan bak mandi air panas yang tepat dapat mencegah hal ini. Dalam prakteknya, kebanyakan orang tidak mengikuti panduan merawat bak mandi air panas seperti panduan standar higienitas CDC.

Setelah menyimpulkan bahwa tidak ada untungnya melakukan water birth, dan risiko potensial yang signifikan, AAP dan ACOG merekomendasikan agar tidak melakukan praktik tersebut lagi.

Health Line menyebut bahwa penyakit Legionnaire biasanya akan mulai menimbulkan gejala dalam 2 sampai 14 hari setelah terpapar bakteri. Periode ini disebut masa inkubasi.

Gejala penyakit Legionnaire mirip dengan jenis pneumonia lainnya. Sehingga banyak orang yang mengalami salah diagnosis terhadap penyakit ini.

Cirinya antara lain demam di atas 40°C, panas dingin, batuk disertai dengan atau tanpa lendir atau darah. Gejala lainnya yang menyertai diantaranya adalah sesak napas, sakit kepala, sakit otot, kehilangan nafsu makan, sakit dada, kelelahan, mual dan muntah, diare, linglung, dan kejang-kejang.

Karena adanya banyak pertentangan sekitar isu ini, maka ada baiknya Anda mempertimbangkan baik-baik dan mengonsultasikan ke dokter sebelum Anda mengambil risiko melahirkan dengan water birth. Pastikan bahwa bak mandi yang digunakan bebas dari bakteri yang berpotensi mengundang penyakit Legionnaire.

Selain itu ada baiknya menggunakan bak mandi air hangat hanya untuk berendam selama kontraksi, untuk membantu mengurangi rasa sakit dan membuat ibu lebih rileks. Ketika sudah saatnya mendorong, keluarlah dari air dan lanjutkan proses melahirkan di tempat yang lebih aman, seperti matras atau tempat tidur yang disediakan dekat dengan bak air hangat.

Semoga informasi ini bermanfaat, Parents.

 

Baca juga:

Kapan Waktu yang Aman untuk Mandi Setelah Melahirkan?

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Melahirkan