Peneliti asal Cina hasilkan bayi kembar anti HIV dari rekayasa genetika!

lead image

Kira-kira akan seperti apa bayinya ya?

Seorang peneliti asal Cina mengklaim berhasil membuat rekayasa genetika pada manusia untuk yang pertama kalinya di dunia – dengan membuat dua bayi kembar melalui ‘pengeditan’ DNA yang digadang mampu menuliskan sejarah baru bagi kehidupan umat manusia.

Meskipun begitu, terobosan ini masih menjadi kontroversi di dunia pengetahuan ilmiah karena mendobrak etika yang ada atas eksperimen terhadap manusia.

Seorang peneliti asal Amerika Serikat mengaku juga mengambil peranan dalam penelitian ini, sebab rekayasa genetika pada manusia di Amerika Serikat masih dilarang. Perubahan DNA dapat berbahaya bagi perkembangan genetika di masa mendatang.

Karena masih banyak ilmuwan yang menentang terobosan ini, bahkan beberapa di antaranya juga melaporkan penelitian ini sebagai eksperimen manusia.

Rekayasa genetika pada manusia, bagaimana cara kerjanya?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/gen.jpg Peneliti asal Cina hasilkan bayi kembar anti HIV dari rekayasa genetika!

Peneliti yang bernama He Jiankui ini setidaknya bereksperimen terhadap tujuh pasangan selama masa kesuburan, dan hanya satu kehamilan pada saat itu.

Tujuan utama penelitian ini bukanlah untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit tertentu diwariskan, namun keadaan alami yang bisa saja dialami oleh setiap orang – kemungkinan untuk melawan infeksi HIV di masa mendatang.

“Saya merasa memiliki tanggung jawab yang besar bukan hanya sekedar untuk menjadikan penelitian ini sebagai yang pertama namun juga menjadikannya sebagai sebuah contoh,” ungkapnya. “Masyarakatlah kelak yang akan memutuskan, langkah apa yang akan diambil setelahnya.” lanjutnya.

Proses rekayasa genetika pada manusia ini dilakukan dengan metode CRISPR atau kepanjangan dari ‘clustered regularly interspaced short palindromic repeats’.

Meskipun banyak ilmuwan yang menentangnya, namun salah satu ahli genetika terkenal yang berasal dari George University mendukung upaya rekayasa genetika pada manusia untuk virus HIV yang dilakukan oleh He Jiankui, sebab menurutnya virus HIV merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang sangat besar dan menakutkan.

Perbedaan mencolok antara Amerika Serikat dan Cina adalah kebijakan mengenai kloning dan rekayasa genetika pada manusia. Jika di Amerika Serikat, kloning diperbolehkan tidak dengan Cina. Sementara sebaliknya, rekayasa genetika malah diperbolehkan di Cina sementara Amerika Serikat dilarang ketat.

Mengapa memilih penderita HIV untuk rekayasa genetika?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/hiv.jpg Peneliti asal Cina hasilkan bayi kembar anti HIV dari rekayasa genetika!

Ia telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mempraktikkan rekayasa genetika pada tikus percobaan, monyet dan embrio manusia di laboratorium.

Kemudian ia memilih untuk membuat rekayasa genetika pada manusia yang terinfeksi HIV karena persoalan virus ini memang juga merupakan persoalan besar di Cina yang belum bisa terselesaikan.

Ia berusaha untuk menonaktifkan gen yang disebut CCR5 yang membentuk pintu protein yang memberi peluang HIV untuk memasuki sel. Eksperimen yang dilakukannya ini melibatkan semua pria pengidap HIV sementara perempuan yang tidak terinfeksi. 

Sejak awal ia bahkan memberitahukan bahwa apa yang akan dilakukannya ini belum pernah dicoba sebelumnya dan mungkin saja membawa resiko-resiko tertentu. Tak hanya itu, ia juga menawarkan asuransi hingga bayi hasil rekayasa genetikanya itu berusia 18 tahun.

Terlepas dari kontroversinya, menurut Bunda apakah yang dilakukan peneliti Cina ini merupakan terobosan yang akan berguna bagi kehidupan generasi di masa mendatang?

Referensi: Telegraph

Baca juga:

Video Bayi Lucu Sekali, Rekayasa Komputerkah?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.