Dilema Ibu yang Bekerja

Dilema Ibu yang Bekerja

Banyaknya wanita karir pada masa ini memunculkan dilema pada wanita antara pekerjaan dan rasa bersalah terhadap anak-anak karena tidak lagi bisa mengawasi mereka secara sepenuhnya. theAsianparent akan mengupas tuntas masalah ini secara obyektif.

Dilema Ibu yang Bekerja

Ibu yang bekerja, perlu pandai membagi waktu antara karir dan rumah tangga

Rasa bersalah Ibu yang bekerja terhadap anak karena meninggalkan mereka di bawah pengasuhan orang lain kadang menyelimuti perasaan para orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan Ibu yang bekerja dari rumah-pun bisa merasakan hal yang sama. Karena merasa tidak bisa mengawasi putra-putri mereka sepenuhnya.

Sebagai Ibu yang bekerja, kadang kita berusaha mengabaikan perasaan bersalah itu. Kita merasa bahwa keadaan ini tidak adil bagi kita. Hidup diliputi rasa bersalah seperti mengemudikan mobil dengan perasaan was-was. Sedangkan perasaan negatif ini dapat menguras energi kita. Jadi mari kita mencoba menghilangkan beban perasaan bersalah itu dengan pemecahan masalah yang ada.

Kita coba gali akar dari permasalahan tersebut, agar kita bisa mendapatkan keputusan dan kesimpulan yang obyektif. Sehingga kita bisa mengubah sudut pandang kita terhadap masalah yang sedang kita alami.

Mari kita awali dengan latar belakang yang mendasarinya:

Dua pilihan kenapa Ibu yang bekerja merasa bersalah pada anak secara umum:

1.  Memperoleh Pendapatan Tambahan

Selama 20 tahun terakhir, perkantoran yang semula didominasi pria secara signifikan telah berevolusi  dipenuhi oleh wanita, bahkan sampai jenjang manajerial. Anggapan kuno tentang wanita yang telah menikah hanya bisa tinggal di rumah saja sudah ketinggalan jaman.

Bagi Ibu yang bekerja di rumah-pun mereka harus meluangkan waktu untuk tidak bersama anak-anak saat mereka harus menyelesaikan pekerjaannya. Jika tidak, mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa karena tidak bisa fokus dengan pekerjaannya ataupun bahkan terganggu oleh anak-anak.

Rasa bersalah pada Ibu yang bekerja umumnya lebih dirasakan saat anak-anak dalam usia 3-4 tahun. Karena masa ini adalah masa emas, perkembangan mereka. Wajar saja sebagai Ibu kita berharap untuk bisa menghabiskan setiap waktu bersama mereka.

Selanjutnya di halaman berikut ini :

2. Orangtua Tunggal

Bagi pria hal seperti ini tidak akan menekan perasaan mereka sedangkan bagi Ibu yang bekerja, mereka cenderung lebih rentan terhadap perasaan bersalah ini. Kita bisa saja menitipkan anak pada orangtua atau saudara sehingga bisa fokus dengan karir. Kita berusaha untuk bisa mencukupi kebutuhan mereka daripada mengikuti pepatah jawa ‘mangan ora mangan sing penting kumpul’ yang intinya tentang pilihan hidup bersama tetapi tak bisa mencukupi kebutuhan hidup.

Alasan umum Ibu yang bekerja meskipun diliputi rasa bersalah:

1. Keuangan

Tagihan yang harus dibayar. Biaya pendidikan yang mahal, dan ketika mereka memasuki perguruan tinggi, kita harus siap dengan dana yang tidak sedikit. Hidup sebagai orang tua tunggal, kita tidak punya pilihan lain kecuali harus bekerja. Bahkan keluarga yang utuh-pun kadang harus bekerja semua untuk dapat memenuhi kehidupan keluarga. Itulah kenyataanya.

2. Terjebak dengan tanggung jawab

Umumnya orangtua tunggal tidak punya pilihan. Ibu yang bekerja terbebani tanggung jawab dengan bekerja untuk memastikan ada makanan di meja. Bagi keluarga utuh dan berkecukupan, bisa jadi si Ayah memiliki bisnis yang sangat menguntungkan atau suatu pekerjaan dengan penghasilan tinggi yang sangat memuaskan untuk keluarga, sedangkan Ibu mewarisi bisnis keluarga yang tidak dapat dimiliki oleh orang lain. Mereka-pun terjebak oleh tanggung jawab terhadap pekerjaan mereka.

3. Gaya Hidup Pilihan

Cathy, adalah seorang akuntan di MNC. Dia bekerja mengendarai mobil keluaran baru yang akan membuat para pria tergiur. Dia bisa membeli mobil bahkan ntuk jenis mobil yang tergolong mewah sekalipun. “Pekerjaan ini sudah menjadi bagian hidupku. Aku bekerja sepanjang waktu dan hanya mengambil cuti 3 bulan untuk melahirkan. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus tinggal di rumah untuk mengurus segalanya.

Selanjutnya di halaman berikut ini :

Ketika ditanya tentang hubungannya dengan bayinya, dia mengakui bahwa dia berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama bayinya, tetapi dia juga menambahkan, “Jika aku harus memaksakan diri untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, mungkin aku bisa jadi gila!”

Rasa bersalah Ibu yang bekerja bisa timbul dari salah satu atau beberapa alasan di atas. Tapi apa yang dimaksud rasa bersalah?

Rasa bersalah adalah apa yang kita rasakan jika kita berpikir (terlepas dari validitas pikiran kita) bahwa kita telah melakukan sesuatu yang salah. Bersalah adalah perasaan subyektif. Umumnya, rasa bersalah timbul dari perasaan jengkel saat kita merasa harus terpaksa mengurangi suatu standar tertentu. Yang jadi pertanyaan  adalah: Standar siapakah itu?

Apakah kita sedang dipengaruhi oleh ibu mertua yang memandang tidak setuju sambil menggelengkan kepala? Apakah perkataan tetangga, “Bagaimana kita tega meninggalkan anak dibawah pengawasan pengasuh sepanjang hari”?

Mari kita kembali ke tiga alasan mengapa orang tua mesti bekerja seperti dikutip di atas. Kita dapat menyimpulkan bahwa setiap alasan tersebut sah (bahkan alasan teman saya, Cathy). Tak  seorangpun perlu merasa bersalah. Jangan terpengaruh oleh perkataan dan pikiran orang lain. Sebab perlu diketahui bahwa jauh di dalam hati mereka merasa iri dengan kesuksesan karir kita.

Hanya saja jangan sampai terlena. Kita juga perlu menyeimbangkan karir dengan meluangkan waktu bersama anak-anak kita (bukan berarti porsi pengaturan waktu ini harus sama rata). Kita mungkin tidak bersama anak dalam keseharian tetapi kita bisa meluangkan waktu yang berkualitas saat pulang kantor atau di akhir minggu. Kita luangkan waktu untuk menjalin ikatan dengan mereka agar mereka-pun tidak merasa kehilangan kasih sayang dari orangtuanya.

Selanjutnya di halaman berikut ini :

Para orangtua tersayang, Ini merupakan keseimbangan dan perspektif yang tepat. Kita harus berpikir mempertimbangkan dengan seksama jika kita berpikir untuk tidak bekerja. Kita pasti akan dihadapkan dengan kondisi keuangan keluarga. Atau jika kehidupan kita seperti Cathy, kita mungkin tidak akan mendapatkan kebahagiaan jika harus berkutat dengan urusan rumahtangga. Dan hal ini-pun tentunya dapat mempengaruhi hubungan dengan anak-anak kita.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hidup adalah suatu pilihan. Selama kita sudah merasa berada di jalur yang benar, maka nikmati saja garis hidup yang memang sudah menjadi jalan dan pilihan kita. Kita tidak perlu merasa bersalah dengan pola pengasuhan kita untuk anak. Karena kita sudah berusaha yang terbaik untuk mereka

Silahkan bookmark dan bagikan artikel ini melalui media sosial, pendapat dan saran Anda sangat berharga bagi kami.

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

hangle

app info
get app banner