Proses Bayi Tabung ICSI Berisiko Hasilkan Bayi Cacat Intelektual

Proses Bayi Tabung ICSI Berisiko Hasilkan Bayi Cacat Intelektual

Seorang peneliti asal Swedia baru-baru ini mengungkapkan temuan terbarunya tentang dampak negatif proses bayi tabung ICSI.

Terapi kesuburan ternyata mengandung bahaya.

Terapi kesuburan ternyata mengandung bahaya.

Proses bayi tabung ICSI tidak sepenuhnya aman

Sebuah penelitian yang dilakukan di Swedia dan dimuat dalam American Medical Association beberapa waktu lalu menghasilkan kesimpulan yang mengejutkan. ICSI (Intra Cytoplasm Sperm Injection/Injeksi Sperma Intra Sitoplasma), yang merupakan salah satu jenis proses bayi tabung, ternyata dapat mengakibatkan bayi lahir dengan cacat intelektual.

Laporan yang juga dimuat dalam Daily Mail itu menyebutkan, bahwa proses bayi tabung dengan metode ICSI pada kaum pria yang spermanya kurang baik berpeluang 51% menghasilkan bayi dengan IQ di bawah 70 dan mengidap sindrom autisme. Resiko cacat intelektual ini juga meningkat dari 62 per 100.000 kelahiran menjadi 92 per 100.000 kelahiran.

Sementara itu, Dr. Avi Reichenberg dari Institute of Psychiatry of King’s College London menjelaskan, “Penelitian kami menunjukkan bahwa terapi kesuburan bukan hanya mengakibatkan gangguan perkembangan pada bayi (yang lahir sebagai hasil terapi kesuburan), namun juga pada generasi yang akan lahir kemudian.”

Apa penyebabnya?

Terdapat 2 jenis proses bayi tabung, yaitu IVF konvensional dan ICSI.

IVF (In Vitro Fertilization) konvensional, yaitu dengan cara mempertemukan sel telur dan sperma pada suatu cawan. Sel telur yang telah dibuahi dibiarkan tumbuh beberapa saat sebelum diinjeksikan kembali ke dalam saluran rahim. Jadi, pada proses ini sprema dibiarkan membuahi sel telur tanpa bantuan.

Berpikirlah masak-masak sebelum memutuskan mengikuti terapi kesuburan

Berpikirlah masak-masak sebelum memutuskan mengikuti terapi kesuburan

Namun bila sperma bermasalah, ia tidak dapat menembus dinding sel telur. Pada kondisi inilah, pasien ditawarkan proses bayi tabung ICSI. Pada metoda ICSI, sperma dibantu menembus sel telur dengan cara diinjeksikan ke sitoplasma sel telur. Proses injeksi inilah yang berisiko membuat sperma rusak dan menyebabkan bayi lahir dengan cacat intelektual.

“Jangan khawatir,”  kata dokter Anda

Meski demikian, sebagian besar para ahli mengklaim bahwa terapi kesuburan dengan metode ICSI tetaplah sebuah alternatif yang aman bagi pasangan yang beralih dari metoda IVF konvensional.

Jumlah kasus cacat intelektual akibat proses bayi tabung memang mengalami peningkatan. Tapi jumlah itu masih rendah jika dibandingkan jumlah kelahiran bayi normal melalui metode ICSI.

Proses Bayi Tabung ICSI Berisiko Hasilkan Bayi Cacat Intelektual

 

IVF telah digunakan sejak akhir 1970-an. Pada tanggal 25 Juli 1978, “bayi tabung” pertama, Louise Brown, lahir. Robert Edwards dan Patrick Steptoe, yang berkolaborasi dalam prosedur ini, dianggap sebagai pelopor IVF.

Pembuahan in vitro, atau IVF, adalah jenis teknologi reproduksi terbantu yang paling umum dan efektif untuk membantu wanita hamil. Sebagaimana dikutip Medical News Today,  IVF atau bayi tabung dapat menjadi pilihan jika:

  • salah satu pasangan telah menerima diagnosis infertilitas atau kemandulan
  • teknik lain, seperti penggunaan obat kesuburan atau inseminasi intrauterin (IUI), belum berhasil
  • saluran tuba wanita tersumbat

Tingkat kesuksesan Bayi Tabung

Fertilisasi in-vitro (IVF) dapat membantu mencapai kehamilan ketika perawatan lain tidak berhasil. Dan ada kemungkinan lebih tinggi melahirkan bayi kembar dengan metode IVF ini. Berdasarkan data, satu persen bayi yang lahir di Amerika Serikat dihasilkan melalui metode IVF.

Pada 2016, 26 persen prosedur IVF berhasil.

Pada 2010, Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) memperkirakan bahwa kemungkinan kelahiran hidup adalah:

  • 32,2 persen untuk wanita berusia di bawah 35 tahun
  • 27,7 persen untuk wanita berusia antara 35 hingga 37 tahun
  • 20,8 persen untuk wanita berusia antara 38 hingga 39 tahun
  • 13,6 persen untuk wanita berusia 40 hingga 42 tahun
  • 5 persen untuk wanita berusia 43 hingga 44 tahun
  • 1,9 persen untuk wanita berusia di atas 44 tahun

Statistik ini bervariasi tergantung pada di mana IVF dilakukan. Faktor lain yang mungkin memengaruhi kesuksesan. Terlepas dari usia, kemungkinan keberhasilan bayi tabung tergantung pada faktor-faktor termasuk:

  • sudah berapa lama Anda berusaha hamil
  • penyebab infertilitas
  • apakah kehamilan atau kelahiran hidup telah terjadi sebelumnya
  • strategi yang akan digunakan

Satu studi, yang diterbitkan di CMAJ Open pada tahun 2013, telah menyarankan bahwa wanita yang memiliki kadar vitamin D yang cukup “secara signifikan lebih mungkin” menjadi hamil dengan IVF dibandingkan dengan mereka yang memiliki kadar vitamin ini lebih rendah.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.

 

Baca juga artikel menarik lainnya:

Ingin Cepat Hamil, Hati-hati dengan Terapi Kehamilan Tipu-tipu

Apakah Aku Mandul?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner