Waspada Prolaps Organ Panggul, Turunnya Dinding Rahim Bisa Dialami Setelah Melahirkan

Waspada Prolaps Organ Panggul, Turunnya Dinding Rahim Bisa Dialami Setelah Melahirkan

Biasa terjadi setelah melahirkan normal, simak penjelasan mengenai prolaps organ panggul selengkapnya di sini, Bun!

Prolaps organ panggul (POP) atau pelvic organ prolapse merupakan kondisi saat ligamen dan otot yang menyokong organ di daerah panggul melemah. Ini menyebabkan posisi organ-organ tersebut termasuk rahim (uterus), kandung kemih, usus, atau rektum menjadi turun. Sehingga kondisi POP juga dapat menyebabkan penderitanya merasakan nyeri di bagian panggul dan perut bawah.

Selain itu, POP yang biasanya dikenal dengan sebutan hernia atau turun berok oleh orang awam pun bisa terjadi pada perempuan di segala rentang usia. Namun, kondisi ini memang lebih banyak dialami oleh perempuan yang baru saja melahirkan normal. Serta mereka yang telah memasuki usia menopause.

Artikel terkait: 10 Penyakit yang bisa sebabkan sering nyeri panggul tanpa sebab

Prolaps Organ Panggul: Penyebab, Gejala, dan Cara Pengobatan

prolaps organ panggul

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Astrid Yunita, Sp.OG (K) dari Rumah Sakit Pondok Indah menjelaskan lebih lengkap tentang kondisi ini.

Ia memaparkan, bahwa organ rahim turun juga dikenal sebagai turun peranakan. Ada pun kondisi tersebut merupakan bagian dari penurunan organ panggul secara keseluruhan.

“Posisi rahim yang normal seharusnya berada tepat di atas vagina, tetapi posisi tersebut dapat berubah. Bisa menurun ke vagina dan hal ini dapat disertai penurunan organ panggul lainnya,” ungkap Astrid kepada theAsianparent ID.

Selain itu, kondisi turun peranakan atau prolaps yang terjadi pada rahim juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Stadium 1: Penurunan sampai dengan setengah panjang vagina
  • Stadium 2: Penurunan lebih jauh dari stadium 1 hingga batas himen (selaput dara). Atau bisa juga hingga tepi vagina sehingga dapat terlihat setinggi celah vagina
  • Stadium 3: Sebagian besar penurunan sudah melewati selaput dara dan berada di luar vagina
  • Stadium 4: Penurunan maksimun dari setiap kompartemen organ panggul

Faktor Risiko dan Penyebab

prolaps organ panggul

Proses persalinan bukan satu-satunya penyebab dari kondisi ini. Faktanya, prolaps organ panggul memiliki penyebab dan faktor risiko yang beragam, yakni:

  • Bisa disebabkan oleh faktor genetik
  • Riwayat kehamilan dan persalinan yang berulang. Atau bisa juga adanya riwayat persalinan dengan alat bantu atau melahirkan bayi besar.
  • Pernah melakukan pembedahan seperti angkat rahim
  • Pernah melakukan terapi radiasi atau pun terapi trauma akibat kecelakaan yang mengganggu sistem saraf di daerah panggul
  • Sering melakukan aktivitas fisik, seperti mengangkat barang berat
  • Kondisi obesitas, penyakit paru kronik, atau batu kronik
  • Terjadi konstipasi
  • Memiliki tumor abdomen, tumor rongga pelviks dan penumpukan cairan di rongga perut
  • Penuaan, menopause, dan perubahan hormon estrogen
  • Kebiasaan hidup yang kurang sehat seperti merokok

Gejala Prolaps Organ Panggul

Waspada Prolaps Organ Panggul, Turunnya Dinding Rahim Bisa Dialami Setelah Melahirkan

Beberapa gejala yang dirasakan jika Anda mengalami kondisi ini di antaranya adalah:

  • Terasa ada yang mengganjal atau menekan di bagian panggul. Sehingga menimbulkan rasa pegal pada punggung.
  • Munculnya benjolan di vagina yang terasa semakin berat saat berdiri atau pun setelah melakukan aktivitas berat jangka panjang.
  • Keputihan atau keluar darah dari benjolan di vagina.
  • Gangguan kemih seperti buang air kecil tak terkendali atau pun mengalami infeksi saluran kemih berulang
  • Sulit mengedan saat buang air besar
  • Merasa tidak nyaman saat berhubungan intim, bahkan bisa merasakan nyeri luar biasa saat berhubungan sehingga membuat kepercayaan diri menurun

Diagnosis dan Pengobatan

prolaps organ panggul

Jika Anda mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan, maka segeralah memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, kondisi POP bisa berbahaya apabila tidak segera ditangani.

Astrid kembali menjelaskan, “Untuk diagnosisnya sendiri, dokter biasanya merujuk Anda untuk melakukan pemeriksaan fisik. Terutama di bagian panggul. Dokter juga akan meminta pasien mengejan seperti saat akan buang air besar. Ini dilakukan untuk menilai sejauh mana penurunan terjadi.”

Beberapa pemeriksaan penunjang juga dilakukan untuk mendapatkan diagnosis yang lebih detail. Beberapa pemeriksaan tersebut di antaranya:

  • USG panggul dan saluran kemih, untuk memastikan organ kandungan dan apa penyebab penurunan
  • Foto rotgen saluran kemih dengan kontras atau Pielografi Intravena/IVP.
  • Tes urodiamik, memeriksa fungsi kandung kemih dan uretra saat menyimpan urin dan membuangnya. Ini biasanya dilakukan pada pasien yang menderita inkontinensia atau kesulitan menahan buang air kecil.

Artikel terkait: Bahaya infeksi saluran kemih pada ibu hamil dan janin, Bunda wajib tahu!

prolaps organ panggul

Pengobatan prolaps organ panggul juga terbagi menjadi dua pilihan. Prosedur bedah dan non-bedah tergantung pada tingkat keparahan penurunan, seperti:

  • Pengobatan non-bedah: Penggunaan pesarium, rehabilitasi otot dasar panggul, serta terapi symptom-directed yang direkomendasikan pada pasien dengan tingkat prolaps yang rendah.
  • Pengobatan bedah: Dapat berupa pengangkatan rahim yang dilanjutkan dengan penggantungan puncak vagina bagi pasien yang ingin mempertahankan fungsi seksual. Ada pun pilihan operasi pasien dengan tingkat keparahan tinggi dapat dilakukan melalui teknik obliterasi. Ini dilakukan dengan cara menutup introitus vagina (kolpokleisis), direkomendasikan bagi pasien yang tidak lagi mempertahankan fungsi vagina untuk hubungan seksual.

Selain kedua pengobatan di atas, dokter juga biasanya meresepkan obat untuk dikonsumsi secara teratur sesuai dosis yang dianjurkan. Jangan lupa untuk rutin memeriksakan diri ke dokter untuk memantau perkembangan gejala prolaps yang dirasakan.

Upaya Pencegahan

Waspada Prolaps Organ Panggul, Turunnya Dinding Rahim Bisa Dialami Setelah Melahirkan

Kondisi prolaps organ panggul bisa terjadi pada siapa saja, termasuk mereka yang memiliki faktor risiko. Kondisi ini tentunya bisa dicegah dengan menghindari faktor risiko seperti:

  • Terapkan pola hidup sehat. Perbanyak konsumsi buah yang mengandung banyak serat, dan pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan mencukupi kebutuhan cairan.
  • Hindari merokok
  • Jaga berat badan agar tetap ideal dan sehat dengan rutin berolahraga

“Mengurangi faktor risiko juga bisa dilakukan ibu hamil. Anda bisa melakukan gerakan senam kegel saat hamil dan setelah melahirkan. Ini dapat menurunkan risiko terjadinya prolaps organ panggul di kemudian hari,” pungkas Astrid.

Artikel terkait: Catat, ini 5 gerakan olahraga sederhana untuk melancarkan persalinan

Itulah penjelasan mengenai penyebab prolaps organ panggul beserta cara pengobatan dan upaya pencegahannya. Jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter apabila Anda mengalami beberapa gejalanya agar kondisi POP bisa segera diatasi sesuai kondisi. Semoga bermanfaat!

***

Baca juga:

Benarkah ukuran panggul menentukan jalannya persalinan? Ini penjelasan dokter

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner