Kadek Prana Gita, Musik Prodigy yang Dididik Sejak dalam Kandungan

lead image

Bagaimana caranya mengarahkan seorang prodigy musik agar jadi pemberani dan berprestasi? Simak usaha Evie dan suami dalam kembangkan bakat bermusik Prana.

Apa jadinya jika anak sudah dididik dengan musik sejak dalam kandungan? Pasangan Putu Evie dan Vaughan Hatch sudah membuktikannya, anak mereka, Kadek Prana Gita, jatuh cinta dengan musik sejak usia belia sehingga membawanya menjadi seorang musik prodigy di usia 6 tahun.

Bakat Prana dalam hal musik memang mengagumkan. Namun itu bukanlah hal yang secara ajaib muncul di dalam dirinya, ada peran orang tua yang besar dalam kecintaannya pada musik.

Sejak dalam kandungan, ia telah dibiasakan untuk mendengarkan musik. Setelah dilahirkan pun, ia hidup dan dibesarkan di tengah musik.

Hasilnya, Prana berhasil menjadi wakil Indonesia yang dipilih oleh One Step Ahead Nutrilon Royal dalam Camp Asia di Singapura. Prana berhasil mengalahkan ribuan orang kandidat lainnya yang berusia 6-11 tahun.

Camp Asia adalah sebuah tempat pelatihan untuk anak-anak yang aktif di bidang olahraga, seni, memasak, sains, dan sebagainya. Di Camp Asia, anak akan diarahkan oleh instruktur terbaik dengan fasilitas terlengkap di dalamnya.

Belajar otodidak

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/01/Kali pertama Prana menunjukkan bakatnya. Foto Doc Pribadi.jpg Kadek Prana Gita, Musik Prodigy yang Dididik Sejak dalam Kandungan

Kali pertama Prana menunjukkan bakatnya. Foto: Doc Pribadi

Evie adalah seorang seniman tari. Sedangkan Vaughan adalah seorang artis gamelan. Kecintaan mereka pada musik membuat mereka mendirikan Family base music, yaitu sebuah sekolah musik sederhana yang banyak berfokus pada musik tradisional.

“Saya awalnya adalah arkeolog, ibunya adalah orang perhotelan. Dari dulu ingin anak saya mengenal budaya ibunya dan melestarikan itu. Saya sendiri berasal dari New Zealand,” jelas Vaughan dalam bahasa Indonesia beraksen Bali.

Evie mengiyakan hal tersebut. Namun ia menyatakan bahwa ia dan Vaughan tak pernah memaksa anaknya untuk berlatih musik.

“Saat Prana usia satu tahun, ia sudah senang dengan berbagai alat musik yang ada di rumah kami. Ia belajar otodidak sehingga ia pun bisa menciptakan warna musiknya sendiri. Tugas kami hanyalah menstimulasi dan memfasilitasi kegemarannya.”

Ia bercerita bahwa Prana memiliki ingatan pendengaran musik yang kuat. Untuk gamelan yang tak memiliki notasi angka seperti halnya musik yang lain, kepekaan ingatan soal suara musik adalah hal yang krusial di dalam seni gamelan.

“Ia adalah anak yang pemalu. Sehingga ia suka belajar secara sembunyi-sembunyi. Terutama saat usianya 1-2 tahun. Ia jarang memperlihatkan pada kita sampai sejauh mana proses belajar musiknya. Karena kami tahu hal itu, maka kami coba stimulasi dengan memberikan berbagai alat musik sebagai mainannya di rumah,” terang Evie.

Karena otodidak itulah, maka sulit untuk mengikutkan Prana ke dalam kompetisi musik. Karena biasanya, anak yang memiliki gaya sendiri dalam bermusik akan kurang cocok dengan selera dewan juri.

Hal tersebut tak hanya berlaku pada musik, namun juga tari. Evie dan Vaughan sadar bahwa Prana dan Kakaknya, Gede Semara yang sama-sama belajar musik dan tari bukanlah tipe anak yang bisa mengikuti banyak kompetisi karena mereka punya gaya khas tersebut.

“Misalnya pada Semara. Saat kami ajari tari, dia pasti memiliki gerakan variasinya sendiri sesuai dengan penghayatan pribadinya. Biasanya, saat kompetisi, gaya tangan dari guru tari akan terlihat pada gerakan tangan dalam tarian anak didiknya,”

Ia melanjutkan, “Tapi Semara ini berbeda, dia punya gaya yang hanya dimilikinya sendiri. Hal ini berlaku juga untuk Prana. Sehingga kadang ada saja orang yang tak mengert keunikan gerak anak-anak saya.”

Untuk stimulasi musik, Vaughan bercerita bahwa studio musik mereka seringkali penuh dengan alat musik. Agar tidak berjejalan, maka beberapa alat musik sengaja ditaruh di ruang tamu agar lebih mudah dijangkau anak-anaknya.

Stimulasi berupa alat musik yang ditaruh di ruang tamu itu cukup berhasil. Karena alat musik yang ada di sana selalu berbeda-beda, maka anak juga bisa mencoba dan menguasai alat musik yang baru setiap minggunya.

Tak hanya gamelan, di ruang tamu itu juga biasa ada keyboard, biola, maupun alat musik berbahan bambu. Itulah yang menyebabkan anak-anaknya memiliki kemampuan musik yang lain di luar gamelan.

Hasilnya, Semara dan Prana tak hanya lihai dalam memainkan alat musik tradisional, namun juga modern. Bahkan mereka bisa menciptakan lagu yang berasal dari gabungan alat musik tradisional dan modern dengan keyboard dan komputer.

“Selain stimulasi dalam hal itu, kita juga sering mendengarkan musik bersama saat perjalanan di mobil. Karena sekolah musik kita adalah family base, maka keluarga kita juga sering bertemu dan main musik bersama. Hal itu adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak,” tutur ibu dengan dua anak ini.

Sebagai ibu yang sangat mencintai seni dan anak-anaknya, ia tak ingin membuat belajar musik jadi sesuatu yang membuat anaknya tertekan. Sehingga ia berusaha untuk membuat kegiatan belajar musik jadi semenyenangkan mungkin.

Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa ia tak terlalu mendorong anaknya untuk mengikuti berbagai acara musik maupun kompetisi. Ia tak mau anaknya berada dalam tekanan kompetisi yang akan menyita waktu bermain dan masa kecil mereka.

Terhadang sembelit

Dikarenakan lebih sering bermain musik secara sembunyi-sembunyi, maka Evie dan Vaughan sering tak tahu sampai di mana proses belajar anaknya. Jika kakaknya sering memperlihatkan karyanya dalam menciptakan musik, maka sang adik justru sebaliknya.

Evie dan Vaughan sempat bertanya-tanya kenapa anak Prana kurang percaya diri saat tampil. Bahkan jika hanya di depan keluarga,

“Belakangan, saya baru tahu bahwa Prana selama ini menderita sembelit sehingga membuat perutnya tidak nyaman. Itulah yang membuatnya malu dan minder saat usia 3 tahun,” pungkasnya.

Evie menuturkan bahwa sembelit Prana disebabkan oleh ketidakcocokan pada susu sapi dan semua dairy product. Akhirnya, ia menemukan solusi dari Nutrilon Royal Soya.

Setelah menemukan solusinya, ia menghentikan sama sekali konsumsi susu sapi. Untunglah, Prana anak yang penurut soal makanan sehingga ia dengan mudah mengikuti saran ibunya untuk berganti produk.

“Setelah bebas dari rasa sembelit, Prana bisa jadi anak yang aktif dan pemberani. Dia juga suka sama rasa Nutrilon Soyanya sehingga tak ada penolakan yang berarti saat kami berusaha atasi sembelitnya itu,” bebernya.

Tampil di festival internasional

Setelah lebih percaya diri dan aktif karena terbebas dari sembelit, tak diduga, musik prodigy cilik ini mulai berani menunjukkan tajinya.

Saat itu, keluarganya diundang tampil di festival musik Korea Selatan. Sayangnya, sebelum manggung, ayah Prana yang harusnya tampil saat itu sedang sakit demam berdarah.

“Prana langsung inisiatif dengan bilang, Mama, aku gantiin Daddy main musik ya?” tirunya saat itu.

Mendengar Prana yang saat itu berusia 4 tahun ingin gantikan ayahnya membuat Evie kaget. Ia tahu bahwa selama ini alat musik yang suami dan anaknya pegang adalah alat musik yang sama, namun dengan penonton yang banyak dan atmosfer yang berbeda, ia benar-benar tak berekspektasi tinggi bahwa anaknya bisa menguasai itu semua.

“Ternyata dia bisa gantiin Daddynya. Itulah pertunjukan pertama dia di dunia internasional. Anak yang selama ini tampak tidak percaya diri dan pemalu ternyata berani tampil dengan baik membawakan musik yang biasa dimainkan ayahnya,” ucapnya bangga.

Setelah festival musik Korea Selatan tersebut sukses, tawaran untuk tampil di festival lain di negara lain pun berdatangan.

Namun, meskipun begitu, orang tuanya berharap ia menjadi anak yang bahagia. Sehingga ia tak perlu terbebani dengan berbagai kompetisi yang ada.

“Dia anak yang tidak gampang jatuh karena otaknya seimbang. Selain itu dia juga bagus di matematika, bahasa, olahraga, dan hal lainnya. Kami pikir ini juga berkat didikan musik dan tarinya selama ini,” papar Vaughan.

Kini, di usia 6 tahun, musik prodigy ini masih terus belajar mengembangkan bakat musik dan tarinya. Kemampuan musik dan tari tersebut yang membawanya menjadi anak yang aktif karena keseimbangan otaknya terjaga.

Tentu saja, pencapaian yang digapai oleh Prana di usia muda tak akan dapat tercapai tanpa adanya rasa percaya diri yang tinggi, dukungan orang tua, ketelatenan mengasah bakat, dan kebutuhan gizi yang baik.

Prana adalah contoh bahwa menjadi bakat musik dan dukungan orang tua saja tidak cukup. Dibutuhkan mental yang kuat dan fisik yang prima untuk jadi bintang di bidangnya.

 

Baca juga:

Tiga Anak Berbakat Indonesia Ikut Camp Asia di Singapura