Sering marah, Ini 5 tips untuk mengatasi frustrasi pada balita

lead image

Frustasi pada balita sebetulnya perilaku marah yang sangat besar akibat keinginan tidak terpenuhi. Perilaku ini disebut temper tantrum yang  sebenarnya adalah hal yang normal. Tetapi ada kondisi kemarahan yang tidak wajar dan perlu diwaspadai.

Berikut curhat seorang ibu sebut saja Cathy Neills, yang memiliki anak perempuan bernama Amelia, 2 tahun. Saat bangun dari tidur siang ia segera mulai menangis. Ketika Neills menanyakan apa yang salah, Amelia menunjuk ke pintu dapur.

Apakah cahaya terang yang masuk dari dapur menyakiti matanya? Neill pikir pasti itu, jadi dia menutup pintu. Tetapi Amelia tetap kesal dan lebih banyak air mata mengikutinya.  Sepuluh menit kemudian, Neills akhirnya menemukan jawabannya: Amelia lapar.

“Apa yang membuat Amelia frustasi? Kadang-kadang tidak bisa menggerakkan lengan dan kaki bonekanya seperti yang diinginkannya, atau menarik ritsleting. Terkadang hal-hal yang membingungkan saya. Seperti tidak dapat menuruni tangga dengan benar,” kata Neills.

Begitu banyak hal dalam hidup yang membuat frustasi pada balita. Mereka memiliki keinginan besar tentang apa yang mereka inginkan, tetapi tidak dapat selalu mengomunikasikannya dengan jelas. Mereka mudah diliputi oleh emosi, jadi tidak dapat menarik ritsleting dengan cepat dapat berubah menjadi tantrum.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/frustrated toddler article 300x300.jpg Sering marah, Ini 5 tips untuk mengatasi frustrasi pada balita

Balita yang frustasi

Ciri anak yang mengalami temper tantrum antara lain menangis, berteriak, sampai berguling-guling. Temper tantrum yang berlangsung setiap hari sebaiknya diwaspadai karena kemarahan tersebut berkaitan dengan rasa frustasi pada balita. Beberapa penelitian mengaitkannya dengan gangguan mental. Berikut tips untuk mengatasi frustasi pada balita :

1. Frustrasi adalah normal

Frustrasi pada balita tidak hanya normal, menurut Jenny Emerson dari Guelph, Ont. Rasa frustasi itu penting untuk perkembangan mereka. Balita belajar melalui trial and error. Ketika sesuatu tidak berhasil untuk mereka, mereka perlu mengalami frustrasi agar dapat melanjutkan ke langkah berikutnya.

“Kami tidak selalu bisa membuat segala sesuatunya lebih baik,” kata Emerson, “Tetapi kami harus berusaha untuk tidak membuatnya lebih buruk,” ujar orang tua pendidik dan ibu dari dua anak ini.

Apa yang membuatnya lebih buruk? Marah atau menghukum anak itu, kata Emerson. “Frustasi pada balita yang sering berperilaku buruk seperti menjerit dan memukul, reaksi orang tua biasanya memberi ancaman atau hukuman. Sebetulnya itu sama sekali tidak membantu,” katanya. Ada respons yang lebih produktif untuk membantu anak mengatasi situasi.

2. Tetap dekat dengan anak

Beberapa anak akan menerima dipegangi dan dihibur, sementara yang lain hanya membutuhkan Anda untuk tetap dekat dan menunjukkan empati. Neills mengatakan: “Saya telah belajar bahwa terkadang Amelia tidak ingin saya memeluknya, menyentuh dia, berbicara dengannya atau bahkan memberikan kontak matanya. Saya sering pergi, tetapi sekarang saya melihat bahwa dia membutuhkan saya di sana.”
Emerson memperingatkan sebaiknya jangan memberikan hukuman karena itu akan membuatnya merasa ditolak karena dalam kondisi tersebut anak butuh orang tua untuk menangani emosinya.

3. Frustasi bisa karena balita lapar

Frustasi pada balita akan terjadi jika mereka lapar, lelah atau stres. Jadi sebaiknya memperhatikan kebutuhan tersebut, sehingga dapat membantu mencegah frustrasi.

4. Beri dukungan

Semangati anak saat dia berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Berikan pula dukungan Anda saat dia merasa ingin berhenti dan menyerah. Namun, kasih juga ia kesempatan untuk menenangkan diri. Terkadang, berdiam diri sejenak adalah cara terbaik untuk meredam perasaan frustrasi, sebelum kemudian berusaha lagi

Lebih buruk, tentu saja, ketika Anda berada di depan umum dan terlihat kotor. Ketika anak-anaknya masih balita, Emerson sering membawa sebuah tanda yang mengatakan “tantrum sedang berlangsung” dan akan meletakkannya di tanah di samping dia menjerit, menendang anak. “Rasa malu yang kami rasakan ketika hal-hal ini terjadi, itulah masalah kami,” katanya. “Sungguh, semua orang ada di sana. Ini yang dilakukan balita.

5. Bersabarlah

Bukankah itu saran untuk setiap masalah balita? “Masalahnya adalah otak mereka belum dewasa,” kata Emerson. “Anda tidak bisa membuat balita tumbuh lebih cepat. Akhirnya, mereka akan lebih mampu menangani emosi mereka. Tapi itu akan butuh waktu. ”

* Nama diubah berdasarkan permintaan.

 

Sumber : Todays Parents

 

Baca Juga : https://id.theasianparent.com/ibu-sering-memarahi-anak

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.