Setelah melahirkan ibu ini menjilati bayinya, apa manfaatnya?

lead image

Seorang ibu yang baru saja melahirkan, menjilati bayinya yang masih  penuh lendir. Apakah ini jadi bagian ritual perawatan bayi baru lahir?

Seorang ibu yang baru saja melahirkan, menjilati bayinya yang masih  penuh lendir. Mengapa dia menunjukkan perilaku yang tidak biasa seperti ini? Apakah ini jadi bagian perawatan bayi baru lahir?

Jika banyak ibu yang langsung mendekap anaknya setelah proses melahirkan, kemudian menanti proses IMD berlangsung, namun tidak untuk ibu satu ini. Seorang ibu baru justru menjilati bayinya dan mengundang banyak pertanyaan.

“Mengapa dia menjilati bayinya?”

“Apakah aman untuk menjilati bayi yang baru lahir?”

“Apakah memang menjilati bayi yang baru lahir ada manfaatnya?”

“Apakah ini bagian dari perawatan bayi baru lahir?

Ini adalah beberapa pertanyaan yang diajukan. Tapi pertama-tama, mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi.

Ibu baru ini bernama Cátia dari Salvador, Brasil. Ia ternyata memiliki insting keibuannya yang berbeda dari ibu lainnya. Setelah melahirkan putranya, Kirone. Ia memutuskan untuk menjilati bayinya.

Apa yang dilakukannya ini memang sempat menjadi viral lantaran, peristiwa menjilati bayi seusai melahirkan diabadikan oleh fotografer bersalin Lady Siqueira dari Senhoritas Fotografia yang berhasil mengabadaikan momen tersebut. 

Melihat perilaku yang tak biasa ini tentu saja mengingatkan pada perilaku mamalia. Ya, bukankah Parents ingat bahwa sebagian besar mamalia menjilati anaknya?

Tapi bagaimana dengan manusia? Seorang ibu menjilati anak yang baru saja dilahirkan? Apakah memang bagian dari ritual perawatan bayi baru lahir?

Tapi, apakah Parents tahu bahwa budaya Tibet dan Eskimo (Inuit) masih mengikuti tradisi menjilati bayi ini?

Pakar dan perawat profesional kesehatan bersalin, Flor Cruz, mengungkapkan bahwa menjilati anak sebenarnya respon alamiah yang membantu ibu menjalin ikatan batin dengan bayi yang baru lahir untuk pertama kalinya.

Dia mengatakan, “Mamalia dikenal sering kali menjilat dan membersihkan anak mereka segera setelah lahir. Ini dilakukan karena beberapa alasan.”

Bagi mamalia ini dilakukan karena beberapa alasan, mulai dari menghilangkan aroma kelahiran, mengusir pemangsa, memulai sosialisasi, mencerna bekteri yang nantinya lewat ASI dapat memunculkan antibodi bagi anaknya.

Alasan lain juga tidak terlepas untuk ikatan atau bonding dengan bayi, serta untuk menstimulasi bayi dalam proses transisi menuju kehidupan di luar rahim.

“Sebagian besar dari kita memiliki dorongan untuk menjilat tetapi menahan dorongan untuk melakukannya. Dan kita telah mengembangkan naluri menjilat menjadi mencium bayi-bayi kita. Mencium mereka dengan penuh semangat dan mendekap mereka,” paparnya.

“Tetapi beberapa ibu masih memiliki dorongan kuat untuk menjilati bayi mereka yang baru lahir. Dan mereka melakukan itu sebagai kebutuhan fisiologis, panggilan dari leluhur, tindakan cinta, insting dan memastikan kelangsungan hidup anak-anak.”

Mengapa (kebanyakan) ibu tidak menjilati bayi baru lahir

Setelah Flor Cruz mengemukakan pandangannya di internet, banyak ibu yang menulis bahwa mereka semua memiliki naluri yang sama setelah melahirkan!

Menurut ahli saraf Alex Korb, kebiasaan menjilati bayi baru lahir memang umum seperti antara tikus, dan menawarkan banyak manfaat.

“Ternyata dijilat oleh ibu melepaskan neurotransmitter yang disebut oksitosin, yang memperkuat hubungan antara ibu dan bayinya, dan dapat mengurangi stres,” tulisnya dalam Psychology Today.

Faktanya, menjilati mamalia terjadi karena beragam alasan. Hal ini diungkapkan Lee Dugatkin, ahli biologi evolusi di Universitas Louisville dan rekan penulis buku 2017 Cara Mengatasi Rubah dan Membangun Anjing.

“Seseorang akan berhubungan dengan kesehatan – menyingkirkan makhluk jahat apa pun di permukaan kulit, seperti bakteri, virus, semacam itu,” kata Dugatkin kepada HowStuffWorks.

“Ini mungkin awal dari sistem pengenalan kimia antara ibu dan anak. Menjilati anak yang baru saja lahir merupakan salah satu cara untuk menyelesaikannya. Ada berbagai perilaku ikatan yang terjadi antara ibu dan anak, ”kata Dugatkin.

Lalu mengapa manusia berevolusi dari perilaku ini?

Hal ini mungkin terkait dengan perkembangan fisik tubuh manusia (ya, kita punya tangan untuk membersihkan), dan saat ini kita pun memiliki beragam fasilitas yang bisa digunakan untuk memberishkan bayi. 

Dugatkin berkata, “Belum ada seleksi [evolusioner] untuk menjilati anak-anak Anda. Kita bisa bersih-bersih tanpa menjilati.”

“Tebakan saya adalah bahwa kita memiliki begitu banyak cara lain untuk mendapatkan manfaat dan informasi yang terkait dengan menjilati. Indra visual dan sentuhan pada manusia sangat kuat. Kami sangat bergantung pada perilaku kognitif yang lebih canggih. Dugaan saya adalah bahwa menjilat sebenarnya tidak berguna. ”

Bagaimana pandangan Parents dengan ritual menjilat bayi setelah melahirkan?

 

Disadur dari artikel Jaya, theAsianparent Singapura

Baca juga:

Cukur rambut bayi sampai botak, haruskah dilakukan? Ini jawaban pakar