Rambut anak ini rontok setelah orangtuanya mendaftarkan ke 5 kursus demi masuk TK elit!

lead image

Benarkah stres bisa menjadi penyebab rambut anak rontok?

Seorang balita berusia 2,5 tahun bernama Tong Tong mulai mengalami kerontokan rambut setelah ia terdaftar di 5 kursus demi bisa lolos masuk sebuah TK elit di Cina. Semua ini berawal sekitar dua bulan lalu ketika orangtua Tong Tong menemukan rambut anak rontok di bantal.

Setelah menyadari ada sesuatu yang salah, orangtuanya mengawasinya setiap malam. Tak hanya rambut anak rontok, Tong Tong juga sering berkeringat saat tidur dan mengigau beberapa kali.

Dikira kekurangan kalsium

rambut anak rontok - tong tong

Awalnya orangtua Tong Tong menganggap rambut anak rontok karena kekurangan kalsium sehingga mereka membelikan suplemen kalsium di apotek. Namun keadaan justru semakin memburuk selama dua minggu berikutnya.

Tak hanya rontok, kulit kepala Tong Tong mulai timbul bercak-bercak. Melihat kondisi tersebut, ibunda Tong Tong membawanya kembali ke kampung halaman di Wuhan untuk menemui dokter spesialis kulit di rumah sakit.

Secara hati-hati, Dokter Goh memeriksa Tong Tong dan mendiagnosisnya menderita alopecia areata. Ini merupakan penyakit autoimun yang sering menyebabkan kerontokan rambut. 

Kondisi alopecia areata ini banyak terjadi pada orang dewasa dan remaja, namun jarang terjadi pada balita! Dokter mengatakan bahwa Tong Tong adalah pasien termuda yang menderita penyakit ini. 

“Apakah anak Anda sedang menghadapi perubahan besar dalam hidupnya?” tanya dokter pada ibunda Tong Tong. Setelah didesak oleh Dokter Goh, akhirnya ibunda Tong Tong menceritakan kondisi yang sebenarnya.

Ambisi orangtua membuat anak tertekan

Ibunya merasa persaingan untuk masuk TK semakin kompetitif dan ia menginginkan anaknya masuk ke sebuah TK yang memiliki reputasi sangat baik. Demi bisa masuk TK tersebut, semua calon murid harus melalui tes masuk dan hanya murid terbaik yang dapat terpilih.

Agar Tong Tong bisa menjadi salah satu murid di TK elit tersebut, sang ibu pun mendaftarkan anaknya mengikuti 5 jenis kursus berbeda, yaitu bahasa Inggris, Matematika, Piano, Seni, dan Kepribadian. Selamat tinggal pada masa anak-anak yang penuh kebahagiaan!

Sang ibu mengakui bahwa semua pelajaran dalam kursus ini memang diperlukan karena ia takut Tong Tong akan kehilangan kesempatan masuk TK elit tersebut. Kemudian, setiap kali sang balita menolak untuk duduk dan belajar, ibunya akan mendorongnya dengan mengatakan, “Kamu harus belajar dengan giat supaya bisa masuk TK.”

Bagaimana anak tidak stres dan tertekan menghadapi ini semua? Tak hanya Tong Tong yang mengalami stres karena menurut laporan, ibunya juga tidak bisa tidur hampir setiap malam karena memikirkan pendidikan anaknya.

Artikel terkait: Cara Mengenali dan Membantu Anak Atasi Stres Karena Ujian Sekolah

Penyebab rambut anak rontok

Benarkah stres menjadi penyebab kerontokan rambut pada anak? Sebaiknya Parents segera mencari tahu apa penyebab rambut anak rontok sebelum ia kehilangan kepercayaan dirinya akibat penampilan yang berbeda dibanding teman-temannya.

Jika berbicara masalah kerontokan rambut pada anak, sebenarnya ada beberapa faktor yang memengaruhi, baik yang bersifat medis maupun non-medis. Kerontokan rambut ini ada yang membutuhkan penanganan serius dari dokter, ada juga yang akan membaik seiring berjalannya waktu.

Penyebab non-medis rambut anak rontok

rambut anak rontok - kepangan

Sumber: Pinterest.

  • Rambut bayi baru lahir rontok di beeberapa bulan pertama kehidupannya dan diganti dengan rambut yang lebih permanen
  • Penggunaan bahan kimia yang keras dan berbahaya dalam perawatan rambut
  • Mengeringkan rambut menggunakan hair dryer dengan suhu yang terlalu tinggi
  • Menguncir, mengepang, atau mengikat rambut terlalu kencang
  • Kebiasaan menyisir atau menyikat rambut anak yang masih dalam keadaan basah

Kerontokan rambut anak yang bersifat non-medis dapat diatasi dengan menghindari faktor-faktor penyebab tersebut di atas.

Penyebab medis rambut anak rontok

1. Tinea Capitis

rambut anak rontok - tinea capitis

Sumber: edoctoronline.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur, biasa dikenal sebagai kurap di kulit kepala. Pada kulit kepala akan muncul bercak-bercak bersisik yang menyebabkan rambut rontok.

Bercak-bercak ini berbentuk bulat maupun oval. Helai rambut bisa patah dan menyisakan titik-titik hitam di kulit kepala.

Waspada!

Penyakit ini bersifat menular. Hindari bersentuhan dengan anak yang menderita penyakit ini. Berkonsultasilah ke dokter untuk mendapatkan resep obat minum dan juga shampo yang dapat mencegah pertumbuhan jamur di kulit kepala.

2. Alopecia Areata

Berbeda dari penyakit sebelumnya, alopecia areata tidak menular. Penyakit ini disebabkan oleh sistem imun tubuh yang menyerang folikel rambut.

Bercak-bercak juga muncul di kulit kepala namun tidak bersisik, berbentuk bulat atau oval dengan permukaan yang lebih lembut.

Waspada!

Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini, namun perawatan yang baik dapat mengontrol kemunculan penyakit ini. Pada beberapa kasus, penyakit alopecia areata berkembang menjadi alopecia totalis (kehilangan seluruh rambut), sementara yang lain mengalami alopecia universalis (kehilangan semua bulu-bulu tubuh).

3. Trichotillomania

rambut anak rontok - Trichotillomania

Sumber: ABCnews.

Kerontokan disebabkan karena kebiasaan anak menarik, menjambak kecil, memutar, atau menggosok rambutnya. Kerontokan rambut bersifat tidak merata dan ditandai dengan rambut patah yang panjangnya bervariasi.

Kebotakan terlihat pada sisi di mana tangan anak lebih dominan.

Waspada!

Penyebab kerontokan ini biasanya akibat stres yang dialami anak. Misalnya ketika ia kehilangan sang kakek yang meninggal, kelahiran adiknya, atau bahkan stres karena pelajaran di sekolah.

Bila Parents melihat anak suka menarik-narik rambut, melarang atau memarahinya tak akan membantu menghentikan kebiasaan ini. Bawalah anak menemui psikolog untuk konseling sehingga penyebab stres dapat diketahui.

4. Telogen effluvium

Kondisi ini terjadi ketika tiba-tiba terjadi peristiwa yang membuat stres. Contoh peristiwanya adalah demam tinggi, operasi dengan dibius, kematian orang yang dicintai, luka parah, atau pengobatan dengan resep tertentu – kondisi inilah yang menghambat siklus normal pertumbuhan rambut.

Folikel rambut secara prematur berhenti tumbuh dan memasuki fase istirahat. Sekitar 6 – 16 minggu setelah rambut berhenti tumbuh, kemudian kerontokan yang berlebihan terjadi. Akibatnya, kepala mengalami kebotakan sebagian atau seluruhnya.

Waspada!

Penyakit ini tidak dapat terdeteksi dan tidak ada obatnya. Ketika peristiwa yang menegangkan sudah berlalu, pertumbuhan rambut berangsur-angsur kembali normal.

5. Nutrisi tidak seimbang

rambut anak rontok nutrisi tidak seimbang

Sumber: Heal Remedy.

Meski jarang terjadi, namun rambut anak rontok bisa menjadi pertanda bahwa tubuhnya kekurangan beberapa nutrisi yang sebenarnya diperlukan oleh tubuh. Misalnya vitamin B kompleks maupun zinc.

Rambut anak rontok juga bisa jadi gejala kelebihan vitamin A. Pola makan yang seimbang dengan makanan yang bervariasi bisa mencegah kerontokan rambut.

Waspada!

Berkonsultasilah dengan dokter anak sebelum memberikan suplemen vitamin pada anak.

6. Masalah endokrin

rambut anak rontok - masalah endokrin

Sumber: Remain Healthy.

Pada beberapa anak, penyebab rambut rontok adalah hipotiroid, suatu keadaan di mana tiroid kurang aktif sehingga jumlah hormon tiroid kurang mencukupi untuk mengatur metabolisme tubuh. Anak harus melakukan tes darah untuk mengetahui apakah ia menderita hipotiroid.

Waspada!

Pengobatan dan terapi terhadap hipotiroid harus memperhatikan beberapa faktor, seperti: usia anak, riwayat kesehatan, dan toleransi tubuh anak terhadap pengobatan serta terapi.

***

Ada banyak penyebab mengapa rambut anak rontok. Jika Parents mencurigai adanya permasalahan kerontokan rambut terutama jika disebabkan oleh hal-hal bersifat medis, sebaiknya segera temui dokter anak Anda.

Semoga artikel ini bermanfaat.

 

Referensi: World of Buzz, WebMD

Baca juga:

6 Tips Atasi Anak Stres Menghadapi Ujian Sekolah

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.