Penelitian; Menstruasi dini pada anak perempuan disebabkan oleh minuman ini

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Banyak yang mengira menstruasi dini pada anak disebabkan kelainan hormon. Penelitian terbaru mengungkap penyebab haid lebih awal karena sebuah minuman.

Sebuah penelitian terbaru di Harvard mengungkap fakta mencengangkan tentang penyebab menstruasi dini, yakni minuma bersoda. Konsumsi minuman mengandung pemanis buatan ini, membuat anak perempuan bisa mengalami haid lebih awal daripada normal.

Menstruasi dini bisa terjadi karena berbagai faktor. Normalnya, anak perempuan mengalami haid pertama di usia 12 tahun atau lebih. Tapi, jika ia sudah mendapat tamu bulanan di usia sepuluh tahun atau kurang, hal ini tidak normal.

Risiko kesehatan akibat menstruasi dini

Tempo melaporkan sebuah studi di Inggris tahun 2010 yang menyatakan, menstruasi dini sebelum usia 12 tahun berisiko tinggi terkena penyakit jantung. Studi ini melibatkan 15.807 perempuan berusia 40-79 tahun dengan masa penelitian selama 13 tahun.

Peneliti menemukan 3.888 perempuan lebih berisiko terkena penyakit jantung, termasuk stroke. Sekitar 1.903 perempuan meninggal, 640 diantaranya disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler, sedangkan 782 lainnya terkena kanker.

Apa penyebab menstruasi dini?

Selama ini dipercayai bahwa penyebab terjadinya menstruasi dini ialah polusi, kelainan produksi hormon di otak dan indung telur, hingga lemak berlebih atau obesitas. Baru-baru ini penelitian mengungkap fakta mencengangkan tentang penyebab haid lebih awal pada anak perempuan.

Studi yang dipublikasikan di Jurnal  Human Reproduction ini mengemukakan bahaya gula cair yang dikonsumsi anak-anak mengakibatkan perubahan hormon secara permanen di dalam tubuh anak perempuan.

Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan di Harvard School of Public Health. Mereka menemukan bahwa konsumsi soda menjadi salah satu penyebab terjadinya menstruasi dini.

Karin Michels, seorang profesor di Harvard  Medical School mengungkapkan dalam press release ke media, "Penelitian kami menambah kekhawatiran terhadap konsumsi pemanis buatan dalam minuman anak-anak dan remaja di seluruh dunia."

"Kecemasan terbesar adalah obesitas pada anak, akan tetapi penelitian kami malah mengungkap bahwa menstruasi dini terjadi pada kelompok anak perempuan yang paling tinggi konsumsi minuman dengan tambahan pemanis buatan," ujar Karin seperti dikutip dari Medical Daily.

Artikel terkait: Seperti halnya alkohol, asupan gula berlebih bisa rusak otak anak

Karin juga menekankan bahwa penemuan ini sangat penting untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya menstruasi dini.

Para peneliti dalam studi ini mengikuti 5.583 anak perempuan dengan rentang usia 9-14 tahun. Dalam durasi waktu dari tahun 1996 hingga tahun 2001, mereka menemukan bahwa anak yang minum lebih banyak minuman manis mengalami haid pertama lebih awal.

Mereka yang mengkonsumsi lebih dari satu setengah porsi minuman manis per hari dalam kurun waktu lima tahun, akan mengalami menstruasi 2,7 bulan lebih awal dibanding mereka yang mengkonsumsi kurang dari dua porsi minuman yang sama per minggu.

menstruasi dini

Bahaya minuman mengandung pemanis buatan seperti soda bisa menyebabkan menstruasi dini.

Dalam studi ini, peneliti sudah menghitung indeks massa tubuh, tinggi badan, kalori harian, kebiasaan olahraga, dan faktor gaya hidup lainnya. Mereka menemukan, minuman bersoda dan minuman manis lainnya adalah akar masalah.

"Penemuan kami memberikan dukungan lebih lanjut pada usaha kesehatan untuk mengurangi konsumsi minuman manis," kata Karin Michels.

Setelah tahu bahayanya minuman manis kemasan dan soda, sudah saatnya Parents membatasi minuman tersebut pada anak-anak, baik anak perempuan maupun anak lelaki. Minuman manis memang enak dan menyegarkan, namun dampak buruknya di masa depan sangatlah mengerikan.

 

Baca juga:

8 Efek Buruk Kafein dalam Kopi dan Soda untuk Anak-anak

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Bigger Kids Kesehatan