3 Penyebab Utama Alergi pada Balita dan Cara Mengatasinya

3 Penyebab Utama Alergi pada Balita dan Cara Mengatasinya

Selain faktor genetik, tiga hal ini bisa jadi penyebab balita mengalami alergi.

Parents, alergi pada balita menjadi masalah kesehatan yang kerap dikeluhkan. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi tidak normal terhadap hal yang sebenarnya tidak berbahaya. Dengan kata lain, imunitas tubuh menangkap keliru suatu zat merugikan tubuh. Apa pun zat yang menimbulkan reaksi alergi disebut alergen.

Mengutip Podcast Curhat Bapak dan Ibu bertajuk Cegah Alergi Si Kecil & Deteksi Risiko Sejak Dini Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, Prof. DR. dr. Budi Setiawan, Sp.A (K), M.Kes., memaparkan bahwa sebanyak 30-40% penduduk dunia mengalami alergi tak terkecuali Indonesia.

Faktor Penyebab Alergi pada Balita

Sayangnya, belum diketahui apa penyebab pasti balita bahkan bayi bisa mengalami alergi. Namun, genetik dipercaya merupakan penyebab utama terjadinya kondisi ini.

Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, Prof. DR. dr. Budi Setiawan, Sp.A (K), M.Kes., menyebutkan bahwa alergi rentan pada anak yang memang memiliki bakat bawaan atau disebut atopik. Kondisi ini diturunkan dari salah satu atau kedua orangtua. Untuk itu, penting bagi orangtua menelisik riwayat alergi keluarga yang mana akan menentukan persentase alergi yang dialami anak.

“Anak yang tumbuh dalam keluarga atopik risiko alerginya mencapai 60%, tetapi kalau kedua orangtua punya riwayat sama semisal sama-sama asma risiko anak akan meningkat hingga 80%,” terang Prof. Budi. Di samping genetik, beberapa hal berikut juga menjadi penyebab alergi.

1. Makanan

Faktanya, di Indonesia anak yang berpotensi mengalami alergi susu sapi mencapai 7,5%. Selain susu sapi, telur juga menjadi alergen nomor 1 pemicu alergi anak Indonesia. Kendati berbeda untuk setiap orang, berikut beberapa jenis makanan yang dapat menimbulkan alergi:

  • Susu sapi; jenis minuman yang dialami 2-3% anak berusia di bawah 3 tahun bereaksi terhadap protein dalam produk susu sapi atau susu formula berbahan dasar susu sapi. Selain itu, protein juga dapat ditemukan pada makanan olahan dan memicu alergi. Namun, kebanyakan anak mampu mengatasi alergi susu sapi
  • Telur. Mudah diolah, telur ditemukan dalam banyak makanan favorit anak. Tetapi, makanan ini juga sekaligus memicu alergi. Walaupun begitu, alergi ini dapat teratasi seiring bertambahnya usia anak
  • Ikan dan kerang. Faktanya, jenis makanan ini menjadi penyebab utama alergi pada orang dewasa dan bisa terjadi pada anak. Mengingat makanan ini berasal dari famili berbeda, bukan berarti Anda bisa mengalami alergi keduanya sekaligus
  • Kacang-kacangan. Aneka macam kacang-kacangan dapat menimbulkan alergi antara lain almond, kenari, kacang pecan, hazelnut, dan kacang mede. Kebanyakan orang tidak bisa mengatasi alergi terhadap kacang
  • Kedelai. Alergi terhadap kedelai sering terjadi pada bayi, yaitu protein yang ada dalam susu formula kedelai. Tak berbeda dengan susu sapi, protein kedelai juga kerap tersembunyi dalam makanan siap saji
  • Gandum. Protein gandum ditemukan di banyak makanan dan reaksinya dapat membahayakan nyawa

2. Lingkungan

Beberapa hal umum ditularkan melalui udara dan memicu alergi, yaitu:

  • Tungau. Tungau merupakan serangga mikroskopis yang hidup di sekitar kita dan memakan jutaan sel kulit mati yang jatuh dari tubuh kita setiap hari. Mereka adalah komponen alergi utama dari debu rumah. Tungau hidup di tempat tidur, kain pelapis, dan karpet
  • Serbuk sari. Sering disebut demam mawar, serbuk sari adalah komponen yang dilepaskan dari pohon dan rerumputan untuk menyuburkan tanaman lain. Jumlah partikel kecil ini biasanya lebih tinggi di pagi hari dan hari yang hangat, kering, serta berangin
  • Jamur, ini tumbuh subur baik di dalam maupun di luar ruangan dalam lingkungan yang hangat dan lembab. Di luar ruangan, jamur dapat ditemukan di area drainase yang buruk, seperti tumpukan daun yang membusuk atau tumpukan kompos. Di dalam ruangan, jamur tumbuh subur di tempat gelap dan berventilasi buruk seperti kamar mandi dan ruang bawah tanah yang minim udara
  • Bulu hewan peliharaan. Bagi Anda yang memelihara hewan, serpihan kulit mati dan air liur hewan adalah alergen utama. Saat hewan membersihkan diri dan air liur di bulunya mengering, partikel protein terbawa udara dan bisa menimbulkan alergi
  • Kecoa juga merupakan alergen rumah tangga utama, terutama di pusat kota. Paparan bangunan yang dipenuhi kecoa mungkin menjadi penyebab utama tingginya tingkat asma pada anak-anak di dalam kota

Baca juga: 4 Tanda Si Kecil Alergi Susu Sapi

3. Lain-lain

Faktor lain juga menjadi penyebab alergi pada balita antara lain serangga, obat-obatan tertentu, dan bahan kimia. Sengatan serangga biasanya hanya menimbulkan gatal di area gigitan, namun bisa menyebabkan gejala serius bagi penderita alergi. Pewarna, pembersih rumah tangga, dan pestisida yang digunakan pada halaman rumput atau tanaman juga dapat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian orang.

Beberapa anak juga mengalami apa yang disebut reaksi silang. Misalnya, anak-anak yang alergi terhadap serbuk sari mungkin mengalami gejala saat mereka makan apel karena apel terdiri dari protein yang mirip dengan yang ada di serbuk sari.

Bahkan, orang dengan alergi lateks (bahan sarung tangan lateks dan beberapa jenis peralatan rumah sakit) lebih cenderung alergi terhadap makanan seperti kiwi, chestnut, alpukat, dan pisang dengan alasan yang belum jelas.

Untuk menemukan solusi tepat dalam mencegah dan mengatasi alergi si kecil, Bunda bisa mendeteksi dan cari tahu dengan melakukan tes di cekalergi.com

Atasi Alergi pada Balita dengan Produk yang Tepat

Mengetahui faktor penyebab alergi dapat memberikan panduan perihal langkah apa yang bisa Parents lakukan untuk mencegah alergi berlanjut. Utamanya bagi anak yang belum pernah mengalami alergi tetapi risikonya tinggi.

Langkah yang perlu dilakukan yaitu mendeteksi seberapa besar risiko alergi pada anak, mengingat genetik adalah faktor utama. Periksakan Si Kecil ke dokter untuk mengetahui kemungkinan yang ada, serta sejauh mana alergi dapat ditoleransi.

Pemberian makanan pendamping ASI juga bisa menjadi cara untuk mengetahui apakah anak alergi terhadap makanan tertentu. Ayah dan Bunda dapat melakukan tes berkala, caranya dengan memberikan makanan yang sama selama beberapa hari dan amati adakah reaksi alergi yang muncul.

Tak kalah penting, penting bagi Parents memerhatikan dengan seksama nutrisi yang diberikan pada anak agar gizi dapat terpenuhi. Memberikan produk susu yang tepat akan menyokong ketahanan tubuh dan membantu mencegah risiko alergi sejak dini agar tumbuh kembang tak terganggu.

Morinaga Chil Kid Soya MoriCare Triple Bifidus dan Morinaga Chil Kid P-HP MoriCare Triple Bifidus merupakan pertama dan satu-satunya formula susu alergi di Indonesia yang mengandung nutrisi sinbiotik (probiotik dan prebiotik) dengan 3 strain Bifidobacteria (Bifidobacteria longum BB536, Bifidobacteria breve M-16V dan Bifidobacteria infantis M-63) yang terbukti secara klinis dapat menurunkan gejala alergi pada si kecil seperti ruam pada kulit, batuk, pilek, dan asma pada saluran napas, mual dan muntah pada pencernaan.

Morinaga Chil Kid Soya MoriCare Triple Bifidus dan Morinaga Chil Kid P-HP MoriCare Triple Bifidus sudah memenuhi kebutuhan pertumbuhan si kecil karena mengandung 3,4 g/100kkal yang sudah disesuaikan dengan susu formula pertumbuhan anak lainnya (non alergi).

Morinaga Chil Kid Soya MoriCare Triple Bifidus turut mendukung Tumbuh Kembang Optimal si Kecil yang Alergi Susu Sapi karena mengandung 100% protein kedelai berkualitas tinggi yang tidak mengandung protein susu sapi dan laktosa. Difortifikasi dengan metionin dan sistin, sehingga memiliki nutrisi protein yang setara dengan protein susu sapi.

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner