Pentingnya Meningkatkan IQ Sekaligus EQ Anak Sejak Dini

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Memiliki anak yang cerdas adalah dambaan setiap orangtua. Namun kecerdasan tidak hanya bergantung pada IQ saja, EQ atau kecerdasan emosional juga penting bagi kesuksesannya di masa mendatang.

Membesarkan anak yang cerdas adalah prioritas bagi para orangtua jaman sekarang. Tapi apa sebenarnya arti dari anak yang cerdas?

Sebagian besar dari kita mengasosiasikan “kecerdasan” dengan IQ (intelligence quotient) atau kecerdasan kognitif, yang mengukur kemampuan anak seperti pemecahan masalah, penalaran, berpikir abstrak, dan memahami ide-ide baru.

Memang benar bahwa dalam banyak kasus, skor IQ anak dapat memprediksi tingkat kompleksitas kognitif yang bisa ia tangani. Namun, skor numerik pada kertas tes tentu tidak mewakili kecerdasannya secara keseluruhan.

Karena itulah, dalam bincang seputar ‘meningkatkan IQ dan EQ si kecil sejak dini’ pada event Baby Bash perdana di Indonesia yang lalu, Bebelac memaparkan tentang pentingnya EQ (emotional quotient) atau kecerdasan emosional pada anak.

Bebelac percaya akan pentingnya membesarkan seorang anak yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tapi juga memiliki belas kasihan, kemampuan untuk menyampaikan kebaikan pada orang lain, dan bisa bersimpati maupun berempati dengan baik.

Anak yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) yang baik, akan mampu menggunakan kecerdasan kognitifnya (IQ) untuk berbuat baik dan memiliki kepribadian yang kuat atas apa yang mereka anggap benar.

Apa itu kecerdasan emosional (EQ)?

pentingnya kemampuan EQ bagi anak

 

“Bagaimanapun tingginya IQ, EQ adalah yang menentukan seberapa baik kita menggunakan kecerdasan,” kata Daniel Goleman, PhD, seorang psikolog Harvard yang mempopulerkan gagasan EQ dengan buku best seller-nya, ‘Emotional Intelligence’.

Anak yang memiliki empati, kesadaran diri, mudah berbaur dengan lingkungannya, secara alami akan memiliki kemampuan belajar yang baik di masa mendatang. Dan sebaliknya, anak yang kurang matang secara emosional, yang katakanlah tidak dapat mengendalikan dorongan impulsifnya, lebih cenderung memiliki masalah akademik.

Seperti IQ, EQ juga setidaknya sebagian merupakan bawaan, atau genetis. Tapi hanya melalui stimulasi dan nutrisi yang baik selama masa kanak-kanak lah, kecerdasan emosional dapat dibentuk.

Nutrisi yang tepat, dapat membentuk anak hebat yang cepat tanggap dan juga punya rasa peduli dengan kemampuan sosial yang tinggi. Untuk itu, memastikan anak tetap mendapatkan nutrisi yang baik setelah masa menyusui, adalah pilihan yang penting.

Status nutrisi yang tepat tersebut mestinya memiliki kandungan energi dan protein, 12 vitamin dan 9 mineral, kalsium, vitamin D, zat besi, dan zinc – seperti yang terkandung dalam susu Bebelac. Bebelac juga mengandung IcFOS/scGOS yang membantu fungsi saluran cerna, serta DHA, asam linoleat dan omega 3.

Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan emosional anak, orangtua harus bisa menyadari perasaan anak, mampu berempati, menghibur, dan membimbing anak dalam keseharian mereka.

Dengan peran aktif orangtua, anak dapat memiliki kemampuan untuk mengendalikan dorongan hati, menunda pemuasan sesaat, memberi motivasi diri mereka sendiri, membaca isyarat sosial orang lain, dan menangani kondisi naik-turunnya kehidupan.

Langkah-langkah untuk meningkatkan EQ anak

Memupuk EQ anak sejak dini berarti mengajari anak untuk mengerti dirinya, bertanggung jawab serta menghargai orang lain. Selain itu, juga mendukung anak menjadi lebih percaya diri dan memiliki tingkah laku yang baik.

Anak yang memiliki EQ tinggi cenderung memiliki hubungan yang lebih baik terhadap anggota keluarga, teman sekolah, ataupun orang lain yang ia temui dalam kehidupannya sehari-hari. Berikut langkah-langkah yang bisa Parents lakukan untuk mengasah kecerdasan emosional anak.

1. Ajak anak mengenali dirinya

Bertanyalah pada diri Anda sendiri, “Siapakah aku?”

Dapatkah Anda menjawabnya dengan mudah? Begitu pula dengan anak Anda, ajaklah ia untuk mengenal siapa dirinya, apa saja kelebihan dan kelemahan yang ia miliki, termasuk bakat dan minatnya.

Semakin ia tahu kemampuan dirinya, semakin tinggi rasa percaya dirinya. “Kamu bisa,” adalah ucapan yang memberikan dukungan moral pada saat anak ragu akan kemampuan dirinya.

2. Ajari anak agar menerima kelemahan diri

Setelah mengetahui kelebihan dan kelemahan yang ia miliki, ajarlah agar ia menerimanya. Hal ini juga akan mengajarinya untuk dapat menerima kekurangan orang lain.

Tidak ada salahnya Anda berkata “Maaf,” saat Anda tidak dapat menepati janji kepadanya. Anak Anda akan belajar menerima kekurangan orang lain dan ia akan terbiasa meminta maaf pula bila melakukan kesalahan.

3. Ajari anak agar ia menghargai diri sendiri

Mulailah dengan cara paling sederhana, misalnya memberikan kebebasan meminta menu sarapan yang ia inginkan, atau memilih baju yang ia ingin gunakan.

Berikan tugas kecil kepadanya agar ia merasa bangga dan puas bila berhasil menyelesaikannya tanpa bantuan Anda.

4. Bangun konsep diri yang positif pada anak

Caranya, hargai setiap keberhasilan yang dilakukan anak. Ucapkan “Terima kasih,”, “Bagus”, “Pertahankan,” adalah salah satu contoh penghargaan Anda terhadap usahanya.

Dengan cara ini anak akan merasa percaya diri akan kemampuannya. Ia tahu apa yang dapat ia lakukan. Dan ia pun akan menjadi anak yang mandiri dan tidak selalu merengek minta bantuan.

Semoga informasi ini bermanfaat ya, Parents. Untuk tips dan penjelasan lebih lanjut akan pentingnya menyelaraskan EQ dan IQ anak, Parents bisa mengunjungi website www.bebeclub.co.id dan bergabung dengan para orangtua lainnya untuk berdiskusi lewat Bebe Talk.

 

Baca juga:

Tips Parenting: 17 Cara untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak

 

 





Better Parenting