Penjual mainan anak keliling dilarang masuk desa ini, kok bisa?

lead image

Baca alasannya mengapa warga melarang penjual mainan. Apakah Parents setuju dengan hal ini?

Parents pasti pernah dong menemukan penjual mainan anak keliling yang suka lewat di depan rumah? Selain murah, anak pasti senang punya mainan baru tanpa harus menunggu Si Ayah punya waktu mengantarkan ke toko mainan besar.

Namun, kesenangan itu tak berlaku di Desa Karanganyar, Sambungmacan, Sragen. Sebab penjual mainan anak keliling malah dilarang masuk desa ini jika menjual dagangannya di atas harga Rp 5 ribu.

Penjual mainan anak keliling dilarang masuk desa Karanganyar

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/mainan sragen.jpg Penjual mainan anak keliling dilarang masuk desa ini, kok bisa?

Dilansir dari Solopos, pelarangan itu telah dikonfirmasi oleh Ketua RT setempat. Awalnya warga memberikan larangan lisan penjual mainan anak untuk masuk ke desanya jika menjual mainan dengan harga di atas Rp 5 ribu.

Setelah larangan lisan beredar di kalangan warga desa, kemudian pihak karang taruna juga membuat kesepakatan dan menuliskan larangan tersebut di lokasi hajatan warga desa Karanganyar.

Persoalan utama yang diungkapkan oleh warga desa tersebut ialah keberatan dengan harga jualnya jika di atas Rp 5 ribu. Harga tersebut dianggap sangat memberatkan, apalagi jika anak memintanya sampai menangis karena orangtuanya tak membelikan lantaran tak ada uang.

Beberapa orangtua juga menceritakan beberapa kali mereka harus berutang demi membelikan anak-anaknya mainan karena tak mengerti bahwa orangtuanya tak memiliki dana untuk membelikan mainan baru.

Desa-desa lainnya juga turut melarang penjual mainan anak keliling

Larangan penjual mainan anak keliling ternyata tak hanya diberlakukan di satu desa. Beberapa desa sekitar juga membuat larangan serupa, salah satunya ialah desa Plumbon.

Pelarangan ini juga dikonfirmasi oleh Siswodiyono (60) warga desa Plumbon. Menurutnya warga desa sudah cukup terbebani dengan iuran warga ketika ada hajatan warga. 

“Bagi yang mampu tidak masalah, bagi yang tidak mampu malah jadi persoalan,” ungkapnya.

Selain Plumbon, ada juga desa Bayan Mahbang yang memiliki peraturan serupa untuk melarang penjual mainan keliling masuk jika menjual mainannya dengan harga di atas Rp 5 ribu. Anak-anak seringkali merengek agar dibelikan mainan, padahal jatah harian jajan mereka tidak sebesar itu.

Meskipun kesepakatan larangan itu terus berkembang di antara warga desa, Kepala Desa Karanganyar malah mengaku tidak mengetahui adanya larangan tersebut. Jadi mungkin hal itu menjadi kesepakatan warga tanpa perlu dilaporkan ke desa.

Persoalan ini menyisakan iba di kedua belah pihak. Dari sisi penjual, tentu ia juga harus mencari untung agar keluarganya di rumah tetap bisa makan untuk melanjutkan hidup. Sementara dari sisi warga desa, mereka keberatan jika anaknya terus-terusan meminta dibelikan mainan dengan harga yang cukup mahal.

Kira-kira, apa sih yang akan Parents lakukan jika anak merengek meminta mainan setiap kali penjual mainan anak lewat? Apakah Parents setuju dengan kebijakan warga desa yang diberlakukan di Karanganyar di atas?

Baca juga:

17 mainan anak jaman dulu yang sering bikin keasyikan hingga lupa waktu

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.