Simak Penjelasan Dokter Tentang Hoax Vaksin HPV Menyebabkan Menopause Dini

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Hoax Vaksin HPV yang menyebabkan menopause dini beredar melalui sosial media. Sebelum mempercayai kabar tersebut, simak penjelasan dokter berikut ini.

Belakangan ini, ramai beredar pesan Whatsapp yang berisi soal kabar yang menyatakan bahwa vaksin HPV (Human Pappiloma Virus) dapat menyebabkan menopause dini adalah hoax.

Kabar ini sempat membuat para orang tua panik lantaran di beberapa sekolah dasar Jakarta sedang gencar untuk membagi vaksin HPV.

hoax-vaksin

Beredarnya hoax ini membuat para tenaga medis geram. Pasalnya, Indonesia termasuk dalam negara dengan pasien kanker seviks terbaik. Salah satu penanggulangan kanker serviks tersebut salah satunya adalah lewat vaksin.

Salah satu yang memberikan penjelasan adalah pemilik akun facebook Fabiola Stella. Dalam postingannya, ia menulis:

PELURUSAN HOAX VAKSIN KANKER SERVIKS/ VAKSIN HPV –

Infeksi Humanpapilloma Virus (HPV) adalah faktor risiko paling penting pada terjadinya kanker serviks atau leher rahim. Virus HPV memiliki 150 jenis subtipe dan dapat menginfeksi sel-sel di saluran alat kelamin, anus, dan tenggorok, kulit, bibir, lidah. Penularan dapat terjadi melalui kontak seksual vaginal, anal dan oral.

Selain kanker serviks, HPV juga dapat menyebabkan penyakit kondiloma atau “jengger ayam” pada alat kelamin luar baik pria maupun wanita, kanker penis, kanker pada anus, kanker mulut, dan kanker vagina.

HPV dibagi menjadi low-risk HPV (HPV resiko rendah, misalnya tipe HPV-6 dan HPV-11) yang ‘hanya’ menyebabkan penyakit kondiloma dan high-risk HPV (HPV resiko tinggi, misalnya tipe HPV-16, HPV-18, HPV-31, HPV-33, HPV-45) yang dapat menyebabkan berbagai jenis kanker.

Penularan HPV tidak hanya melalui kontak seksual, tetapi juga melalui kontak berbagai bagian tubuh yang dapat terinfeksi HPV.

Tidak semua perempuan yang terinfeksi HPV pasti akan menderita kanker serviks. HPV merupakan faktor terpenting terjadinya kanker serviks, tetapi ada faktor2 resiko lain yang mendukung terjadinya kanker serviks.

REKOMENDASI CDC:

Vaksin HPV diberikan pada anak perempuan 11-12 tahun, sebanyak 3 dosis. Vaksin masih dapat diberikan hingga wanita usia 26 tahun.

MENGAPA DIBERIKAN PADA USIA MUDA ?

Hasil uji klinis menunjukkan bahwa pada wanita diatas 26 tahun, vaksin HPV tidak memberi keuntungan seefektif bila diberikan pada usia lebih muda.

APAKAH JIKA SUDAH VAKSIN HPV DIJAMIN BEBAS KANKER SERVIKS SEUMUR HIDUP ?

Tidak. Vaksin HPV melindungi dari jenis – jenis HPV yang paling beresiko tinggi, tetapi HPV tipe lain diluar itu pun juga masih mungkin menyebabkan kanker serviks.

APA SAJA JENIS VAKSIN HPV DAN APA BEDANYA ?

– Cervarix : melindungi dari HPV tipe 16 dan 18
– Gardasil : melindungi dari HPV tipe 6, 11 16, 18
– Gardasil 9 : melindungi dari HPV tipe 6, 11 16, 18, dan ekstra HPV tipe 31, 33, 45, 52, 58

APAKAH VAKSIN HPV MENYEBABKAN GANGGUAN HORMON ATAU MENOPAUSE DINI ?

SAMESEKALI TIDAK ! Cara kerja vaksin HPV sama dengan vaksin2 lain, yaitu dengan merangsang pembentukan antibodi.
Hal ini SAMASEKALI TIDAK BERKAITAN DENGAN HORMON APALAGI MENOPAUSE !

MENGAPA VAKSIN HPV INI BEGITU PENTING (sampai – sampai harus digratiskan) ?

Kanker serviks merupakan KANKER PEMBUNUH NOMOR DUA untuk perempuan Indonesia, namun RESIKO MENDAPAT KANKER SERVIKS DAPAT DIMINIMALISIR dengan vaksinasi !

Sumber :

https://www.cancer.gov/…/infectious-…/hpv-vaccine-fact-sheet

http://www.who.int/cancer/country-profiles/idn_en.pdf

http://www.cdc.gov/…/hpv/stdfact-hpv-vaccine-young-women.htm

Dalam hal kesehatan, ia menyarankan para orang tua untuk mencari sumber yang kompeten terlebih dahulu daripada langsung menyebarkan kabar yang belum pasti kebenarnnnya.

“Orang tua bisa lihat situs Web MD, CDC, atau WHO. Kalau yang bahasa Indonesia, cari saja dari website kemenkes,” ujar Fabiola menyarankan.

Pekerja di Marienstift Evangelisches Krankenhaus Jerman yang mendalami ilmu penyakit dalam ini merasa bahwa masyarakat yang memakan mentah-mentah hoax bukanlah berasal faktor eksternal (hukum, UU, dll). Melainkan adanya faktor internal seperti kemampuan bernalar dalam menyerap maupun mencari informasi.

Statusnya telah dibagikan oleh lebih dari 600 akun facebook dan mendapatkan ratusan komentar.

Pemberian vaksin ini lebih efektif diberikan pada anak-anak maupun seseorang yang belum aktif secara seksual (sexually active). Dengan rentang usia antara 9-28 tahun.

Kalaupun seorang sexually active melakukan vaksinasi HPV, maka hasilnya tak akan seoptimal jika diberikan saat ia masih kecil

Hal ini ditegaskan oleh dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD. Ia mengungkapkan bahwa sejak tahun 2010 Amerika Serikat sudah merekomendasikan vaksin HPV pada usia 9 tahun. Indonesia merekomendasikan vaksin tersebut untuk anak usia 9 tahun sejak 2014.

Vaksinolog lulusan University of Siena, Italy ini mengungkap tentang mahalnya vaksin tersebut. Sehingga Kemenkes baru menyediakannya untuk DKI Jakarta secara gratis pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Ia berharap provinsi lain akan segera menyusul.

“Baca penjelasan di Twitter/Facebook saya. Baca penjelasan resmi Kemenkes. Biasakan baca dari sumber yang resmi,” sarannya mengenai beredarnya banyak hoax seputar vaksin HPV ini.

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menyesalkan banyaknya orang Indonesia yang masih lebih sering percaya pada hoax daripada sesuatu yang ilmiah. Padahal, sumber resmi seperti Kemenkes sudah sering memberikan penjelasan.

Vaksin yang mahal dan masih terbatas membuat program BIAS vaksin HPV belum merata ke seluruh Indonesia. Namun, bagaimanapun vaksin tersebut harus tetap diberikan.

“Makanya kita harapkan ke depan provinsi lain jg ada program Kemenkes ini. Bertahap lah,” tutupnya.

Gerakan anti vaksin tak hanya terjadi di Indonesia. Di negara Amerika, Eropa, Afrika, dan belahan dunia lain. Gerakan anti vaksin Amerika berdiri pada tahun 1879 yang diikuti oleh pendirian Liga Anti vaksin Inggris pada tahun 1882 dan Liga Anti Vaksin New York pada tahun 1885.

Hingga kini, gerakan anti vaksin masih terus disuarakan dengan berbagai alasan. Namun, gejolak politik pilihan gubernur ini adalah kasus unik di mana penolakan atas vaksin didasarkan pada sentimen rasisme dan politik jelang pilihan gubernur DKI Jakarta.
Tak ada ruginya mengecek lebih dulu kebenaran sebuah pesan berantai dari sosial media, apalagi jika itu menyangkut isu kesehatan. Karena pengabaian fakta akan sangat berakibat fatal.
Baiknya, mulai sekarang kita berhati-hati dalam menyebarkan kabar ya, Parents. Agar nanti tak ada pihak yang akan dirugikan.

Baca juga:

Seorang Ibu Menyesal Telah Menolak Vaksin Bagi Anak-anaknya

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Berita Kesehatan ibu dan anak