Pengalaman Seorang Suami Menjadi Bapak Rumah Tangga Selama 3 Bulan

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Awalnya, Keir merasa tugas menjadi bapak rumah tangga adalah hal yang mudah. Namun dalam waktu singkat, ia sadar bahwa menjadi orangtua adalah tugas yang berat. Keir pun kini lebih menghargai istrinya, yang lebih kuat dalam menjalani tugas tersebut.

Sampai saat ini, masih banyak ayah yang mengira bahwa pekerjaan mengurus anak sekaligus rumah tangga adalah hal yang mudah dilakukan. Karena saat mereka pulang, rumah dalam keadaan bersih, anak-anak terlihat manis dan penurut. Berbeda halnya jika mereka pernah merasakan menjadi bapak rumah tangga penuh waktu.

Itulah yang coba dirasakan oleh Keir Mackenzie, ia menulis di laman Telegraph tentang pengalamannya menjadi bapak rumah tangga yang justru membuka mata, betapa beratnya tugas sang istri selama ini.

Ayah dua anak ini, melihat bahwa istrinya selalu terlihat santai. Karena itu, saat ia memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga, dengan mengambil cuti selama 3 bulan dari kerja, Keir menyangka bahwa ia akan bertambah gemuk.

Akan tetapi, di luar dugaan, Keir malah kehilangan banyak berat badannya. Dikarenakan stres yang ia alami selama menjadi bapak rumah tangga.

“Aku hanya bisa menyalahkan diri saya sendiri, ide tersebut datang dariku. Aku melihat istriku menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga, menghasilkan rumah yang bersih, makanan matang, dan anak yang tidur lelap setiapkali aku pulang ke rumah. Terus terang, sepertinya itu pekerjaan mudah, jadi aku menawarkan diri untuk bertukar peran,” ungkap Keir.

Pada tanggal 2 Januari 2013, Bryony istri Keir pergi ke Manchester untuk bekerja sebagai wartawan BBC. Satu jam sebelumnya, anak mereka Frank yang saat itu berusia 20 bulan, mengalami muntah-muntah.

Bryony hanya berkomentar tentang pemilihan waktu yang buruk. Dan tetap pergi meninggalkan Keir dengan tugasnya yang baru, sebagai bapak rumah tangga.

Lima hari kemudian, Frank berangsung sembuh. Namun bagi Keir, hal itu bukan berarti segalanya berubah menjadi lebih baik.

“Ternyata, anakku tidak suka tidur, setidaknya saat sedang bersamaku. Aku membuat kesalahan dengan membawanya ke kamar tidurku ketika ia sakit. Kini setelah dia sembuh, Frank tidak suka tidur di kamarnya sendiri,” kata Keir

“Dia lebih suka tetap terjaga hingga pukul dua malam, dan meneriakkan ‘aku menemukanmu!’ di telinga ayahnya. Kemudian ia tertawa keras. Kedengarannya memang lucu, tapi sebenarnya tidak.”

Hal tersebut berjalan hampir setiap hari. Namun kegiatan harian mereka baru dimulai pukul setengah enam pagi. Akibat kurang tidur, Keir mulai merasakan stres. Dia berharap bisa beristirahat saat anaknya berada di Playgroup.

Akan tetapi, Keir juga menemui kekecewaan di sini. Ia awalnya mengira bahwa di Playgroup, anak-anak akan bermain dalam kelompok, dan orangtua bisa duduk tenang mengawasi sambil bersantai minum teh.

“Setelah menghadiri sekitar 60 hari di Playgroup, aku merasa berhak untuk menawarkan alternatif nama sekolah, ganti saja dengan Fight Club (tempat berkelahi),” ujar Keir dengan gusar.

“Balita ternyata sama sekali tidak bisa bermain bersama dengan baik. Aku menyadari itu di hari pertama, ketika Frank memukul wajah anak lain dengan mobil-mobilan plastik. Dua jam di Playgroup selalu habis untuk mengejar anakmu ke sana ke mari, dan berdoa semoga anak yang ingusan dan batuk-batuk tidak akan menular pada anakmu.” Keir menambahkan.

Keir bersama Frank

Pria yang bekerja di sebuah perusahaan penyiaran ini, awalnya sempat berharap untuk bisa berbagi kesusahannya menjadi orangtua penuh waktu, dengan para bapak rumah tangga yang lain. Akan tetapi, saat ia bertemu dengan ayah lain di Playgroup atau di pusat hiburan, mereka jarang sekali membuat kontak mata dengannya.

Keir memaparkan, “Secara perlahan, aku menyadari alasannya. Para pria tidak suka berbincang dengan pria lain saat mereka merasa tidak sedang menjadi ‘pria sejati’. Dan kenyataan pahit yang harus dihadapi ialah, menjadi bapak rumah tangga membuat maskulinitas berkurang.”

Keir yang dulunya selalu berurusan dengan deadline pekerjaan, dan menikmati obrolan dengan rekan kerja di kantor, kini menghabiskan waktu untuk mencermati isi dari popok, mengobrol dengan ibu-ibu tentang kebiasaan tidur anak-anak. Atau malah mencemaskan kaitan antara banyaknya waktu yang dihabiskan Frank untuk menonton kartun dengan kenyataan bahwa Frank baru saja memukul wajahnya.

“Sebelumnya aku hanya memberikan nafkah secara keuangan, kini aku menyediakan sarapan, makan siang dan teh untuk Frank,” ucap Keir.

Selain berjuang menjadi orangtua yang baik bagi Frank, Keir juga harus mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga. Seperti mencuci baju, bersih-bersih, dan berbelanja. Orangtua yang diam di rumah hampir tidak memiliki waktu untuk melakukannya, namun hal tersebut malah termasuk dalam tugas yang harus dikerjakan.

“Aku dan Frank hidup di dalam rumah yang berantakan,” aku Keir.

Bahkan, usaha Keir untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga secara online tidak berhasil dengan baik. Keadaan itu mencapai puncaknya ketika dia memberitahu Bryony bahwa mereka hanya punya ikan goreng dan salad saat makan malam.

“Bryony mengatakan tidak mau makan itu, aku bertanya mengapa. Dia bilang dia bukan anak umur 14 tahun, dan ingin makan roti dengan pasta humus saja. Dan ketika aku katakan bahwa aku lupa membeli pasta humus, dia marah-marah. Karena belanja adalah tugasku, dan aku lupa membelinya, padahal aku tahu dia suka pasta humus.”

Peristiwa ini membuat Keir sadar, betapa sering dia pulang kerja dan mengeluh saat menu makan malam tak sesuai keinginannya, atau bertanya mengapa makanan favoritnya tidak ada di meja. Perlahan-lahan, Keir mulai menghargai hal-hal kecil tersebut.

“Saya menghabiskan banyak waktu untuk menjadi orang bodoh dalam pernikahan kami,” ujarnya.

Setelah Bryony kembali ke rumah, dan mereka menjalani peran masing-masing seperti sebelumnya. Keir mengakui kesalahannya pada sang istri, bahwa ia telah salah menganggap bahwa menjadi orangtua adalah tugas yang mudah.

Menjadi orangtua adalah pekerjaan terberat yang bisa kau miliki. Kurangnya interaksi dengan orang dewasa, rutinitas yang monoton, dan kelelahan yang teramat sangat. Akhirnya aku menyadari, menjadi orangtua sepanjang minggu, sangatlah berbeda dengan hanya menghabiskan waktu di akhir pekan bersama anak-anak.”

Tentu saja, tidak semua hal yang dilalui Keir selama 3 bulan menjadi bapak rumah tangga penuh waktu adalah negatif. Dalam jangka waktu tersebut, Keir dan Frank membentuk ikatan istimewa.

“Frank bilang, dia ingat waktu dimana ‘Ayah menjaganya’. Dan dia berharap untuk selalu berada di sampingku. Tentu saja ini membuktikan bahwa, ada kenangan yang melekat dalam ingatannya.”

Selain itu, kini Keir juga memiliki hubungan yang lebih baik dengan istrinya. Terutama karena sekarang ia memahami, dan benar-benar menghargai kerja berat yang Bryony lakukan setiap hari.

Keir lebih menghargai istrinya Bryony setelah merasakan menjadi bapak rumah tangga

Setelah menjalani tuntutan sebagai orangtua penuh waktu, Keir merasa bahwa kehidupan pekerjaan yang dijalaninya seperti sebuah liburan. Ia menikmati suara berisik kereta yang ditumpanginya setiap hari, dia juga lebih menghargai waktu dimana ia bisa bersantai untuk membaca, atau sekedar melihat ke luar jendela tanpa takut ada makanan yang dilemparkan ke kepalanya.

“Tempat kerja yang dulu terlihat membuat stres, sekarang tampak seperti taman bermain. Bagian terbaiknya ialah, aku bisa minum teh dan makan kue kapanpun aku mau,” pungkasnya.

Untuk para Ayah, beranikah mencoba jadi bapak rumah tangga penuh waktu seperti Keir? Paling tidak, jangan selalu meremehkan apa yang Bunda kerjakan di rumah ya Ayah.

Ungkapan terima kasih dan tidak mengeluh sudah cukup untuk istri Anda. Mari lebih menghargai pekerjaan rumah tangga yang dilakukan istri di rumah setiap hari.

 

Baca juga:

Pengakuan Suami Setelah Merasakan Beratnya Dampingi Istri Paska Melahirkan





Kisah Mengharukan