Kisah Nyata: Pengakuan Seorang Pedofil yang Melakukan Kekerasan Seksual Pada Lebih dari 1000 Anak

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Pelecehan seksual terhadap anak semakin sering diberitakan, Kenali pola pikir pelaku pedofil ini untuk mencegah anak kita menjadi korban.

Pelecehan seksual kini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, bahkan anak-anak pun tak luput menjadi korban. Kita sebagai orangtua tentunya menjadi was-was saat mendengar berita tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak. Kenali pola pikir pelaku pedofil ini untuk menghindari anak kita menjadi korban.

Alan X, pelaku kekerasan seksual pada lebih dari 1000 anak

Amy Hammel-Zabin, Ph.D, seorang psikolog dengan menggunakan terapi musik di Universitas New York membagikan pengakuan seorang pelaku pedofil sebagai bahan peringatan pada orangtua.

Amy menulis di Phsycology Today pada tahun 2003, tentang cara berpikir Alan X yang saat itu ditangkap karena telah melecehkan lebih dari seribu anak.

Ketika itu, Amy bekerja sebagai terapis di penjara, di sanalah ia bertemu dengan Alan dan melakukan konseling. Dari sesi konselingnya bersama Alan, Amy menemukan fakta bahwa pelaku pemerkosaan atau pelecehan seksual pada anak tidak selalu bersembunyi di semak-semak, atau menyerang secara tiba-tiba.

Justru sebaliknya, pelaku terlebih dahulu berteman dan membangun kepercayaan korbannya, sehingga korban bersedia melakukan apa saja yang diinginkan si pelaku.

Alan menceritakan pada Amy, pertama kali dia melakukan pelecehan seksual saat dirinya berusia 7 tahun. Di sana ia berhasil membujuk seorang anak lelaki berusia lima tahun masuk ke dalam gudang bersamanya, kemudian menyuruh anak tersebut untuk membuka celananya di depan Alan.

Alan merasa sangat senang saat anak tersebut menuruti permintaannya, tidak ada kontak fisik yang Alan lakukan. Ia hanya memandangi anak tersebut beberapa menit, kemudian menyuruh anak itu memakai kembali celananya. Setelah menyuap anak itu agar tutup mulut, mereka keluar dari gudang.

Alan mengaku, meski tidak melakukan kontak fisik. Dirinya merasakan kenikmatan saat melihat anak kecil itu membuka celana, dia merasa senang membuat anak itu telanjang di hadapannya. Tapi tidak semenyenangkan saat anak itu pertama kali berusaha membuka celana.

Latar belakang keluarga Alan termasuk normal, dia adalah bungsu dari tiga bersaudara. Berasal dari keluarga menengah pekerja, Alan tak pernah mengalami kekerasan seksual.

Keluarga Alan termasuk dingin dan jarang menampakkan kasih sayang, pola komunikasi mereka berpusat pada latihan intelegensi dan tata krama. Tidak ada sesi curhat, maupun berbagi perasaan dan perhatian yang seharusnya dilakukan oleh sebuah keluarga.

Saat Alan memasuki usia sekolah, ia terkejut dengan menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dengan yang selama ini dikenalnya. Tak berapa lama kemudian, Alan menemukan kenikmatan dalam masturbasi.

Alan melihat orang lain sangat berbeda dengan dirinya, namun Alan juga menikmati saat ia bisa bermasturbasi bersama anak lelaki lain. Saat sedang bermasturbasi sambil bercumbu dengan temannya, ia tertangkap basah dan dilaporkan ke orangtuanya.

Ibu Alan merasa sangat marah, dan untuk pertamakalinya Alan melihat ibunya menampakkan emosi. Ibu Alan membawa Alan ke kamar mandi dan berusaha membasuh tubuh Alan dari ‘kotoran’.¬†“Hanya orang-orang miring, sakit dan jahat yang melakukan hal-hal seperti itu!” teriak ibunya.

Secara perlahan, Alan mengembangkan metode kontak dengan anak lelaki yang menjadi targetnya. Biasanya Alan akan mengajak jalan-jalan anak tersebut, kemudian membuatnya membuka diri.

Alan menemukan satu kunci penting kesuksesannya sebagai pelaku pelecehan seksual: kepercayaan yang dihasilkan dari kemauan untuk mendengarkan.

Alan mendengarkan curhatan para anak lelaki yang menjadi targetnya, berbagi rahasia dan apapun yang ada dalam pikiran mereka. Saat anak-anak tersebut sudah mempercayainya, Alan akan menggunakan rahasia mereka sebagai senjata untuk melakukan keinginannya.

Metode yang dilakukan Alan ialah, membangun kepercayaan, serta keinginan untuk memiliki rahasia. Pertamakali ia akan menguji apakah anak tersebut mampu menjaga rahasia dengan melakukan masturbasi di depan anak itu. Bila terbukti anak tersebut bisa menjaga rahasia, Alan akan meningkatkan prosesnya.

Dengan metode seperti itu, Alan membangun sebuah rahasia yang jika ketahuan maka anak yang menjadi korbannya akan merasa bersalah. Rahasia menjadi senjata dalam kepercayaan yang Alan bangun bersama anak-anak itu.

Alan mempelajari hal-hal yang membuat targetnya merasa rapuh, sehingga mereka selalu datang pada Alan untuk curhat dan mengeluh mengenai masalah keluarga mereka. Dalam sesi curhat tersebutlah, Alan melakukan aksi kejahatannya, dengan terlebih dahulu membujuk si anak agar mau melakukan hal tersebut dengannya.

Alan tertangkap setelah seorang ibu melihat foto polaroid anaknya dalam posisi berhubungan seksual dengannya dan melaporkannya, setelah itu korban-korban lain juga datang untuk mengajukan tuntutan. Alan dinyatakan bersalah dengan hukuman berurut tanpa ada pembebasan bersyarat.

Apa yang harus kita lakukan?

Kisah Alan menjadi peringatan bagi semua orangtua, agar selalu menjadi teman dekat bagi anak. Bila kita memiliki keterbukaan pada anak, tentunya dia akan selalu menceritakan apa yang terjadi padanya di luar rumah, termasuk bila ada orang yang berlaku tak senonoh padanya.

Relasi antara anak dan orangtua seharusnya bisa menjadi seperti sahabat, anak seringkali mencari teman bicara di luar karena merasa tidak mempercayai orangtuanya. Karena itu, berusahalah mendengarkan anak.

Sekonyol apapun cerita mereka, meskipun rahasia yang mereka ceritakan sangat sepele, tetap dengarkan dia. Dari hal-hal sepele tersebut, anak akan mempercayakan rahasia besarnya pada kita dan akan memudahkan kita memberi penjagaan mental saat anak tidak berada di dekat kita.

Bangun kepercayaan dengan anak, beri ia perhatian yang cukup sehingga ia tidak akan mencari perhatian di tempat lain. Siapapun bisa menjadi korban, orang di sekitar kita bisa menjadi pelakunya.

Namun Anda tak perlu menjadi paranoid, tetap awasi anak namun tidak mengekangnya. Beri ia pengertian dan pendidikan seksual sejak dini, bahwa tidak ada siapapun yang boleh menyentuh bagian intim tubuhnya dengan alasan apapun.

 

Baca juga:

Cara Mengenali dan Mendeteksi Jika Anak Mengalami Pelecehan Seksual





Better Parenting