Pedofil mengaku sebagai petugas, dua remaja jadi korban pelecehan

lead image

Korbannya dua orang remaja dan pelaku merupakan penjahat yang berulangkali keluar masuk penjara.

Kasus pelecehan seks pada anak kembali terjadi di Singapura, kali ini korbannya dua orang remaja. Pelaku berpura-pura sebagai petugas developer rumah yang sedang melakukan pengecekan. Hingga berhasil mengajak korbannya untuk masuk ke dalam apartemen yang sepi.

Kronologi pelecehan seks pada anak di Singapura

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/pelecehan seksual pada anak 1 2.jpg Pedofil mengaku sebagai petugas, dua remaja jadi korban pelecehan

Pelaku bernama Hussain Samat, berusia 52 tahun. Dia bekerja sebagai petugas kebersihan di komplek apartemen yang ditinggali korban. Pada bulan Mei 2017, dia mendatangi kediaman korban dan mengaku sebagai perwakilan developer apartemen untuk menyelidiki sebuah masalah yang terjadi di komplek tersebut.

Hussain mengatakan, bahwa korban telah meninggalkan sampah di tempat umum yang membuat penghuni lain protes. Ibu korban yang mendengarnya membantah hal tersebut dan menyurush Hussain pergi. Akan tetapi, tak lama setelah pergi Hussain kembali ke rumah korban dengan sebuah dokumen dan pena. 

Hussain mengatakan bahwa salah seorang anggota keluarga harus menandatangani dokumen yang menyatakan keluarga mereka tidak meninggalkan sampah di tempat umum.

Saat anaknya yang berusia 16 tahun menawarkan diri untuk tanda tangan, Hussain mengatakan si anak harus ikut bersamanya untuk mengumpulkan tanda tangan dari penghuni lain. Tapi ternyata, korban malah dibawa ke apartemen Hussain.

Di sana, gadis malang tersebut dilecehkan oleh Hussain. Tak berhenti sampai di situ, Hussain juga merekam aksi tak senonohnya terhadap gadis itu dengan kamera ponsel.

Tak puas hanya mendapat satu korban, Hussain mengancam gadis malang itu untuk memanggil adiknya yang berusia 12 tahun ke apartemen Husssain. Takut karena diancam dengan pisau, korban terpaksa memanggil adiknya ke apartemen Hussain. Kedua kakak beradik itu menjadi korban pelecehan seks yang dilakukan Hussain. 

Setelah 4 jam berada di apartemen Hussain, korban secara diam-diam mengirim pesan pada teman sekolahnya meminat pertolongan. Teman tersebut kemudian melapor ke polisi. Polisi datang menggrebek apartemen Hussain, dan menemukan kedua korban dikunci di toilet. 

Pelaku pelecehan seks terhadap remaja dihukum 20 tahun penjara

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/jail 1543443109.jpg Pedofil mengaku sebagai petugas, dua remaja jadi korban pelecehan

Pada tanggal 14 November 2018, Hussain mengakui semua kejahatannya. Pelecehan seks, percobaan pemerkosaan, hingga mengaku sebagai petugas gadungan untuk mengelabui korban. Dia juga dijerat hukuman akibat 21 tindak pidana lainnya. Jaksa Umum meminta Hussain diberi hukuman berat, yakni 20 tahun penjara tanpa jaminan.

Hussain merupakan seorang penjahat yang sering mengulangi kejahatannya sejak tahun 1985. Dia keluar masuk penjara karena terlibat narkoba, perampokan, hingga menyakiti orang lain.

Jaksa Umum David Khoo mengatakan, hukuman maksimal 20 tahun penjara bagi Hussain adalah langkah tepat untuk melindungi masyarakat dari tangan hitamnya.

Putusan hukuman bagi Hussain akan dijatuhkan pada pengadilan lanjutan tanggal 17 Desember mendatang.

Artikel terkait: Bagaimana Menjauhkan si Buah Hati dari Pelecehan Seksual?

Pelajaran dari kasus pelecehan seks anak remaja di Singapura

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/pelecehan.jpg Pedofil mengaku sebagai petugas, dua remaja jadi korban pelecehan

Dari kasus ini, kita belajar bahwa predator seksual bisa menggunakan berbagai trik untuk melancarkan aksinya. Karena itu, orangtua harus selalu waspada jika menemui orang asing yang mengaku-ngaku sebagai petugas. 

Berikut adalah tindakan yang harus Anda lakukan jika ada seseorang yang muncul mengaku sebagai petugas:

  • Minta kartu tanda pengenal sebagai petugas pelayanan publik. Petugas gadungan pastinya akan menghindar dan menolak untuk memberikan kartu identitasnya. 
  • Jangan pernah membiarkan anak perempuan atau saudara perempuan Anda pergi sendirian dengan lelaki dewasa. Apalagi bila pria tersebut adalah orang asing. 
  • Telepon pihak berwenang, seperti RT/RW atau pemilik bangunan. Anda juga bisa meminta satpam untuk datang memeriksa kebenaran identitas petugas tersebut. 
  • Segera hubungi polisi jika anak Anda tidak juga kembali setelah beberapa jam dia pergi bersama orang asing yang mengaku sebagai petugas.

 

 

Disadur dari artikel Kevin Wijaya dari theAsianparent Singapura

Baca juga: 

6 Tahun cabuli anak tiri, pelaku: "Saya khilaf"

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.