Pelajaran Parenting dari Tewasnya Hasandra, Korban Sinetron 7 Manusia Harimau

lead image

Pengasuh Pondok Parenting HARUM memberi tips agar peristiwa tewasnya bocah korban sinetron 7 Manusia Harimau tidak terjadi pada anak-anak kita.

src=https://id.theasianparent.com/wp content/uploads/2015/05/meniru adegan berbahaya e1431005589606.jpg Pelajaran Parenting dari Tewasnya Hasandra, Korban Sinetron 7 Manusia Harimau

Agar kejadian Hasandra, korban sinetron 7 Manusia Harimau tak terulang, cegah anak meniru adegan berbahaya melalui komunikasi yang baik.

Kita kembali tekejut saat mendengar berita tewasnya seorang anak SD kelas 1 seusai bermain meniru adegan laga dalam sinetron “7 Manusia Harimau”.

Kejadian yang bermula dari permainan pura-pura ini tidak disangka membawa akibat buruk bagi Hasandra.

Seperti dilaporkan oleh Tribun Pekan Baru, Hasandra bermain bersama temannya meniru adegan silat dalam sinetron laga “7 Manusia Harimau” yang ditayangkan oleh salah satu stasiun swasta.

Salah satu teman Hasandra memukul bagian belakang kepala Hasandra dengan gagang sapu. Akibatnya, sejak saat itu Hasandra pun mulai sulit menggerakan anggota badannya karena bagian syaraf kapalanya mengalami gangguan.

Agar anak tidak meniru adegan berbahaya seperti 7 Manusia Harimau

Sebagai orangtua, tentulah kita miris mendengar kejadian di atas. Bisa jadi, perasaan khawatir pun timbul di hati kita. Bagaimana jika si Kecil pun suka meniru adegan laga atau perkelahian yang ia tonton?

Berawal dari kasus korban film “7  Manusia Harimau” di atas, kami berdiskusi dengan Bunda Noor Ruly Abyz Wigati, pengasuh Pondok Parenting HARUM, tentang bagaimana mencegah terjadinya kejadian serupa pada anak-anak kita.

1. Kedekatan dan komunikasi efektif dengan anak

“Bagi saya, membangun kedekatan dengan anak itu adalah kunci utamanya, agar nantinya kita bisa menyampaikan pesan dan penanaman nilai kebaikan sebagai upaya pencegahan prilaku negatif, apapun bentuknya,” papar Bunda Wigati saat mengomentari berita yang menimpa Hasadra.

“Secara sistematik urutannya begini; ketika kelekatan anak dan orangtua terbangun dengan baik, orangtua akhirnya akan mengenal konsep diri anak, termasuk gaya belajarnya, sehingga orangtua akan mampu berkomunikasi dengan efektif pada anak,” ungkap Bunda Noor lebih lanjut.

Menurut Bunda, komunikasi efektif inilah yang akan menjadikan proses penyampaian pesan dan penanaman nilai juga keteladanan berlangsung lebih baik.

2. Membatasi tontonan dan mendampingi anak saat menonton

Pembatasan tontonan dan pendampingan anak saat menonton tentu harus tetap dilakukan. Kerjasama dengan pihak sekolah tentang pengawasan terhadap anak juga perlu dibina.

Anak-anak seringkali tidak bisa menolak saat diajak temannya bermain pura-pura sebagai jagoan atau meniru adegan laga yang bisa berbahaya. Untuk itu mengajari anak untuk berani memberi batasan kepada teman-temannya juga perlu kita lakukan.

3. Penegasan bahwa semua hanya pura-pura dan bermain

Kalimat seperti, “Kita cuma main-main, ya. Nggak boleh pukul beneran, apalagi pukul kepala. Ibu/ayah nggak mau yang serem-serem seperti itu,” perlu selalu kita ingatkan kepada si Kecil agar ia tidak bermain melewati batas.

 

Semoga kejadian yang menimpa Hasandra tidak lagi menimpa anak lain ya, Parents. Mari kita dampingi si Kecil saat menonton televisi sambil terus membangun komunikasi positif dengan mereka.

Like our Facebook, Follow our Twitter @AsianParentID, and join our Google+