10 Foto dan Kisah Para Ibu Pejuang Cesar yang Luar Biasa

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Ibu pejuang cesar adalah mereka yang berani mengambil risiko menjalani operasi demi sang bayi, mereka menyandang luka bekas operasi dengan bangga, bukti cinta mereka yang melimpah pada sang buah hati.

Ibu pejuang cesar adalah mereka yang berjuang melahirkan melalui operasi cesar, bertaruh nyawa, dan harus menanggung bekas luka seumur hidup demi sang bayi. Namun, masih saja ada anggapan bahwa ibu yang melahirkan cesar bukan ibu yang sempurna.

Bagi para ibu pejuang cesar, mereka tentu merasa sedih atas anggapan bahwa dirinya tidak sempurna, dan dianggap tidak merasakan proses persalinan yang sesungguhnya.

Padahal, persalinan lewat operasi juga butuh perjuangan dan keberanian. Persalinan cesar dan vaginal sama-sama memiliki risiko yang besar.

Baca: 3 Fakta Tentang Ibu Melahirkan Cesar yang Harus Diketahui

Melalui Huffington Post, 10 orang ibu di Amerika membagikan kisah mereka menjalani operasi, dan apa yang mereka rasakan setelahnya.

Bagi seorang perempuan, seringkali bekas luka dianggap mengurangi kecantikan mereka, namun para ibu pejuang cesar ini menyandang luka mereka dengan bangga.

1. Aku mencintai bekas luka ini, ia seperti tersenyum padaku (Ligia, 37 tahun)

ibu pejuang cesar

“18 bulan yang lalu, ketubanku pecah pada sabtu malam, dan baru pergi ke rumah sakit pada hari minggu siang. Aku mencoba untuk menghindari prosedur medis sebisa mungkin. Karena aku takut, dan aku pikir akan sangat baik jika bisa melahirkan dengan normal.” Ligia bercerita.

Ligia memang menginginkan agar ia bisa melahirkan bayinya dengan normal, namun ketika sampai hari senin sore dan bayinya belum juga lahir, dokter kandungan mulai merasa khawatir.

Tekanan darah Ligia mulai menurun, tim dokter mulai menemukan tanda bahwa kemungkinan bayi Ligia sulit untuk lahir secara normal. Mereka menyarankan untuk melakukan operasi cesar, dan Ligia yang sudah merasa lelah dan kelaparan setelah mengalami kontraksi sejak sabtu malam langsung menyetujuinya.

“Aku mencintai bekas lukaku. Saat aku bercermin, kadang aku berpikir bahwa bekas luka itu tersenyum padaku, seperti mengungkapkan keberhasilan kami,” ungkap Ligia menambahkan.

Ligia mengaku bahwa dirinya merasa takut saat tiba-tiba dokter mengatakan akan membelah tubuhnya untuk mengeluarkan si bayi. Namun Ligia menyadari bahwa itu adalah pilihan terbaik untuknya.

“Aku tidak merasa melewatkan apapun,” pungkasnya.

2. Saya harus tetap tenang, atau semua akan berakhir (Mara, 41 tahun)

ibu pejuang cesar

Setelah mengalami dua kali keguguran dan hamil untuk ketiga kalinya, Mara selalu berpikir bahwa mungkin dia akan keguguran lagi. Namun ternyata kehamilannya berjalan lancar hingga usia 37 minggu.

“Mereka memberiku suntikan induksi, dan semuanya berjalan lancar, hingga kemudian dokter menyatakan bahwa mereka tidak bisa menemukan detak jantung bayiku,” ungkap Mara.

Dokter kandungan yang dikenal Mara selama 15 tahun berkata dengan tenang pada Mara, “Apakah kamu ingat tentang apa yang bisa terjadi pada operasi cesar darurat? Saya akan memberi kode untuk melakukannya, karena jika saya menggerakkan tangan, si bayi tidak akan selamat. Saya akan mulai berteriak dan semua orang akan mulai bekerja. Tapi saya berjanji semuanya akan baik-baik saja.”

Mara mengatakan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang bisa bersikap tenang, apalagi kelahiran putri keduanya kali ini sangat berbeda dengan kelahiran anak pertamanya lewat persalinan normal.

Mara berusaha untuk tidak panik saat tahu bahwa tali pusar keluar dari tubuh Mara sebelum si bayi keluar.

“Saya adalah orang yang mudah merasa gila, tapi saya langsung tahu bahwa saat itu saya harus bisa bersikap tenang. Atau semuanya akan berakhir. Mereka membawaku ke ruang operasi, dan disanalah putriku lahir.”

Meski telah merasakan dua proses persalinan yang berbeda, Mara tetap mencintai proses kelahiran itu dengan kadar yang sama.

2. Luka ini memberitahuku bahwa kedua bayiku ada bersamaku (Jody, 42 tahun)

ibu pejuang cesar

“Saya melahirkan anak kembar perempuan 8 bulan yang lalu. Saya menjalani bedrest sejak usia kandungan 26 minggu karena rahim saya yang lemah. Para dokter berpikir bahwa usia kandungan saya tidak akan lebih dari 28 minggu, namun saya berhasil melewati minggu ke-32 dengan melakukan semuanya di tempat tidur. Saya makan dan berolahraga di tempat tidur.”

“Saya percaya bahwa saya akan mampu melahirkan kedua bayi saya, dan saya tetap meyakini hal tersebut hingga jadwal operasi cesar saya tiba. Saya sangat bersemangat menjalani operasi, itu pengalaman yang menyenangkan,” ungkap Jody dengan hati berbunga.

“Saya dan suami sudah mencoba punya anak selama beberapa tahun, dan saya ingin memeluk mereka. Dan tahu tidak? Saya mencintai luka bekas operasi ini, luka ini menunjukkan bahwa kedua bayiku ada di sini.”

4. Aku berharap perasaanku dimaklumi (Susan, 32 tahun)

ibu pejuang cesar

“Aku menjalani operasi cesar saat melahirkan putri pertamaku, dia berusia lima tahun sekarang. Aku berencana untuk melahirkan secara normal, namun setelah mengalami kontraksi selama 15 jam, dokter datang dan memeriksa keadaanku, dia tidak bisa menemukan dimana posisi kepala bayiku, detak jantungnya juga melambat. Dokter mengatakan bahwa itu tidak baik, dan harus melakukan operasi cesar saat itu juga.”

Susan mengaku dirinya merasa hancur, ia ingat bahwa dirinya menangis saat menandatangai surat persetujuan operasi. Susan merasa ketakutan, dan detik itu ia menyadari bahwa dia kehilangan kesempatan untuk mendorong bayinya keluar.

“Aku bersyukur putriku ada di sini dan sehat, namun aku merasa kehilangan. Semua orang di sekitarku mengatakan, mengapa aku harus merasa sedih padahal bayiku sehat? Aku merasa bahwa apa yang kurasakan direndahkan dan tidak dianggap penting, aku marah selama berbulan-bulan.”

Perasaan tersebut akhirnya bisa hilang dari diri Susan setelah ia berhasil melahirkan putri keduanya secara normal. Hal tersebut sangat penting bagi Susan. Seakan perasaan kalah yang ia alami saat harus menjalani cesar terbayar dengan kelahiran putri keduanya secara normal.

“Tetapi, aku tetap berharap bahwa perasaanku dulu dimaklumi, berharap bahwa saat itu ada orang yang mengatakan padaku bahwa tidak mengapa aku memiliki perasaan tersebut,” ujar Susan.

Kini Susan sedang melanjutkan pendidikannya di bidang kesehatan, dengan spesialisi perawat untuk proses kelahiran. Susan ingin semua ibu bisa menerima dukungan, apapun perasaan yang dimiliki terhadap operasi cesar. Itulah tujuan yang ingin ia capai.

5. Pengalaman yang merendahkan hati (Molly 37 tahun)

ibu pejuang cesar

“Mereka memantau kontraksi yang kualami, denyut jantung Milo turun sangat rendah. Itu terjadi selama beberapa jam, hingga akhirnya dokter kandungan mengatakan, bahwa Milo harus segera dikeluarkan.”

Molly merupakan penggemar berat serial Grey’s Anatomy, ia meminta tim dokter yang mengoperasinya agar berpura-pura sedang syuting dan bersikap dramatis. Setelah itu, Molly tak mampu mengingat hal lain dengan jelas.

Molly menyadari bahwa kemungkinan ia hanya akan memiliki satu anak, sehingga ia ingin merasakan semua pengalaman secara natural sebisa mungkin. Operasi cesar yang ia jalani tak membuatnya berkecil hati.

“Aku tidak menyesal, malah aku berharap bisa mengulangi pengalamanku di hari itu, setiap tahun,” ujarnya.

Melihat foto tubuhnya yang memiliki luka bekas operasi, Molly mengaku itu membuatnya merasa rendah hati. Molly selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai tubuhnya, tak peduli apapun.

“Aku melakukan hal yang baik untuk menjaga tubuhku, aku juga mengandung seorang manusia selama sembilan bulan. Meski aku memiliki kehamilan yang mudah, juga proses pemulihan yang mudah, aku masih merasakan beberapa kesulitan fisik.”

6. Saya masih merasa bahwa saya memiliki trauma (Marissa, 34 tahun)

ibu pejuang cesar

Marissa mengalami Hiperemesis (gejala mual dan muntah yang lebih parah dari morning sickness) sepanjang kehamilan, sehingga ia harus masuk rumah sakit beberapa kali. Pada trimester pertama, Marissa kehilangan berat badan hingga 10 kilogram.

“Saya tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Pada usia kehamilan 36 minggu, mereka mengatakan bahwa saya mengalami kontraksi dan kemungkinan saya akan segera melahirkan.”

Seminggu kemudian, Marissa harus beristirahat total di tempat tidur. Dia masih sering mengalami kontraksi, tapi tidak pernah dalam rentang waktu berdekatan. Hanya beberapa menit, kemudian menghilang selama beberapa jam.

“Hal itu terus berlangsung selama dua minggu, mereka memasangiku alat pemantau janin untuk memeriksa segalanya. Saat itu saya sadar bahwa ari-ari bayiku telah terlepas.”

Dokter memberi Marissa suntikan induksi agar bisa segera kontraksi, namun malah membuat Marissa tak sadarkan diri. Saking lamanya Marissa berada di rumah sakit, 4 orang dokter berbeda telah menanganinya.

“Pada akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan operasi cesar, mereka memberiku waktu untuk bersiap, namun 10 menit kemudian, mereka masuk lagi ke kamar rawatku dan mengatakan bahwa bayiku dalam posisi sulit, sehingga operasi harus dilakukan saat itu juga.”

Marissa menambahkan bahwa para dokter segera bekerja untuk mengoperasi, Marissa tidak ingat apapun selama proses operasi. Tapi suami Marissa mengatakan bahwa mata Marissa tertutup, dan para dokter berteriak memanggil namanya, berusaha membuat Marissa tetap terjaga.

“Saat saya sadar, putri kecilku telah lahir. Dan saya bertanya-tanya, apa yang baru saja terjadi?”

Kehamilan Marissa sangat sulit, proses persalinan yang ia jalani juga tidak mudah, sehingga Marissa berusaha berkelakar mengenai luka bekas operasinya. Dokter yang menangani Marissa membuat luka bekas operasinya hampir tak terlihat.

“Saya berusaha untuk merelakan semua yang terjadi, karena saya memiliki anak yang sehat. Namun saya masih merasakan trauma atas apa yang saya alami.”

7. Aku tidak menyangka akan menjalani cesar, tapi aku tidak keberatan (Mariel, 32 tahun)

ibu pejuang cesar

“Saya tidak menyangka akan menjalani operasi cesar, tapi saya benar-benar tidak keberatan dengan hal itu. Cairan ketuban saya sangat sedikit, jadi saya diinduksi. Dan setelah 13 jam mengalami kontraksi dan pembukaannya tidak lebih dari 5 cm, saya pasrah, apapun yang dokter lakukan saya ikut saja.”

Mariel pernah diserang oleh anjing jenis pit bull, hingga meninggalkan bekas luka di kakinya. Bila dibandingkan dengan itu, luka bekas cesar yang ia miliki tidak ada apa-apanya. Jadi Mariel tidak pernah memamerkan atau membangga-banggakan bekas lukanya, malah seringkali lupa tentang bekas luka tersebut.

8. Saya melepaskan rasa bersalah (Nicole, 30 tahun)

ibu pejuang cesar

“Putraku yang kini berusia enam tahun, sangat besar waktu bayi. Sehingga para dokter memberiku pilihan, dan saya pikir yang paling aman bagi saya dan anak saya adalah operasi cesar. Itu menakutkan, tapi semuanya berjalan baik can cepat, hanya sekitar setengah jam.”

“Saya merencanakan cesar untuk anak saya yang kedua. Saya tahu apa yang akan terjadi, namun tetap bertanya-tanya, apakah bekas lukanya akan lebih besar? Apakah kali ini akan lebih menyakitkan?”

“Memang, pemulihannya lebih sulit pada cesar yang kedua, namun lukanya sembuh dengan indah. Selama beberapa waktu yang panjang, saya merasa bersalah karena tidak mencoba melahirkan secara normal. Kemudian membaca bahwa cesar dianggap jalan mudah, itu sangat gila. Tapi saya melepaskan rasa bersalah itu. Saya memiliki dua anak yang berlarian kesana kemari, dan saya tahu betul sayalah yang membawa mereka ke dunia ini.”

9. Saya takut lukanya terlihat jelek, namun ternyata tidak seburuk itu (LaShanda, 40 tahun)

ibu pejuang cesar

“Saya pulih dari operasi cesar cukup cepat, namun lukanya tidak mau menutup. Sehingga saya harus bergantung pada perawat yang datang ke rumah setiap hari untuk membantu mengurus luka ini. Saya sedikit takut bahwa bekas lukanya akan terlihat jelek, tapi itu tidak terlalu buruk. Bekas luka sering diidentikkan dengan sesuatu yang besar dan berlebihan, tapi ternyata tidak.”

Sekarang LaShanda berprofesi sebagai doula pasca melahirkan, dan memiliki sertifikat internasional sebagai konsultan laktasi. LaShanda memiliki ketertarikan kuat pada masa setelah melahirkan.

Artikel terkait: Mengenal Doula, Pendamping Profesional Ibu Hamil dan Melahirkan

“Saya melihat banyak sekali wanita yang menjalani proses pemulihan yang sulit setelah cesar. Saya bersyukur bahwa saya pulih cukup cepat ,” kata LaShanda.

10. Aku merasa sangat dicintai dan dirawat dengan baik (Caroline, 30 tahun)

ibu pejuang cesar

Nicole kurang beruntung karena terlahir dengan penyakit bawaan glaukoma, hal ini membuatnya tidak bisa melahirkan secara normal. Karena proses persalinan normal bisa merusak penglihatannya.

“Saya selalu tahu bahwa saya akan menjalani operasi cesar, dan saya tidak keberatan sama sekali,” ujar Nicole.

Nicole merasa bahwa cesar yang ia jalani sangat sempurna, sama seperti jenis operasi lainnya. Setiap kali Nicole mengenang hari itu, ia merasa bahwa dokter yang menanganinya sangat peduli, dan ruangan operasi terasa hangat dan indah karena dipenuhi dengan cahaya lampu operasi.

“Saya merasa sangat dicintai, dan dirawat dengan baik. Bekas luka ini adalah bagian dari kisah itu. Bekas luka ini juga mengingatkanku akan berbagai kejadian indah yang melingkupi kelahiran kedua anakku,” pungkas Nicole.

***

Itu dia berbagai kisah dari para ibu yang pernah menjalani operasi cesar, ada yang baik-baik saja, ada juga yang mengalami trauma.

Apakah Bunda ingin membagikan pengalaman menjalani operasi cesar dan ditayangkan di rubrik TheAsianparent Indonesia? Silakan mengirim email atau pesan di Facebook kami.

Kami tunggu kisah inspiratif Anda ya, Bunda.

 

Baca juga:

Bunda Percayalah, Operasi Caesar Tidak Membuat Nilai Anda Kurang Sebagai Seorang Ibu





Kisah Mengharukan Pasca melahirkan