Saat anak bertanya tentang disabilitas, begini cara orangtua menjelaskannya

lead image

Pertanyaan ini mungkin akan ditanyakan oleh anak saat menyaksikan pertandingan Asian Para Games 2018. Bagaimana cara menjawab yang tepat?

Siapa di antara Parents yang sudah mengajak anak menyaksikan pertandingan Asian Para Games 2018 yang dilangsungkan di Jakarta?

Asian Para Games 2018 ini sudah dimulai sejak tanggal 6 Oktober 2018 kemarin. Dikutip dari Detik Sport, hingga tulisan ini dibuat, Indonesia telah berhasil mendapatkan 21 medali, termasuk empat emas pada Senin (8/10).

Posisi Indonesia pun ajeg di peringkat enam klaseman medali Asian Para Games 2018.

Tak bisa dipungkiri, pesta olahraga untuk para disabilitas dan difabel ini memberikan banyak inspirasi dan tentu saja bisa memberikan kesempatan pada kita, para orangtua untuk mendidik anak-anak.

Mengajarkan pada anak-anak kita untuk bisa lebih berempati pada orang lain khususnya para difabel dan tentunya belajar bersyukur.

Hal ini pun dipaparkan oleh Arninta Puspitasari, PR Manager Nutrifood. Ia mengatakan bahwa sejak jauh hari telah mempersiapkan mengajak kedua buah hatinya untuk melihat secara langsung pertandingan Asian Para Games 2018.

“Alasan utama mengajak nonton, supaya anak-anak memiliki pengalaman berinteraksi dengan teman-teman disabilitas dan difabel, karena jujur aja, di sekitar kita jarang.”

“Dengan melihat langsung kemampuan mereka yang hebat serta berprestasi, anak-anak otomatis banyak bertanya, lalu kemudian bisa refleksi bersama orangtua yang akhirnya semuanya belajar dari pengalaman menonton pertandingan Asian Para Games 2018 tersebut,” ujarnya saat dihubungi theAsianparent Indonesia

Hal senada diungkapkan ibu dari satu orang anak, sekaligus parenting blogger Dwiyani Arta. Ia mengatakan sengaja mengajak anaknya ke ajang ini untuk menunjukkan bahwa banyak manusia hebat dengan keterbatasan fisik yang mampu berjuang, berprestasi dan menjunjung sportivitas.

“Harapannya bisa menambah motivasi kita untuk nggak mudah menyerah dan mengeluh dalam kondisi apapun. Serta perenungan batin, supaya anak juga bisa belajar lebih bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita,” paparnya.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa orangtua perlu mempersiapkan jawaban tepat jika anak bertanya tentang disabilitas atau difabel.

Menurut Najelaa Shihab dari Keluarga Kita, setidaknya ada 5 hal yang perlu dilakukan orangtua saat menjawab pertanyaan tentang disabilitas.

Pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh anak saat menyaksikan pertandingan Asian Para Games 2018.

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Bulan ini Jakarta menjadi tuan rumah Asian Para Games atau perhelatan olahraga multicabang yang melibatkan penyandang disabilitas dari 43 negara se-Asia. Yuk, manfaatkan momen ini untuk mengenalkan kepada anak tentang usaha dan semangat pantang menyerah. Yang perlu ditumbuhkan kepada anak bahwa tidak ada syarat atau kondisi apa pun yang dapat menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan. Bagaimana cara kita berespons terhadap penyandang disabilitas akan dilihat anak serta memengaruhi cara berpikir dan berperilaku sampai anak dewasa. Apa saja 5 hal yang dapat orangtua lakukan dalam menjawab dan menjelaskan pertanyaan anak mengenai disabilitas? Punya cara lain dan ingin berbagi tip? Yuk, ceritakan di bawah, ya…. #disabilitas #difabel #AsianParaGames2018 #TidakAdaOrangtuaYangSempurna #MencintaiDenganLebihBaik #SemuaMuridSemuaGuru

A post shared by Mencintai dengan Lebih Baik (@keluargakitaid) on

1. Diskusikan rasa ingin tahu anak

Diskusikan keingintahuan anak saat melihat penyandang disabilitas. Jika anak menatap, orangtua dapat berkata, “Adik pasti heran, ya, kenapa kakak jalannya susah? Kakak itu memiliki cerebral palsy sehingga otot kakinya nggak bekerja dengan baik.”

Diskusikan di rumah dengan mencari informasi yang tepat di buku atau di internet. Jika anak bertanya lebih jauh tentang situasi disabilitas yang dilihatnya pastikan isi diskusi berfokus pada apa yang disabilitas dapat lakukan, bukan apa yang tidak bisa ia lakukan.”

2. Hindari memberikan label

Hindari menghina dan memberikan label seperti gila, terbelakang, cacat, dan bodoh, termasuk tidak mengatalan bahwa ada “anak normal” dan “anak tidak normal” dalam menjelaskan perbedaan.

3. Hindari meminta anak untuk tidak menatap

Hindari meminta anak untuk tidak menatap dan menghindari ketika melihat penyandang disabilitas. Hal itu akan memberi citra negatif terhadap keberadaan mereka.

4. Diskusikan persamaan

Ajak anak untuk mencari persamaan antara dirinya dengan temannya yang disabilitas, misalnya olahraga favorit dan makanan kesukaan yang sama.

5. Tumbuhkan sikap peduli dan sensitif

Tumbuhkan sikap peduli dan sensitif kepada anak, termasuk tidak menoleransi candaan dan ejekan dalam bentuk apa pun.

Penyandang disabilitas sering dijadikan target candaan dan perundungan. Oleh karena itu ingatkan anak untuk menghindarinya, baik dalam bentuk perkataan maupun perilaku yang menyinggung.

Baca juga:

4 Tips Mengajari Anak Soal Disabilitas di Sekolah

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.