Penelitian: Otak wanita lebih aktif dari pria sehingga mudah depresi

lead image

Bagaimanapun, otak manusia, terlepas dari jenis kelaminnya, bisa berubah dan sangat sulit dipahami.

Pernahkah Bunda merasa penasaran, mengapa kita lebih mudah merasa stres dan cemas dibanding suami? Ternyata, kinerja otak wanita yang berbeda dengan laki-laki menjadi faktor paling berpengaruh dalam hal ini. 

Ilmuwan mengungkap alasan wanita lebih mudah stres

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/woman stress 1544001321.jpg Penelitian: Otak wanita lebih aktif dari pria sehingga mudah depresi

Otak wanita lebih aktif daripada laki-laki, demikian temuan terbaru Amen Clinics di California. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa wanita lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, insomnia, dan gangguan makan.

Penelitian Amen Clinics California ini merupakan analisis otak dengan sampel terbanyak sejauh ini. Penelitian tersebut mengumpulkan 46 ribu pindaian (scan) otak dari 9 klinik yang kemudian dianalisis perbedaannya antara otak pria dan wanita.

Menurut para peneliti, sangat penting memahami perbedaan otak pria dan wanita. Sebab, dengan demikian, menjadi terjelaskan bagaimana kelainan yang sama bisa berefek berbeda di otak pria dan otak wanita.

Sebagai contoh, data menunjukkan bahwa wanita lebih sering didiagnosis menderita Alzheimer, depresi, dan gangguan kecemasan. Sementara pria sering diidentifikasi mengidap gangguan konsetrasi (attention deficit hyperactivity disorder, ADHD) dan gangguan perilaku (conduct disorder).

Artikel terkait: Penelitian: Terungkap! Seks menguatkan daya ingat seorang perempuan

Otak wanita cenderung lebih aktif daripada otak pria

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/women thinking 1544001585.jpg Penelitian: Otak wanita lebih aktif dari pria sehingga mudah depresi

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Alzheimer’s Disease ini juga mendapati, otak wanita lebih aktif di banyak area otak ketimbang pria. Keaktifan itu terutama terjadi di area Cortex Prefrontalis dan Sistem Limbik.

Cortex Prefrontalis terletak di bagian terdepan kepala, merupakan bagian yang mengatur fokus dan kontrol rangsangan (impuls). Bagian inilah yang bertanggung jawab pada sifat empati, intuitif, bekerja sama, kontrol diri, dan fokus kita.

Sedangkan Sistem limbik merupakan bagian yang memengaruhi mood dan rasa cemas manusia. Bagian ini menjadi aktif ketika kita mengalami kecemasan, depresi, insomnia, dan gangguan makan.

Kesimpulannya, fungsi visual dan koordinasi di otak wanita lebih aktif daripada laki-laki.

Salah satu peneliti dalam riset ini, Daniel G. Amen, psikiater yang juga pendiri Amen Clinics mengatakan, “Riset ini sangat penting untuk memahami perbedaan otak berdasarkan gender.”

Ia menambahkan, “Perbedaan kuantitatif yang bisa kami identifikasi antara otak pria dan otak wanita ini penting untuk memahami risiko gangguan otak pada masing-masing gender, terutama gangguan otak seperti penyakit Alzheimer.”

Para peneliti menggunakan pindaian otak dari 119 sukarelawan sehat dan dari 26.683 pasien dengan masalah kejiwaan beragam, mulai dari trauma otak, bipolar, gangguan mood, skizofrenia dan penyakit jiwa lain, serta ADHD.

Prosedur yang dilakukan saat penelitian ialah dengan meminta subjek yang diteliti beristirahat atau melakukan tugas koginitif. Di saat bersamaan, peneliti memantau aliran darah di otaknya menggunakan teknologi single photon emission computed tomography (SPECT).

Dari sanalah mereka melihat, aliran darah di otak wanita lebih deras.

Berbagai faktor yang memengaruhi kinerja otak

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/women thinking 1544001709.jpg Penelitian: Otak wanita lebih aktif dari pria sehingga mudah depresi

Bagaimanapun, otak manusia, terlepas dari jenis kelaminnya, bisa berubah dan sangat sulit dipahami. Sebagaimana ditulis oleh Gina Rippon, profesor Cognitive Imaging dari Ashton University.

“Teori bahwa otak kita bersifat plastis dan lunak menjadi salah satu dobrakan dalam studi otak 40 tahun terakhir. Berbagai pengalaman jangka pendek maupun panjang bisa mengubah struktur otak.”

“Juga didapati bahwa perilaku dan pemahaman sosial, seperti stereotip, bisa mengubah cara otak memproses informasi. Ada perilaku manusia yang dikontrol oleh kerja otak, dan pada seseorang, perilaku itu berubah-ubah seiring waktu, perpindahan tempat, dan budaya karena faktor eksternal seperti pendidikan, kelas ekonomi, dan makanan.”

***

Semoga informasi ini bermanfaat. 

 

Baca juga: 

Siklus Menstruasi Memengaruhi Perkembangan Otak Wanita

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.