Jangan ditiru! Orangtua berkelahi di arena bermain anak

lead image

Sebuah video menampilkan orangtua berkelahi di arena bermain anak, seharusnya bisa menjadi peringatan bagi orangtua akan bisa menjaga emosi di depan anak.

Orangtua adalah figur teladan bagi anak yang semestinya bisa memberi contoh yang baik dalam mengendalikan emosi dan amarah. Namun, beberapa orang tidak bisa menahan diri dan malah berkelahi di arena bermain anak. Peristiwa orangtua berkelahi di arena bermain anak menjadi viral di Cina.

Video orangtua berkelahi ini direkam dan dipublikasikan di internet pada hari Selasa, 10 Oktober lalu. Peristiwa orangtua berkelahi ini terjadi di arena bermain anak di sebuah pusat perbelanjaan di Shenzen, Cina.

Semua berawal ketika salah satu orangtua tidak terima mainan anaknya diambil anak lain dan memulai perkelahian dengan orangtua anak tersebut.

Anak-anak yang sedang bermain berteriak ketakutan, sedangkan ibu dari anak-anak tersebut malah memulai perkelahian dengan saling menjambak rambut.

Berikut ini adalah videonya.

Saat seseorang berusaha melerai perkelahian tersebut, orangtua lain malah ikut menambah rusuh dengan bergabung dalam panasnya perkelahian di arena bermain anak. Beberapa orang terlihat menonton dan tidak ada yang berusaha memisahkan.

Artikel terkait: Balita Berebut Mainan? Inilah Cara Mendidik Anak Agar Mau Berbagi

Pelajaran yang bisa diambil dari kasus orangtua berkelahi di arena bermain anak

Mungkin Parents merasa gemas melihat ulah anak lain yang merebut mainan yang sedang dimainkan oleh si kecil. Rasanya hati ini panas dan ingin memarahi anak tersebut.

Apalagi jika orangtua si anak ada di dekat situ dan tidak berbuat apa pun. Inginnya sih ikut ngomelin anak dan ibunya sekalian biar lega.

Namun, seorang spesialis anak Magda Gerber dalam bukunya yang berjudul Your Self-Confident Baby: How to Encourage Your Child’s Natural Abilities – From the Very Start menyarankan orangtua untuk menerima dan mencoba tidak ikut campur dalam urusan rebutan mainan. Magda menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama parenting adalah agar anak bisa memiliki hubungan yang sehat dengan orang lain.

Tentu hal ini kurang dapat tercapai jika Parents terus mencampuri interaksi anak dengan saudara atau teman sebayanya.

Berikut alasan yang menegaskan mengapa Parents tidak perlu mengintervensi anak ketika ia sedang bermain dengan temannya.

1. Merebut mainan adalah cara untuk menarik perhatian Parents

Meski anak sedang sibuk bermain dengan anak lain, ia tetap menginginkan orangtuanya tetap memperhatikannya. Saat perhatian Parents teralih pada ponsel atau karena mengobrol dengan orangtua lain yang ada di sana, anak mulai mencari cara untuk menarik perhatian Anda.

Ya, salah satunya tentu saja dengan merebut mainan temannya. Cara ini bagi anak dianggap efektif namun tidak berbahaya.

Dalam pandangan anak, ia mungkin berpikir seperti ini: “Apa salahnya sih ngambil mainan temen?”

Ketika Parents mengeluarkan reaksi berlebihan dan mencap apa yang dilakukan anak sebagai sesuatu yang buruk, ia justru akan semakin impulsif untuk merebut mainan orang lain. Bahkan tak jarang, ia malah jadi menyerang anak lain karena tidak bisa mengekspresikan perasaannya pada Anda.

2. Anak-anak merasa bermain dengan cara yang berbeda

Anak-anak memandang segala sesuatu dengan sudut pandang baru. Mereka tidak tahu sebelumnya bagaimana caranya bermain yang baik, apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan.

Butuh waktu bertahun-tahun bagi mereka untuk belajar bagaimana melibatkan diri untuk bermain bersama anak lain. Cara satu-satunya adalah dengan bereksperimen dan membiarkan anak mencoba bermain bersama teman lain.

Berikan mereka kepercayaan saat bermain dan jangan sedikit-sedikit mengintervensinya. Tentu Parents tak mau anak tumbuh menjadi seseorang yang terus-menerus tergantung pada Anda dan tidak memiliki kepercayaan diri, bukan?

Merebut mainan bagi anak merupakan cara paling umum yang bisa ia pelajari saat harus bermain bersama dengan anak lain. Berawal dari merebut mainan, kemudian terjadilah interaksi.

3. Anak tetap butuh diawasi

Meski Magda menyarankan Parents untuk tidak terlalu banyak ikut campur, namun anak tetap membutuhkan kehadiran Anda. Bertindaklah sebagai pelatih dibanding sebagai wasit.

Tugas pelatih adalah mengingatkan dan mengatur strategi, sedangkan wasit yang akan memisahkan jika terjadi perseteruan. Anak membutuhkan kita untuk memastikan kondisi tetap aman dan mengingatkan dengan lembut, “Kalau nanti kamu sudah selesai bermain dengan mobil yang hijau, gantian pinjamkan ke teman ya…”

Parents boleh turun tangan jika rebutan mainan itu menyebabkan salah satu anak terluka.

4. Ketika kita berhenti menghakimi, anak-anak akan mulai berbagi

Terkadang anak melakukan kebalikan apa yang kita minta. Setiap kali kita mengatakan, “Ayo, jangan rebut mainan temanmu. Kembalikan ya…”, justru mendorongnya untuk terus-menerus merebut.

Tapi ketika Parents memberikan kepercayaan padanya (sambil sedikit memberikan arahan, tentunya), anak akan mulai berbagi mainan dengan sendirinya.

Nah, jadi mulai sekarang Parents nggak perlu lagi naik darah kalau melihat ada yang datang merebut mainan si kecil atau sebaliknya. Apalagi kalau sampai berkelahi seperti dalam video di atas, wah memalukan sekali!

Jangan lupa bagikan artikel ini agar makin banyak orangtua yang paham untuk tidak selalu ikut campur pada urusan bermain anak-anak.

Referensi:  ShanghaiistJanet Lansbury

Baca juga:

Anak-Anak Berkelahi? Ajarkan Beberapa Hal Ini Untuk Mengatasi dan Mencegahnya