Neuroblastoma, Kanker Pengancam Balita

lead image

Sebenarnya, apa sih penyakit neuroblastoma yang membuat balita Ashira meninggal? Yuk ketahui gejala dan informasi lebih dalam tentang penyakit ini.

src=https://id.theasianparent.com/wp content/uploads/2014/11/ashira neuroblastima.jpg Neuroblastoma, Kanker Pengancam Balita

Ashira, balita yang meninggal karena kanker neuroblastoma. Foto: screenshot youtube

Neuroblastoma, Parents pasti melihat berita tentang penyakit yang satu ini bersliweran di media beberapa hari terakhir. Ya, penyakit yang merenggut jiwa seorang balita cantik bernama Ashira. Berita perjuangannya melawan penyakit ini telah menuai perhatian banyak netizen di Indonesia.

Neuroblastoma merupakan salah satu jenis kanker yang langka. Dan umumnya menyerang anak-anak usia bayi hingga balita. Gejalanya yang sangat mirip dengan penyakit anak pada umumnya, menyebabkan keberadaan kaker ini sangat susah dideteksi.

Neuroblastoma bisa muncul sejak janin dalam kandungan, yaitu ketika sistem syaraf tubuh mulai terbentuk. Sayangnya, keberadaannya baru bisa diketahui ketika kanker ini sudah menyebar ke seluruh bagian tubuh.

Tentang Neuroblastoma

Kanker ini muncul ketika sel neuroblast yang seharusnya membentuk jaringan sistem saraf simpatik malah tumbuh menjadi sel kanker.

Sistem saraf simpatik adalah sistem saraf yang berfungsi untuk mengatur kerja organ tubuh involunteer atau di luar kehendak; dengan cara meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, mengerutkan pembuluh darah dan mengeluarkan hormon.

Neuroblastoma biasanya tumbuh pertama kali pada jaringan kelenjar adrenalin, jaringan berbentuk segitiga pada bagian paling atas ginjal yang bertugas untuk mengeluarkan hormon pengatur detak jantung, tekanan darah, dan fungsi-fungsi organ penting lainnya.

Seperti pada umumnya penyakit kanker, neuroblastoma sangat mudah menyebar dan menyerang bagian tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, kulit, hati tulang termasuk tulang sumsum.

Sampai saat ini belum ada yang mengetahui penyebab kanker ini muncul. Namun 1%-2% kasus Neuroblastoma disebabkan oleh faktor genetik. Dan kemungkinan anak  laki-laki menderita kanker ini sedikit lebih besar dibandingkan anak perempuan.

Anak-anak yang terdiagnosa menderita neuroblastoma biasanya berusia dibawah lima tahun, bahkan rata-rata penderitanya berusia di bawah 1 tahun.

Terbentuknya Neuroblastoma

Seperti dikemukakan di atas, neuroblas yang seharusnya membentuk jaringan syaraf, membelah diri dalam jumlah yang tidak dapat terkontrol.

Banyak peneliti menduga adanya DNA yang abnormal dalam neuroblast adalah faktor utama dari ke-abnormalan tersebut. Keabnormalan DNA ini bisa terjadi karena adanya susunan kromosom yang hilang atau malah berlebih.

Baca juga : Bila Menderita Penyakit Keturunan

Tanda dan gejala neuroblastoma

Tanda terjangkitnya neuroblastoma pada anak bisa berbeda-beda, tergantung di mana sel kanker ini pertama kali tumbuh serta daerah penyebarannya.

Gejala pertama kali yang terlihat juga sangat meragukan dan sangat mirip penyakit anak pada umumnya seperti rewel, mudah lelah, kehilangan nafsu makan, dan demam.

Orang tua atau dokter terkadang baru menyadari adanya neuroblastoma ketika ada daging atau benjolan yang tidak wajar tumbuh; misalkan di bagian perut (paling sering bermula dan tumbuh di bagian ini), leher, dada atau bagian tubuh lainnya.

Benjolan ini biasanya tumbuh menembus jaringan tubuh dan menyebabkan:

1. Perut bengkak, rasa sakit berlebih pada bagian perut dan hilangnya nafsu makan (jika neuroblastoma terjadi pada bagian perut).

2. Nyeri atau sakit yang sangat pada tulang, mata menghitam, dan kulit pucat (terjadi jika neuroblastoma telah menyebar ke tulang)

3. Tubuh menjadi lemah, mati rasa, dan ketidak mampuan menggerakan anggota tubuh, serta sulit berjalan (terjadi bila kanker telah mendesak saraf tulang belakang).

4. Kelopak mata terkulai, pupil yang tidak sama ukurannya, berkeringat, serta kulit yang memerah. Gejala ini biasa muncul jika ada kerusakan sistem saraf pada tubuh dan biasa disebut dengan nama Horner sindrom (gejala ini terjadi bila kanker berada di leher).

5. Susah untuk bernapas (bila kanker berada di dada)

Cara mendiagnosa neuroblastoma

Tes untuk keberadaan kanker ini meliputi tes standar kanker seperti tes urine, darah, pengambilan foto bagian dalam tubuh (bisa dengan X-rays, CT scan, MRI, Ultrasound dan scan tulang) dan biopsi (tes jaringan tubuh).

Keempat tes di atas akan membantu untuk memastikan lokasi kanker serta ukuran utama tumor/ daging yang tumbuh. Proses staging kadang juga dilakukan untuk memastikan apakah kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain atau tidak.

Kadang dokter menyarankan untuk melakukan MIBG scintiscan (MIBG= iodine-131-meta-iodobenzyl-guanidine), yaitu pengambilan gambar dua dimensi dari sel neuroblastoma untuk memastikan penyebaran sel kanker dalam tubuh. Sebagi informasi, tes ini kadang juga digunakan untuk mengetahui adanya jaringan sel kanker yang tersisa dalam tubuh setelah penderita menerima perawatan dan atau pengobatan.

Pada kasus neuroblastoma tertentu, keberadaan sel kanker juga bisa diketahui dengan pemeriksaan Ultrasonografi atau USG yaitu saat janin masih dalam kandungan.

Pengobatan neuroblastoma

Sebagian kasus neuroblastoma memerlukan pengobatan. Namun ada beberapa pula type neuroblastoma yang dapat hilang dengan sendirinya.

Faktor usia, karakter tumor, dan penyebaran kanker pada tubuh adalah 3 hal utama yang menjadi pertimbangan dokter dalam menangani penyakit ini.

Dan berdasar ketiga faktor tersebut, ada tiga kelompok neurobalstoma yaitu, type resiko ringan, intermediate, dan beresiko tinggi. Anak pada dua kategori pertama memiliki kemungkinan untuk sembuh lebih besar dibanding mereka yang beresiko tinggi.

Sayangnya, justru satu setengah persen dari anak penderita neuroblastoma termasuk kategori beresiko tinggi yang sangat sulit untuk sembuh.

Pengobatan untuk neuroblastoma meliputi operasi pengambilan tumor, terapi radiasi, dan kemoterapi. Stem cell atau transpalasi tulang juga bisa menjadi terapi tambahan.

Beberapa dokter juga menyarankan terapi retinoid, salah satu sub class vitamin A. Diharapkan retinoid mampu merangsang neuroblastoma untuk tumbuh menjadi jaringan sel syaraf yang normal. (dengan alasan ini pula retinoid biasa dipakai untuk mencegah pertumbuhan sel kanker setelah pengobatan)

Pengobatan yang terbaru adalah vaksinansi tumor dan immunoterapi dengan monoclonal antibodi. Caranya yaitu dengan menyuntikkan cairan tertentu pada tubuh.

Perawatan memang memperbesar kemungkinan anak untuk bertahan. Terlebih bila kanker belum menyebar ke bagian tubuh yang lain serta diagonosa diketahui sebelum anak berumur 1 tahun.

Sayangnya, anak dengan neuroblastoma resiko tinggi sangat sulit sembuh, bahkan terapi kanker standard tidak mempan untuknya. Atau jika sembuh, ada kemungkinan untuk kambuh kembali.

Pengobatan neuroblastoma juga seringkali menimbulkan masalah yang lain seperti gangguan pertumbuhan, hingga gangguan fungsi organ tubuh yang lain. Misalkan, gangguan imunitas, di mana sel kekebalan tubuh malah menyerang jaringan sel syaraf yang normal. Akibatnya bisa jadi anak akan sulit bicara, mengalami gangguan bahasa atau tingkah laku.

Bila si kecil adalah menderita neuroblastoma

Hati orang tua mana yang tidak akan nelangsa bila mendengar buah hatinya terkena kanker, terlebih bila ia tejangkit neuroblastoma yang bisa juga membawa timbulnya masalah yang lain. Sementara ia harus terlihat kuat dihadapan si Kecil.

Ya, peran orang tua memang penting selama masa pengobatan. Untuk itu, mintalah dukungan keluarga dan teman-teman terdekat. Usahakan untuk tetap mencari informasi tentang kanker yang si kecil derita.

Cara ini akan membantu Anda untuk mengambil keputusan yang tepat. Jangan pernah segan untuk bertanya pada dokter mengenai apa dan bagaimana si Kecil bisa sembuh. Jika mungkin bergabungkanlah dengan kelompok orang tua penderita kanker, untuk mendapat dukungan moral atau pengalaman-pengalaman membesarkan anak dengan kanker.

Jika si Kecil sudah dapat diajak berdiskusi, ceritakan tentang penyakit yang ia derita sekaligus perawatan apa saja yang akan ia jalani. Lakukan dengan perlahan, dan beri gambaran satu persatu.

Dan bila si Kecil punya saudara kandung, ajak pula ia berdiskusi tentang penyakit yang diderita saudaranya. Karena ketika semua perhatian tertuju pada si sakit, bisa saja anak yang lain menjadi iri dan cemburu. Untuk itu memberinya penjelasan adalah lebih baik.

Yang terakhir, meski sulit, jangan lupa jaga pula kesehatan Anda. Orang tua yang sehat tentu akan mampu menjadi dukungan terkuat bagi si Kecil.

Semoga informasi diatas bisa membantu ya, Parents.

Referensi: cancer.org, kidshealth.org, beberapa sumber lain

Baca juga:

Hemangioma, Bercak Merak di Kepala Bayi yang Ternyata Tumor

7 Jam Setelah Lahir, Bayiku Meninggal karena Thalassemia