5 Hal yang Perlu Bunda Perhatikan saat Harus Menyusui dalam Kondisi Bencana

5 Hal yang Perlu Bunda Perhatikan saat Harus Menyusui dalam Kondisi Bencana

Menyusui saat bencana ataupun pascabencana tetap perlu dilakukan agar kebutuhan nutrisi buah hati tercukupi.

Setelah melahirkan, tugas ibu selanjutnya adalah menyusui sang anak. Dalam keadaan apa pun, biasanya setiap ibu akan selalu bersedia menyusui buah hatinya. Termasuk juga menyusui saat bencana atau pascabencana.

Sayangnya, kondisi saat bencana maupun pascabencana terkadang sangat tidak mendukung untuk bisa terus melakukan kegiatan menyusui. Oleh karena itu, inilah hal penting yang perlu Bunda ketahui agar bisa terus menyusui si kecil meski dalam keadaan bencana.

Yuk, simak informasinya di sini.

Menyusui saat Bencana, Ini yang Perlu Bunda Perhatikan

menyusui saat bencana

Terjadinya bencana membuat aktivitas sehari-hari terhambat. Apalagi, ada kondisi yang mengharuskan keluarga untuk pergi meninggalkan rumah dan mengungsi. 

Kondisi seperti kelaparan, sanitasi yang kurang baik, dan tinggal berdesakan di tempat pengungsian sering kali menimbulkan masalah kesehatan. Kondisi tersebut meningkatkan jumlah bayi dan anak-anak yang meninggal. 

Dalam keadaan darurat atau bencana, pemberian ASI adalah cara yang cepat dan aman untuk melindungi bayi. Menyusui secara eksklusif dinilai aman, terjamin, dan higienis karena minim risiko kontaminasi. Oleh karena itu, menyusui sangat dianjurkan untuk tetap dilakukan ketika kondisi bencana.

Melansir dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada beberapa hal yang perlu Bunda ketahui tentang kegiatan menyusui dalam kondisi bencana.

1. Ibu Tetap Bisa Menyusui dalam Kondisi Stres

menyusui saat bencana

Banyak yang beranggapan bahwa ibu yang sedang stres tidak dapat menyusui bayinya. Ternyata anggapan itu salah. Pengeluaran ASI memang dipengaruhi oleh letdown refleks yang berkaitan dengan stres. Namun produksi ASI masih akan terus berlangsung selama masih ada hormon oksitosin.

Pengeluaran ASI yang terhambat karena stres bisa disiasati dengan meningkatkan isapan bayi pada payudara. Jadi Bunda tidak perlu khawatir tidak bisa menyusui. 

2. Ibu yang Malnutrisi dapat Menghasilkan ASI yang Cukup

Sangat jarang ditemukan ibu yang tidak menghasilkan ASI secara cukup. Produksi ASI akan terpengaruhi jumlah dan kualitasnya apabila kondisi ibu malnutrisi berat. 

Menurut Ikatan dokter Anak Indonesia (IDAI), hanya sebanyak 1% ibu yang mengalami kondisi malnutrisi berat. Selama kondisi ibu masih sehat, sangat memungkinkan untuk terus menyusui. 

Artikel Terkait: 6 Tips agar ASI tetap lancar saat puasa bagi ibu menyusui

3. Ibu yang Sudah Tidak Menyusui Dapat Menghasilkan ASI Kembali

menyusui saat bencana

ASI masih dapat diproduksi kembali meskipun ibu sudah berhenti menyusui. Istilah ini dinamakan relaktasi. 

Caranya dengan memberikan rangsangan pada puting melalui isapan bayi. Memang butuh waktu beberapa hari sampai beberapa minggu sampai ASI dapat diproduksi kembali. Kuncinya adalah harus konsisten.

4. Pengganti ASI (Susu Formula) Tidak Selalu Diperlukan

Pemberian pengganti ASI dalam situasi bencana dinilai sangat berisiko. Tindakan ini perlu pendampingan dari petugas. Kebersihan botol, air, dan cara penyajian harus dipastikan higienis. Penyiapan pengganti ASI yang tidak baik malah akan meningkatkan risiko bayi terserang diare. 

Apabila upaya memberikan ASI sudah dilakukan tetapi masih terkendala, barulah Bunda bisa memberikan susu formula sebagai pengganti ASI. 

Pengganti ASI dapat diberikan pada kondisi tertentu, seperti ibu mengalami malnutrisi berat, kondisi payudara yang tidak memungkinkan bayi menyusu langsung, atau bayi sedang sakit dan tidak bisa menyusu langsung. 

Artikel terkait: Setelah ASI ekslusif, perlukah bayi diberikan susu formula?

5. Pengganti ASI yang Bisa Diberikan

5 Hal yang Perlu Bunda Perhatikan saat Harus Menyusui dalam Kondisi Bencana

Bayi berusia di bawah 6 bulan harus diberikan susu. Jenis susu yang bisa diberikan adalah susu formula untuk bayi, dan susu buatan rumah seperti susu hewan, susu bubuk full cream atau susu UHT (ultra Heat Treated) yang diencerkan dengan air dan ditambah gula dan zat gizi mikro.

Susu yang tidak boleh diberikan adalah susu hewan yang tidak dimodifikasi atau diberikan langsung tanpa diolah, susu kental manis, minuman sereal, air, jus, atau teh. Untuk anak usia 6-24 bulan dapat diberikan susu full cream, susu UHT, atau susu kambing, kerbau, dan sapi. 

Berikut ini adalah beberap hal yang perlu Parents perhatikan ketika memberikan susu penggani ASI pada buah hati.

  • Hitung Kebutuhan Harian Bayi

Untuk bayi di bawah 6 bulan rata-rata membutuhkan susu siap konsumsi sebanyak 150 ml/kg/hari. Sedangkan anak usia 6-24 bulan membutuhkan susu siap pakai sekitar 200-400 ml/hari bila kebutuhan makanan hewaninya cukup. Bila sumber makanan hewaninya kurang, berarti menjadi 300-500 ml/hari. 

Bayi usia 6 bulan yang tidak disusui juga memerlukan cairan tambahan setidaknya 400-500 ml/hari untuk iklim sedang dan 800-1000ml/hari untuk iklim panas. 

  • Menggunakan Air Bersih

Air yang diberikan harus dalam kondisi bersih. Bila air yang tersedia berkualitas buruk harus direbus hingga mendidih, dilakukan klorinasi, dan filtrasi agar air aman dikonsumsi. 

  • Menjaga Kebersihan Peralatan 

Alat yang digunakan untuk menyiapkan pengganti ASI harus higienis. Pastikan tangan dan alat sudah dicuci bersih.

Pada kondisi darurat seperti bencana disarankan untuk memberikan pengganti ASI menggunakan gelas atau cangkir, daripada botol. Botol susu atau dot lebih sulit dibersihkan dan rawan terkontaminasi.  

Menyusui saat kondisi bencana membutuhkan pendampingan dari petugas. Apabila bayi mengalami masalah kesehatan seperti diare, segera minta pertolongan pada petugas, khususnya petugas kesehatan.

Sumber: IDAI, kompas, idepfoundation

Baca Juga:

Tips Anti Galau Untuk Ibu Menyusui

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner