"Anakku, maafkan ayah yang sudah marah dan membentakmu..."

Seorang ayah menulis perasaan betapa dirinya menyesal marah dengan anak pertamanya. Sebuah kejadian yang bisa orangtua jadikan pelajaran.

Adalah wajar jika orangtua merasa bersalah ketika tidak bisa mengontrol emosinya hingga marah kepada anaknya. Penyesalan inilah yang diutarakan seorang ayah yang menyesal marah dengan anak pertamanya.

Apakah Anda masih ingat kapan terakhir memarahi anak? Kemudian apakah Anda ingat bagaimana respon anak ketika Anda marah padanya? Apakah ia menangis?

Akan ada sejuta alasan mengapa Anda akhirnya tidak bila mengelola emosi hingga berujung memarahi anak. Mulai karena tidak tahan melihat polah anak yang bikin pusing tujuh keliling, atau memang dikarenakan Anda sedang stres.

Namun penting untuk diingat bahwa saat emosi Anda meledak di depan anak, peristiwa ini bisa terekam di dalam benak anak sampai ia besar. Tidak hanya itu, sesaat Anda meluapkan emosi, tidak jarang akhirnya menimbulkan penyesalan.

Hal ini jugalah yang baru dirasakan oleh seorang ayah bernama Fitrah Ilhami. Di laman Facebook miliknya, ia telah menulis betapa ia menyesal karena tidak memahami kondisi anak pertamanya. Padahal, sebenarnya tugas orangtualah yang bisa memahami anak. Bukan sebaliknya.

Penyesalan yang ia tulis dalam status Facebook dan telah dibagikan lebih dari 4.000 kali telah menuai banyak komentar dari warganet. Rata-rata ikut merasa sedih dan mengingatkan bahwa kadangkala orangtua sering abai dengan anak, terutama si sulung, dan 'memaksa' mereka untuk memahami kondisi orangtuanya.

Baca juga : Karakter anak usia 3 tahun

 

menyesal marah dengan anak

Berikut kutipan lengkap pesan seorang ayah yang menyesal marah dengan anak pertamanya:

Tentang Dia yang Rela Berbagi Kasih
===

Ada saat di mana aku dan istri mulai kehabisan kesabaran mengurus para bocah.

Seperti semalam, saat si sulung tak mau tidur hingga pukul 11 malam. Sedangkan badan ini sudah sangat letih, seharian kerja dan ingin segera istirahat sebab Minggu subuh (hari ini) harus berangkat ke Malang untuk mengisi nasyid di acara pernikahan.

Apalagi istri, selama tiga hari ini dia sering begadang akibat nungguin air yang baru bisa ngucur setelah lewat jam 12 malam. Bahkan di hari ketiga, kami harus mengungsi ke rumah orangtua karena air sama sekali nggak keluar, membuat nggak bisa mandi, cucian baju menumpuk.

Subuh sudah wajib bangun, sholat dan lanjut mengurus dua bocah. Belum lagi kerjanya jadi nambah, ngepel lantai karena rumah kontrakan bocor gak karuan kalau lagi hujan.

Kami lelah, dan ingin istirahat.

Nah, di saat letih seperti itu, si sulung seolah mau menguji kesabaran kami. Ada saja yang ia minta.

Awalnya minta susu. Setelah susu habis, minta pipis. Aku pikir setelah pipis dia bakal tidur. Nyatanya tidak, dia malah bongkarin mainan di ruang tamu. Belum juga beberapa menit dia kembali ke kamar sambil berseru keras,

"Mpiiis!"

Aku bangkit, kembali mengantar ia pipis ke kamar mandi. Istri sibuk momong si kecil yang selalu terbangun bila kakaknya ngomong keras.

Sehabis pipis, kugendong ia ke kamar, berusaha menidurkan. Tapi lagi-lagi, di saat adiknya baru saja terlelap, si kakak teriak minta dibuatin susu. Tentu saja suara itu membuat si kecil terbangun lagi, dan menangis.

"Kamu tidur di luar aja, Mas Ayas. Adiknya bangun terus ini loh. Jangan teriak-teriak," istri udah mulai gak sabaran.

"Nen." Dia minta susu.

"Nanti dulu. Tunggu adeknya bobo dulu. Sampai pusing Uminya, istirahat bentar aja susah."

Aku bangkit lagi, buatin susu untuk si sulung.

"Ini terakhir, ya. Harus bobo abis ini," ucapku ke kakak sembari menyodorkan susu botol.

Aku bersiap istirahat.

Namun lima menit kemudian, sebelum bener-bener terlelap, kudengar si sulung kembali berteriak."Icaaaaak!!! Umi, Icaaaaak."

Mendengar suara itu, si bungsu langsung terbangun dan nangis. Istri langsung bangkit dengan wajah sebal lalu membawa kakak keluar kamar. Aku mengikuti dari belakang.

"Bobo di kasur saja kamu. Adeknya nggak bisa bobo, kamunya nggak bisa diem dari tadi." Istri kesal. Aku bisa memahami dia pasti sangat lelah.

Setelah dimarahi Uminya, kulihat ada genangan di pelupuk matanya, bibirnya bergetar. Ia melihatku, mau mengadu. Karena capek, bukannya membela, aku malah ikutan memarahi kakak.

"Sudah dibilangin bobo ya bobo. Rame aja. Adiknya bangun terus denger kamu rame. Udah dibuatin susu, udah pipis. Mau apa lagi?"

Air mata si sulung makin menggumpal di pelupuknya.

Dia menunjuk kamar, lantas berucap dengan suara bergetar, "Abi, ada icak. Icak icak di dinding, iyam iyam meayap."

Deg!

Ternyata si Mas pingin ngasih tau kalau di kamar tadi ada cicak. Dan memang seperti itu kebiasaannya. Kalau lihat cicak, dia akan menunjukkan pada kami, lantas bernyanyi lagu cicak-cicak di dinding. Setelah itu biasanya kami akan menciumnya sambil bilang,

"Wah, Mas Ayas makin pinter aja. Coba hitung ada berapa itu cicaknya?"

Dia pun mulai menghitung. "Apu, dua, iga."

Mungkin si kakak barusan bilang pada kami kalau ada cicak di kamar bermaksud biar ia mendapat pujian. Tapi karena mungkin badan terlalu letih, membuat kami tak menyadari hal itu dan lebih menonjolkan emosi.

Seketika kupeluk si sulung, lantas menggendongnya. Ia pun menangis di bahuku.

"Abi, icak. Icak icak di dinding, iyam iyam meayap," dia bernyanyi sambil nangis.

Kuusap-usap rambutnya lembut.

"Iya Nak. Pinter. Ada cicak ya? Coba hitung ada berapa itu cicaknya?" Kubawa ia kembali ke kamar. Ia menatap langit-langit kamar tidur,

"Atu, uwa."

"Yeay, ada dua!" ucapku. "Bobo yuk."

"Iya."

Aku menidurkannya kembali. Kugaruk-garuk pelan punggungnya.

Ya Allah, betapa tak bijaknya diri ini pada si sulung. Di usia yang sebenarnya mendapat sepenuh perhatian dari kami, ia malah harus berbagi kasih sayang dengan adiknya.

Di saat seharusnya bebas bermanja-manja, ia rela 'dipaksa' memahami kondisi kami. Padahal seharusnya kamilah yang mesti memahami segala tindakannya.

Betapa sebenarnya ia butuh lebih banyak perhatian dari kami. Istri selalu berucap, setiap siang Mas Ayas selalu menanyai keberadaanku padanya.

"Abi manah?"

"Kerja, Mas," jawab istri.

"Oh, keja."

"Nyari apa kalau Abi kerja?"

Ia tersenyum, "Uwaaa (uang)."

Bila sore menjelang, tiap mendengar suara motor, Mas Ayas langsung lari keluar rumah. Namun bila tak melihatku di sana, ia akan kembali masuk rumah sambil bilang ke Uminya,

"Ndak ada. Abi ndak ada."

Dan ketika aku pulang, anak inilah yang pertama kali menyambutku dengan senyuman manis di teras rumah. Lalu seperti biasa, setelah meletakkan tas kerja, ia bakal bilang,

"Kuda. Kuda."

Dia minta main kuda-kudaan. Aku yang paham, langsung membungkuk. Kemudian ia naik di atas punggung ini.

Timbul rasa menyesal marah dengan anak

Ah, anakku.

Kucium, pipi si kakak.

"Minta maaf ya, Mas," ucapku penuh penyesalan.

"Iya, maap," jawab si sulung, lirih.

"Abi yang minta maaf. Bukan Mas Ayas."

"Iya."

Istri yang selesai menidurkan adek, seketika bangkit, dan memeluk si sulung.

"Umi juga minta maaf, ya, Nak." Istri mencium si kakak.

"Iya, maap."

Tak berapa lama, Mas Ayas tertidur.

Ya Allah, aku juga minta maaf pada-Mu, karena belum bisa menjaga titipan terindah-Mu ini dengan baik.

***

Malang, 04 Maret 2018
Fitrah Ilhami

 

Inilah ungkapan persaan menyesal marah dengan anak pertamanya yang diungkapkan seorang ayah. Lewat status ini tentu bisa membuat kita sama-sama belajar untuk bisa memahami anak dan bagaimana bisa mengelola emosi.

Dengan begitu, ke depannya tidak perlu ada rasa menyesal marah dengan anak. Setuju?

 

Baca juga :

id-admin.theasianparent.com/surat-untuk-bayi/