Menyedihkan, Bayi Rizki Meninggal Karena Busung Lapar

Hati siapa yang tak teriris jika di zaman sekarang masih ada bayi yang meninggal karena busung lapar. Kasus Andi Rizki jadi pelajaran untuk kita semua.

Andi Rizki terpaksa harus menghembuskan nafasnya terakhir setelah menjalani perawatan selama 5 hari di rumah sakit karena busung lapar. Yang lebih menyedihkan lagi, keluarga besarnya juga tak mengetahui bahwa ia menderita busung lapar.

Sebelum meninggal, anak usia 13 bulan ini sempat mendapatkan perawatan ICU di Rumah Sakit Umum Baubau Sulawesi Tenggara. Saat tiba di rumah sakit, ia sudah menderita sesak nafas parah dan batuk berdahak.

"Saat ditimbang berat badannya, ternyata berat badannya ada di bawah batas normal," ujar Wa Ode Nur Intan. Dokter anak di Rumah Sakit Baubau, seperti dikutip Kompas.

Kekurangan gizi yang diderita oleh Andi Rizki masih ditambah lagi dengan adanya infeksi paru-paru. Kondisinya saat itu sangat lemah.

Andi Rizki hanya tinggal bersama ibunya, Tirtasari. Ia menuturkan bahwa suaminya juga belum lama ini meninggal dunia karena sakit sehinga ia terpaksa mengurus bayinya sendirian.

"Saya sudah pasrah dan ikhlas melepaskannya," ujar Tirtasari kelu.

Pihak keluarga besar mengatakan bahwa Rizki terlihat gemuk dan sehat saat pergi ke Bone. Namun, saat tinggal di Bone, badannya lama kelamaan makin kurus.

Karena berasal dari keluarga miskin dan tak memiliki BPJS, maka keluarga besar menyumbang biaya rumah sakit sebesar 1,5 juta selama masa perawatan. Rumah Sakit Umum Baubau berjanji akan menggratiskan semua biaya apabila pihak keluarga memenuhi persyaratan berupa surat keterangan tidak mampu dari kelurahan dan dinas sosial.

"Kami perlu surat pertanggung jawaban juga untuk urusan administrasi, Kalau sudah beres masalah surat menyuratnya, kami gratiskan sepenuhnya," terang Direktur RSUD Kota Baubau, Hasmudin.

Kasus Busung Lapar dan Gizi Buruk Indonesia

Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) pada tahun 2013,  kasus gizi buruk yang berpotensi menimbulkan busung lapar banyak terjadi di Indonesia Timur. Bahkan, hasilnya sangat timpang jika dibandingkan dengan Pulau Jawa dan Bali.

Pada data Riskesdas 2013 tersebut, ada dua provinsi yang tingkat gizi buruknya sangat tinggi, yaitu >30%. Provinsi tersebut adalah adalah NTT diikuti Papua Barat. Sedangkan provinsi yang tingkat gizi buruknya <15 persen terjadi di Bali, dan DKI Jakarta.

Sedangkan, data balita yang tidak pernah ditimbang pada enam bulan terakhir semakin meningkat dari 25,5% dari tahun 2007 menjadi 34,3% di tahun 2013.

Sedangkan, Survei Diet Total Badan Litbang Kementerian Kesehatan pada tahun 2014 menyebutkan bahwa lebih dari separuh penduduk di Indonesia memiliki tingkat kecukupan protein sangat kurang dan kurang. Total prosentase penduduk dengan protein kurang sebesar 53,4%.

Dari angka 53,4% tersebut, 36,1% penduduk berada pada tingkat kecukupan protein sangat kurang/minimal. 17,3% sisanya ada pada level penduduk dengan level kecukupan protein kurang.

Masih dari data yang sama, tingkat kecukupan protein sangat kurang dan kurang tertinggi kebanyakan ada di Papua (76,2%) dan Nusa Tenggara Timur (73,6%).

Sedangkan persentase terendah gizi buruk ada di Kepulauan Riau (33,4%). Provinsi dengan tingkat energi protein lebih tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung (52,5%).

Dari 33 provinsi di Indonesia, hanya Papua yang tingkat kecukupan proteinnya dibawah 100% (95%). Rata-rata tingkat kecukupan protein di perkotaan lebih tinggi (142,5%) dibandingkan dengan di perdesaan (126,2%).

Saat ini, Kementerian Kesehatan belum merilis data kesehatan tahun 2015 dan 2016. Diharapkan, angka busung lapar yang termasuk dalam kategori gizi buruk dan kekurangan protein terus berkurang.

Semoga kesadaran pemerintah dan orang tua terhadap kecukupan gizi anak semakin meningkat dengan rutin menimbang berat badan anak di Posyandu. Jangan sampai kasus seperti bayi Rizki yang meninggal karena busung lapar terulang kembali.

 

Baca juga:

id-admin.theasianparent.com/kisah-perjuangan-ryan-malnutrisi-di-panti-sehat-diadopsi/