3 Hal yang Harus diajarkan Orangtua pada Anak Dalam Menghadapi Terorisme

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Terorisme tak pernah mengenal tempat beraksinya. Ini yang harus anak ketahui saat terjebak di tengah kejadian terorisme agar dapat selamatkan diri dan anak.

Sekarang ini, kita sering mendengar adanya bom bunuh diri ataupun isu terorisme di berbagai tempat. Bahkan, kasus terorisme terakhir di Indonesia terjadi pada bulan lalu di Jakarta, dengan bom bunuh diri di Kampung Melayu.

Karena tempat dan waktu peristiwa terorisme memang tidak dapat diduga sebelumnya, sebagai orangtua, kita juga perlu untuk siaga setiap saat. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti.

Orangtua tentunya berharap bahwa anak-anaknya tak akan pernah jadi korban atas peristiwa terorisme. Namun, jika Anda dan anak sedang berada di tengah peristiwa terorisme, ini yang harus diajarkan pada anak seperti disarikan dari Mamamia.

1. Lari

Sebisa mungkin, ajarkan anak untuk segera menjauh dari lokasi kejadian. Sembunyi kadang bukan solusi karena bisa jadi masih ada bom tersembunyi yang belum meledak atau bahaya mengintai lainnya di lokasi.

Katakan pada anak untuk segera meninggalkan barang-barang bawaannya yang akan menghalangi pergerakan. Karena bisa jadi nyawanya bergantung dengan seberapa cepat ia berlari.

2. Sembunyi

Jika ia gagal untuk berlari, maka ajari ia cara untuk bersembunyi. Jika memungkinkan, berlindunglah di dinding tebal yang sekiranya akan menghalangi tembusan peluru nyasar yang berhambur kemana-mana.

Jangan lupa untuk mengajarkan anak agar selalu mematikan ponsel atau mengubahnya ke mode getar setiap kali terjadi peristiwa terorisme. Ia juga harus diajarkan prinsip benda-benda di sekitarnya. Misal, bersembunyi di dalam kulkas yang listriknya tidak menyala dapat menghindarkan dirinya dari ledakan di sekitarnya.

3. Telepon

Nomor gawat darurat Kepolisian Republik Indonesia adalah 112. Anak Anda bisa menelepon layanan darutat itu saat terjebak di dalam sebuah kasus terorisme.

Saat ada korban jatuh pada peristiwa terorisme, jika anak Anda belum pernah dibekali sama sekali dengan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), maka tak ada pilihan yang dapat dia lakukan selain menunggu petugas medis. Karena kadang, dalam kondisi kesehatan tertentu, niat menolong bisa jadi berakibat fatal karena ketidaktahuan dalam hal medis.

Jika anak Anda terjebak di tengah peristiwa terorisme, maka ada baiknya memeriksa kondisi psikologisnya ke psikolog maupun psikiater. Karena ia punya potensi mengalami trauma berat atas kejadian tersebut.

Kita memang tak pernah tahu yang akan terjadi dan selalu berdoa agar tak pernah jadi korbannya. Namun, menyiapkan diri anak di dalam segala kondisi adalah jalan terbaik mendidiknya jadi pribadi yang kuat.

 

Baca juga:

Anak-anak yang menjadi Korban Terorisme dan Trauma yang Akan Menghantui Mereka

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting