Mengapa Remaja Suka Memberontak?

Mengapa Remaja Suka Memberontak?

Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Sikap memberontak merupakan proses alamiah remaja untuk menunjukkan eksistensi diri.

Remaja seringkali memberontak sebagai upaya untuk mendapatkan pengakuan dari orangtua dan lingkungannya.

Remaja seringkali memberontak sebagai upaya untuk mendapatkan pengakuan dari orangtua dan lingkungannya.

Ibarat pisau, remaja memiliki dua sisi yang berbeda dan bertolak belakang. Di satu sisi mereka adalah anak-anak manis yang selalu ingin diperhatikan, dimanjakan, dihargai dan diterima keberadaannya.

Di sisi lain, remaja adalah pemberontak-pemberontak cilik yang selalu mencari-cari perkara dengan banyak mempertanyakan kebijakan dan aturan yang ditetapkan dalam keluarga, hingga tak jarang melukai perasaan orangtuanya.

Kadangkala dua sisi ini tidak tampil secara proposional. Setiap anak memiliki kecenderungan yang berbeda dalam mengungkapkan keinginan dirinya untuk tampil sebagai pribadi mandiri yang diakui keberadaannya.

Ada anak remaja yang berusaha menunjukkan ‘keakuan’-nya dengan tampil beda secara fisik. Misalnya, anak yang semula selalu tampil rapi, senang dengan rambut panjang yang diberi pita, senang menggunakan rok ala putri, tiba-tiba tampil berantakan dengan potongan rambut tak karuan, celana robek dan lain sebagainya.

 

 

Ada juga remaja yang secara fisik tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, namun selalu melakukan perlawanan dengan sikap-sikap yang semau gue, sulit diatur, dan membantah perkataan orangtua.

Perubahan sikap ini kerap membuat orangtua menjadi bingung dan kehilangan kesabaran. Banyak orangtua yang akhirnya mencap si anak sebagai anak nakal dan pemberontak yang harus dihukum dan diberi sanksi.

Alih-alih mencoba memahami si anak remaja, orangtua sering memilih berdiri  berseberangan dengan si anak. Sikap inilah yang membuat mereka semakin gigih melakukan perlawanan dan menentang orangtuanya.

Bagaimana seharusnya orangtua bersikap menghadapi remaja?

Selanjutnya, beberapa langkah yang harus dilakukan orangtua dalam menghadapi mereka.

6 langkah penting menghadapi remaja

1. Menyadari dan menerima setiap tahap perkembangan anak

Setiap anak adalah pribadi yang berkembang sesuai dengan kondisi zaman. Mereka tidak suka diperlakukan sebagai anak kecil yang harus diatur dalam segala hal.

Mereka menuntut agar diperlakukan layaknya orang dewasa yang mandiri, namun di sisi lain, mereka tak bisa melepaskan diri dari ketergantungan rasa kanak-kanaknya.

Meski pun mereka sering bersikeras untuk bersikap mandiri, namun mereka tetaplah anak-anak yang masih suka dimanjakan dan diperhatikan.

2. Menjalin komunikasi yang intens

Kita, sebagai orangtua, sering lupa bahwa kita pun pernah mengalami proses yang sama dengan si anak, yakni proses pencarian jati diri.

Bagi sebagian remaja, proses ini berlangsung mulus dan baik-baik saja. Namun, bagi sebagian remaja lainnya, proses ini menjadi teramat sulit dan terjal.

Komunikasi yang terbangun sejak kanak-kanak, mungkin akan sedikit mengalami hambatan ketika anak-anak berangkat remaja.

Namun, komunikasi ini akan membantu anak memahami proses yang tengah berlangsung dalam dirinya.

3. Menghargai remaja

Pada dasarnya anak berkembang sesuai dengan perlakuan yang mereka terima semasa kanak-kanak. Mereka bereaksi sesuai sikap orangtua dan lingkungan terhadap dirinya.

Apabila kita menghargai dirinya, anak pun akan belajar menghargai dirinya dan mampu menumbuhkan kesadaran untuk mengarahkan dirinya sendiri menuju hal-hal yang positif.

Sebaliknya, bila kita tidak menghargai mereka, mereka akan selalu mencari jalan agar bisa memperoleh penghargaan sesuai dengan yang mereka inginkan. Celakanya, jalan yang mereka tempuh kerap menjerumuskan dan menimbulkan perselisihan dengan orangtua.

4. Bersikap terbuka pada dunia remaja

Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi remaja, selain memiliki orangtua yang mau memahami dunia mereka.

Keterbukaan orangtua ini akan memudahkan anak menemukan hal-hal positif dan menghindari hal-hal negatif yang sangat mungkin mereka temui di sepanjang perjalanan masa remaja.

Parents, tidak ada salahnya kita melakukan aktivitas yang disukai oleh anak remaja, agar kita bisa memahami dunia mereka. Misalnya dengan melakukan menonton acara yang kegemaran mereka

Ketika kita menginginkan anak fokus untuk belajar dan tidak berpacaran semasa sekolah, maka janganlah membatasi ketertarikan anak terhadap lawan jenisnya.

Pancing agar mereka mau menceritakan cowok atau cewek yang mereka sukai di sekolah dan alasan mereka memilih si cowok/cewek tersebut.

Kalau dia ngga mau buka mulut, ya Anda duluan deh yang mengalah. Ceritakan tentang kisah kasih Anda semasa SMP/SMA dan tunggulah apa reaksinya.

Keterbukaan kita akan membuat mereka merasa nyaman dan membuat kita lebih mudah mengawasi dan mendampingi mereka saat mereka mengalami patah hati atau pun sedang jatuh cinta.

5. Meminta pendapat atau berdiskusi

Meminta pendapat remaja atau berdiskusi terhadap persoalan yang dihadapi  dalam keluarga atau masyarakat akan membuat anak merasa dihargai, di samping itu membuat mereka belajar memandang persoalan dari sisi yang berbeda.

6. Usap, Pandang, Sapa

Tingkah remaja yang menyebalkan baik melalui sikap memberontak atau pun kata-kata yang kerap menyakiti hati seringkali membuat kita enggan untuk berbaikan dengan mereka.

Kita lupa bahwa di sisi lain mereka adalah kanak-kanak yang masih membutuhkan usapan (sentuhan) tangan kita, rindu sorot mata yang memandang mereka dengan penuh kasih sayang dan haus akan sapa yang menghangatkan hati mereka.

Parents, sejatinya mereka adalah anak-anak yang tengah berproses mencari identitas diri agar kelak siap memasuki gerbang kedewasaan. Dan, membantu mereka menemukan jalan merupakan tugas dan kewajiban kita sebagai orangtua. Semoga bermanfaat.

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner