5 Tahap Mengajarkan Anak Menyelesaikan dan Mengatasi Pertengkaran

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Banyak orang menganggap bahwa perkelahian anak-anak adalah hal yang biasa. Kadang, orangtua tak sengaja untuk ikut dalam arus perselisihan anak dengan dalih membela maupun memberi solusi. Namun, adakah solusi terbaik dalam mengatasi konflik anak-anak?

Dalam sebuah pertengkaran, peran kita sebagai orang dewasa bagi anak adalah sebagai fasilitator. Bukan sebagai tameng anak maupun jadi yang membela salah satu pihak.

Seperti dikutip dalam laman Sunshine Parenting, mengajari anak mengatasi masalahnya sendiri itu lebih baik daripada memberi tahu mereka solusi atas masalahnya. Tahapan ini penting menjadi catatan agar kelak anak tidak mendendam karena merasa diperlakukan secara tidak adil oleh orang dewasa yang ikut campur dalam konfliknya.

Berikut cara mengatasi pertengkaran yang patut dicoba:

1. Tenang

Teknik mengatasi pertengkaran yang pertama adalah meminta mereka untuk tenang. Tenang adalah tahap awal resolusi konflik dan jadi hal sulit bagi anak yang masih emosional. Namun tidak ada gunanya menanyai seorang anak yang kepalanya masih panas karena emosi.

Minta mereka untuk duduk dengan tenang. Ajari anak mengatur nafasnya dengan mengambil nafas dalam-dalam dengan hitungan 110 dan mengeluarkannya lewat mulut. Ulangi tahap ini sampai anak tampak tenang dan bisa bernafas dengan baik.

Dudukkan anak secara berhadapan, namun juga berjarak. Biarkan mereka saling melihat reaksi wajah temannya.

2. Pahami masalah

Barangkali, dia akan menjelaskan masalahnya dengan menceritakan apa yang lawannya lakukan padanya. Namun, saat mengajari anak untuk mengidenfikasi masalah, kita selalu memulainya dengan kata “Saya”.

Minta dia mengekspresikan apa yang dia rasakan dan dia lakukan dengan kata “saya”. Biarkan tahapan “Saya” ini berjalan dengan lancar tanpa ada yang menyela penjelasan temannya. Ingat, ini adalah untuk memahami masalah, bukan ruang untuk berdebat,

Dalam laman Playworks, saling menggunakan kata “saya” juga membantu anak untuk mengidentifikasi masalahnya. Anak akan mencoba untuk mengerti perasaannya sendiri ketimbang menafsirkan apa yang telah lawannya perbuat padanya.

Biarkan mereka bicara satu sama lain. Bukan malah Anda yang meyeramahi mereka. Saat anak melakukan ini, mereka akan mulai belajar untuk saling mendengarkan dan berbicara dengan baik. Ini juga bisa jadi ajang melatih kemampuan diplomasinya.

3. Saling Memandang

Setelah saling mengutarakan pandangannya masing-masing dengan kata “Saya”, minta mereka saling memandang satu sama lain. Biasanya, orang yang sedang marah enggan memandang wajah lawannya. Minta mata mereka untuk saling bertemu dan melihat wajah masing-masing.

Lakukan tahapan ini sampai mereka benar-benar mau saling memandang untuk beberapa waktu. Dalam banyak kasus, sulit untuk tidak saling tertawa saat seseorang saling memandang wajah dalam waktu lama sekalipun dalam keadaan marah.

4. Minta maaf

Minta maaf bukan hal yang mudah. Bahkan orang dewasa pun butuh waktu lama untuk mengucapkan ini. Tak heran jika minta maaf, tolong, dan terimakasih masih menjadi kata sihir yang sulit diucapkan oleh banyak orang dalam berbagai kesempatan,

Masih dalam tahap saling menatap, minta mereka untuk minta maaf dengan kata “Saya”. Minta anak untuk menemukan kesalahan diri mereka masing-masing. Minta mereka berjanji satu sama lain untuk mencoba memperbaiki sikap. Dan ajak mereka untuk saling memaafkan.

Tahapan ini bisa diutarakan secara lisan. Namun, bisa juga dengan cara saling menulis surat. Nantinya, mereka akan membaca surat satu sama lain dan minta mereka untuk menyimpan surat tersebut sebagai pengingat.

Permintaan maaf yang baik tidak menggunakan alasan. Misalnya, mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan, menyalahkan korban, mencari-cari alasan, atau mencoba untuk meminimalisir konsekuensi yang terjadi. Contohnya dengan mengatakan, “Saya hanya bercanda…”

5. Ikutilah perkembangannya

Cari tahu apa yang terjadi setelah tahap keempat dilakukan. Beberapa anak akan mencoba untuk mencari jeda dengan bermain bersama anak yang lain sebelum kembali bermain dengan anak yang pernah bertengkar dengannya.

Saat menjadi fasilitator dalam resolusi konflik dengan anak, perlakukan mereka seperti orang dewasa. Mendengarkan dengan baik solusi apa yang mereka tawarkan agar mereka tak lagi bertengkar dan pelajari berbagai kemungkinan yang diajukan anak.

Cara di atas bisa digunakan untuk mengatasi pertengkaran anak dengan saudaranya sendiri, tetangga, maupun teman sekolahnya. Disarankan untuk mencoba cara ini pada anak usia SD-SMP.

 

Baca juga

10 Tips Mengatasi Pertengkaran Antar Saudara





Better Parenting