Bisakah preeklampsia pada kehamilan dicegah? Ini penjelasan dokter kandungan

lead image

Mengingat ada banyak risiko ketika ibu hamil pre-eklampsia, maka penting untuk memahami apa itu pre-eklampsia, serta upaya mencegah preeklampsia.

Parents sudah membaca artikel kami yang mengulas seorang suami yang khawatir pada kondisi istrinya yang mengalami pre-eklampsia? Ia mengingatkan para suami untuk bisa mendampingi istri dan mengatahui apa saja ciri-ciri preeklamsia. Termasuk mengetahui apakah ada cara untuk mencegah preeklampsia pada ibu hamil?

Mengingat bahwa ada banyak risiko yang bisa ditimbulkan ketika seorang ibu hamil mengalami pre-eklampsia, maka penting sekali untuk memahami apa yang dimaksud dengan pre-eklampsia, serta upaya mencegah preeklampsia.

Dika takan dr. Grace Valentine, Sp. OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari RS Pondok Indah – Puri Indah, sampai saat ini preeklampsia merupakan penyebab kematian ibu nomor dua terbesar di Indonesia.

Fakta yang cukup mengerikan bukan? 

Belum lama ini theAsianparent sempat melakukan wawancara dengan dr. Grace, berikut kutipannya.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/mencegah preeklampsia.jpg Bisakah preeklampsia pada kehamilan dicegah? Ini penjelasan dokter kandungan

mencegah preeklampsia

Apa yang dimaksud dengan preeklampsia?

Pre-eklampsia merupakan sebuah komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan organ. Misalnya kerusakan ginjal yang ditunjukkan oleh tingginya kadar protein dalam urin (proteinuria).

Pre-eklampsia ini juga dikenal dengan istilah keracunan dalam kehamilan atau toksemia gravidarum.

Kapan kondisi preeklamsia ini dapat dideteksi?

Biasanya kondisi ini terjadi setelah kehamilan di atas 20 minggu, atau di akhir trimester dua sampai trimester tiga kehamilan.

Dilihat dari beberapa tahun belakangan ini, apakah kasus pre-eklampsia pada ibu hamil banyak terjadi, khususnya di Indonesia?

WHO memperkirakan kasus pre-eklampsia tujuh kali lipat lebih tinggi di negara berkembang daripada di negara maju. Prevalensi pre-eklampsia di negara maju adalah 1,3 – 6 persen, sedangkan di negara berkembang adalah 1,8 – 18 persen.

Insiden pre-eklampsia di Indonesia sendiri adalah 128.273 kasus per tahun atau sekitar 5,3 persen. Kecenderungan yang ada dalam dua dekade terakhir ini tidak memperlihatkan adanya penurunan yang nyata terhadap insiden pre-eklampsia.

Bahkan bisa dikatakan, eklampsia dan pre-eklampsia adalah penyebab kematian ibu nomor dua. Oleh karena itu, semua ibu hamil memang perlu waspada.

Bagaimana dengan gejala pre-eklampsia? Apa saja yang perlu diwaspadai?

Pre-eklampsia sering berkembang tanpa gejala apapun. Namun kondisi ini dapat dideteksi pada pemeriksaan antenatal yang rutin dengan pemeriksaan tekanan darah dan pemeriksaan protein dalam urin pada pemeriksaan laboratorium.

Hal utama yang perlu diperhatikan adalah kenaikan tekanan darah sistole ≥140 mmHg dan diastole yang mencapai ≥90 mmHg. Bila ditemukan tekanan darah yang meningkat pada kehamilan, segera konsultasikan ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Bisakah mencegah preeklampsia?

Hingga saat sebenarnya ini belum ada cara yang ampuh untuk mencegah preeklampsia. Sehingga kondisi ini dikenal sebagai gangguan yang tidak bisa dicegah. Namun kondisi ini tentu saja dapat dideteksi dini.

Agar preeklampsia dapat dideteksi dini, ibu hamil wajib melakukan konsultasi antenatal (semasa kehamilan) secara teratur.

Sementara, American College of Obstetric and Gynecology (ACOG) menyarankan pemberian aspirin dosis rendah pada wanita risiko tinggi pre-eklampsia, yang dimulai pada trimester satu hingga usia kehamilan 36  minggu.

Siapa saja yang berisiko tinggi untuk mengalaminya?

Wanita yang berisiko tinggi adalah:

  • Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
  • Kehamilan kembar
  • Hipertensi kronik
  • Diabetes mellitus
  • Gangguan ginjal
  • Penyakit autoimun (sindrom antifosfolipid, lupus (SLE))

Laju pertumbuhan janin yang melambat juga sebenarnya bisa menandakan ibu mengalami pre-eklampsia.

***

Semoga bermanfaat.

 

Baca juga:

Akibat Preeklampsia, Ibu Lahirkan Salah Satu Bayi Terkecil Di Dunia

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.