Pahami Perilaku Anak

lead image

Apa yang Perlu Dilakukan ketika Anak Anda Memukul atau Menggigit Anak Lain...

src=https://id.theasianparent.com/wp content/uploads/2010/07/Crying girl e1363681261936.jpg Pahami Perilaku Anak

Contoh kasus perilaku anak agresif bisa dijelaskan sebagaimana yang terjadi pada putriku beberapa hari yang lalu. Saat itu putriku bermain bersama anak laki-laki tetangga sebelah. Tetapi tiba-tiba anak itu menggigit pipi putriku. Ibunya langsung minta maaf dan menjelaskan bahwa anaknya menggigit setiap kali merasa gemas. Aku berusaha menenangkan tangisan putriku. Aku hanya bisa menegur teman putriku. Akhirnya aku tidak mengijinkan anakku untuk bermain lagi dengannya. Dan aku selalu menjaga putriku saat dia mencoba mendekatinya.

Penyebab Perilaku Anak Agresif
Sikap perilaku anak  agresif yang sesekali diperlihatkan pada masa kanak-kanak sangat umum pada usia satu sampai tiga tahun. Kadang mereka memukul dan menggigit karena berbagai alasan, seperti meniru teman, sakit karena sedang tumbuh gigi, frustrasi atau sedang menguji sebab dan akibat. Menurut American Academy of Child  and Adolescent Psychiatry, berbagai bentuk agresi anak masih dalam tarap wajar karena mereka belum mengerti bagaiman cara mengendalikan emosi mereka.

“Menggigit adalah hal umum yang dilakukan anak-anak kecil karena mereka belum bisa menjelaskan segala hal kepada orang lain. Mereka juga baru mulai mengerti dan memahami bahasa. Jadi, ketika mereka sangat marah dan frustrasi, hal yang paling mudah untuk mengungkapkan perasaanya hanyalah menggigit,” kata instruktur Early Childhood Education, Jennifer Hardacre.

Mencegah lebih baik daripada mengobati

Selalu lebih mudah untuk mencegah suatu kebiasaan daripada untuk menghentikannya. Setiap kali Anda melihat anak Anda mulai memukul atau menggigit entah terhadap Anda atau temannya, cegahlah agar hal ini tidak sampai terjadi. Tegaskan larangan Anda dengan peringatan keras, “Itu tidak boleh!”

Jika anak tidak dapat mengatasi ledakan emosi seperti ini, dekap dirinya dalam posisi terkunci yang lembut di mana ia tidak dapat menyakiti dirinya sendiri atau siapa pun sampai ia tenang. Atau, Anda bisa memberi zona ‘time-out’ yang sesuai dengan usianya.

Akhirnya, bicaralah dengannya dan jelaskan mengapa memukul atau menggigit tidak diperbolehkan. Gunakanlah ungkapan seperti, “Tangan kita tidak untuk memukul,” atau “Digigit itu sakit.”

Pikirkan dengan baik cara agar anak tahu bahwa Anda tidak menyukai perilaku anak dan bukannya Anda tidak menyukai anak Anda.

Di samping itu, cobalah berusaha menengarai rasa frustrasi ataupun amarah mereka. Berikan bantuan pada mereka untuk mengenali emosi dan berikan identifikasi. Ajarkan dia untuk bisa mengungkapkan emosinya secara verbal daripada mengungkapkannya dengan kekerasan fisik. Tunjukkan kepadanya bahwa ketika dia marah atau kecewa, dia boleh berkata, “Saya marah karena …” atau “Saya marah dengan …”

Pertegas Posisi Kepemimpinan Anda

Ketika mencegah mereka untuk memukul atau menggigit, kebanyakan anak akan mencoba merajuk dengan menangis atau bahkan membantah Anda. Disini peran Anda sangat penting dalam memberikan reaksi kepada mereka. Karena hal ini akan mempengaruhi mereka hingga kelak mereka dewasa. Banyak orangtua salah-kaprah dengan mengabaikan kedisiplinan terhadap anak. Mereka cenderung memberikan dan menunjukkan kelembuatan dan bersikap sabar. Di sisi lain ada juga orangtua yang sudah hampir putus asa menhadapi sikap anak yang menantang dengan berdalih bahwa “Anak lelaki memang begitu” atau “Itu cuma sebuah fase.”

Penelitian telah menunjukkan bahwa perilaku anak agresif pada masa kanak-kanak yang tidak diperbaiki, mempengaruhi tingkat kekerasan mereka saat tumbuh dewasa. Oleh karena itu, alangkah bijaksana jika orangtua mampu bersikap tegas pada otoritas mereka sebagai pemimpin keluarga dan mempertegas perilaku anak apa saja yang diperbolehkan dan yang tidak baik saat berada dalam lingkungan keluarga maupun saat berinteraksi dengan orang lain di luar rumah.

Faktor lain

Beberapa perilaku anak agresif masih dianggap normal, namun jika hal itu dilakukan secara berulang-ulang mungkin menunjukkan masalah yang lebih serius. Hal ini perlu campur tangan ahli. Kondisi ini bisa saja terjadi dilandasi oleh rasa cemburu, tidak suka, tidak bahagia, atau cemas. Saat kebutuhan emosi mereka ini dapat terpenuhi, agresi akan hilang secara alami.

Naomi Aldort, penulis Raising Our Children, Raising Ourselves, menyatakan bahwa perilaku anak agresif, menggunakannya sebagai mekanisme pertahanan dari perasaan mereka yang “tak berdaya.” Dia merekomendasikan beberapa jenis permainan kekuasaan seperti ‘Simon Says’ dan menggabungkan kegiatan yang sesuai dengan mereka. Memberinya kesempatan untuk punya andil dalam kehidupan keluarga.

Tayangan televisi yang mengarah pada kekerasan juga bisa menjadi salah satu pemicu timbulnya perilaku anak yang agresif. Orangtua harus memantau dan memilah tayangan yang sesuai dengan anak Anda bila perlu dampingi mereka dan berikan penjelasan saat menonton tayangan TV.

Dr Benjamin Feingold, seorang dokter anak dan Kepala Alergi di Kaiser Permanente Medical Center di San Francisco mengungkapkan bahwa kandungan ‘salisilat’ adalah biang kerok tingkat agresi anak. Bahan ini umumnya ditemukan di dalam kandungan aspirin dan beberapa bahan makanan. Zat ini diyakini menjadi salah satu penyebab gejala ADHD (perilaku yang mengganggu, gelisah, impulsif, dll).

Beberapa orangtua merasa malu dengan perilaku anak yang anti-sosial. Untuk mengatasinya mereka harus menghilangkan pola. Keluar dari penyangkalan, mengubah situasi, memberikan alternatif kepada anak untuk mengungkapkan emosi, dan memberikan pengawasan lebih dekat. Sebagaimana pula untuk menghadapi perilaku anak yang suka membantah, orang tua juga sebaiknya menggunakan pola asuh pyang ositif  secara konsisten dengan memberikan pujian saat mereka melakukan hal-hal baik, ataupun menjelaskan bahwa perilaku yang buruk itu bisa menyebabkan dia dijauhi teman, dan lain sebagainya.