Penelitian: Hamil bayi laki-laki lebih berisiko alami komplikasi

lead image

Bagaimana penjelasan dan apa saja risiko komplikasi yang bisa muncul?

Sebuah penelitian menyebutkan saat hamil bayi laki laki, Bumil lebih berisiko mengalami komplikasi yang serius.

Setelah menganalisis lebih dari setengah juta kelahiran di Australia, para peneliti mengatakan bahwa jenis kelamin bayi dapat dikaitkan dengan kesehatan ibu dan anak. 

Bagaimana penjelasan hamil bayi laki laki lebih berisiko?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/pregnant ask the doctor.jpg Penelitian: Hamil bayi laki laki lebih berisiko alami komplikasi

"Jenis kelamin bayi memiliki hubungan langsung dengan komplikasi kehamilan," kata penulis penelitian Dr. Petra Verburg, dari Robinson Research Institute di University of Adelaide di Australia.

Menurut penelitian tersebut, saat hamil bayi laki laki ada kemungkinan bayi bisa lahir lebih awal sebelum hari perkiraan lahir. Akibatnya, kondisi ini membuat bayi lebih banyak mengalami masalah kesehatan.

Ibu yang hamil bayi laki-laki juga berisiko mengalami diabetes selama kehamilan atau yang dikenal sebagai diabetes gestasional.

Tak hanya itu, dr. Petra juga mengatakan hamil bayi laki-laki juga berisiko membuat sang ibu mengalami pre-eklamsia, kondisi tekanan darah tinggi yang serius menjelang untuk melahirkan.

Meskipun tidak sepenuhnya jelas mengapa demikian, namun Verburg mengatakan kondisi ini disebabkan karena adanya kemungkinan faktor genetik.

Dr. Querube Santana-Rivas, ahli neonatologi di Nicklaus Children's Hospital di Miami memberikan keterangan bahwa temuan tersebut memang benar. Meskipun tidak terlibat dalam penelitian, dia mengatakan bahwa dirinya sudah melihat fakta ini selama praktik medis.

"Jenis kelamin laki-laki merupakan faktor risiko terjadinya komplikasi setelah lahir. Terutama, bayi lahir prematur," kata Santana-Rivas.

Hasilnya penelitian ini seakan menggemakan beberapa temuan dari studi sebelumnya, kata Verburg. Penjelasan yang mungkin adalah bahwa plasenta, organ yang menyehatkan janin yang sedang berkembang, berbeda pada anak laki-laki dan perempuan.

"Plasenta sangat penting dalam keberhasilan kehamilan, dan itu adalah organ yang secara teknis dimiliki bayi, sehingga secara genetik identik dengan bayi," kata rekan penulis studi Claire Roberts, peneliti lain di Robinson Research Institute.

Dalam penelitian sebelumnya yang melibatkan kehamilan kondisi normal, tim Roberts menemukan adanya perbedaan dari jenis kelamin dalam ekspresi 142 gen dalam plasenta. Para peneliti mengatakan bahwa kondisi cacat pada cara plasenta berkembang dan bekerja terkait dengan komplikasi kehamilan.

Untuk studi baru, Verburg, Roberts dan rekan juga mengevaluasi lebih dari 574.000 kelahiran di Australia dari tahun 1981 hingga 2011.

Dibandingkan dengan anak perempuan, saat hamil bayi laki-laki memiliki kemungkinan 27 % lebih tinggi bayi lahir secara prematur, pada usia kandungan 20 - 24 minggu.

Selain itu, ketika hamil laki-laki, terdapat 24% lebih besar, bayi lahir saat usia kehamilan 30 dan 33 minggu. Dan 17 % kemungkinan lebih tinggi lahir saat usia kandungan 34 - 36 minggu.

Sementara American College of Obstetricians and Gynecologists menyebutkan kalau kelahiran yang normal atau sudah cukup umur terjadi saat kandungan telah berusia 39 - 41 minggu.

Para peneliti dari penelitian juga mengemukakan bahwa hamil bayi laki-laki juga berisiko mengalami diabetes gestasional sebesar 4%, dan pre-eklamsia sebesar 7,5 %.

Namun, bukan berarti Bumil yang mengandung anak perempuan tidak memiliki risiko. Pasalnya, penelitian juga menyebutkan kalau tetap ada risiko untuk mengalami pre-eklampsia pada kehamilan, sehingga menyebabkan kelahiran prematur

Tapi penelitian hanya menunjukkan hubungan antara jenis kelamin dan komplikasi kelahiran, bukan hubungan sebab-akibat. Artinya, temuan ini sebenarnya tidak perlu membuat para ibu hamil merasa khawatir. Seperti yang dikatakan Roberts, tidak peduli apa jenis kelamin anak mereka yang belum lahir.

Nasihatnya, untuk saat ini, untuk semua ibu hamil perhatikan asupan makanan sehat, berarti melakukan diet baik dan berusaha mempertahankan berat badan yang sehat sejak sebelum hamil.

"Bahkan jika kehamilan tidak direncanakan," kata Verburg, "Masih ada kesempatan bagi ibu hamil untuk mengurangi risikonya untuk mengalami komplikasi kehamilan."

Ibu hamil idealnya bisa berhenti merokok, tidak minum alkohol dan berolahraga rutin, katanya.

Di samping itu ibu hamil tentu saja perlu mengatahui dan menyadari jika ada potensi risiko sehingga bisa mendapatkan perawatan yang baik. 

 

Referensi : www.webmd.com

Baca juga:

id.theasianparent.com/melahirkan-bayi-laki-laki-lebih-sakit/

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.