Detik-detik seorang ibu berjuang melahirkan bayi 5,7 kg secara normal

lead image

Simak kisah ibu asal Cilacap yang berjuang melahirkan bayi besar secara normal. Apa saja risikonya?

Sejak dulu, saya sering mendengar bahwa ibu hamil sulit melahirkan bayi besar secara normal. Alhasil, dokter kandungan akan merekomendasikan melahirkan dengan proses sesar. Hal ini tentu saja dengan pertimbangan segala risiko yang bisa dialami ibu atau pun sang bayi.

Namun, berita mengejutkan datang dari daerah Cilacap. Seorang ibu melahirkan bayi besar secara normal, dengan berat badan sebesar 5,7 kg. Ukuran berat badan yang cukup fantastis untuk seorang bayi yang baru lahir bukan?

Dikutip dari Liputan6.com, adalah  Anis Murwati (29), seorang ibu yang baru saja melahirkan anak perempuan pada Minggu, 16 Agustus 2018. Sang buah hati memiliki bobot 5,7 kilogram.

Karena ukurannya besar, bayi ini pun dikatakan sebagai anak raksasa. Tak hanya di Indonesia, bayi ini pun dikatakan sebagai bayi dengan ukuran raksasa di dunia karena berat badannya lebih cocok untuk bayi dua bulan atau lebih.

Panjang bayi perempuan ini tergolong normal. Pipinya montok. Tangisnya juga keras dengan suara berat. Rambutnya hitam tebal, dengan kulit putih bersih.

Sang ibu, Anis mengatakan kalau dirinya tak menyangka akan melahirkan bayi jumbo. Pasalnya, Tiara, kakak si jabang bayi yang belum diberi nama ini lahir dengan bobot normal, meski juga bisa dikatakan besar, yakni 4 kg.

Dikatakan olehnya, saat memeriksakan kandungan sebelum melahirkan, bidan memperkirakan kalau bayi yang akan dilahirkan bobotnya 4 kg.

“Saya disarankan untuk langsung bersalin di klinik atau rumah sakit kalau mau melahirkan karena katanya bayi saya besar,” ujarnya.

Anis juga mengaku bahwa kehamilannya kali ini terasa lebih berat, perutnya pun dirasa sangat besar. Bahkan, saking beratnya kandungan, sejak usia kandungan 8 bulan Anis sulit beraktivitas.

Meski begitu, ia tetap memaksakan untuk berolahraga pada pagi hari dengan menyapu halaman atau sekadar jalan-jalan santai. Ia pun sudah sejak awal ingin melahirkan secara normal.

“Waktu masuk ternyata sudah bukaan delapan. Bayinya sudah kelihatan, dan besar sekali,” ucap Direktur RSU Duta Mulya Majenang, Tatang Mulyana.

Melahirkan bayi besar secara normal, apa saja risikonya?

Mengingat proses melahirkan bayi besar secara normal sangat berisiko, tenaga medis pun berpikir keras. Sebab, persalinan bayi jumbo memang berisiko tinggi. Salah satunya, dystocia bahu, sebuah kondisi di mana kepala bayi sudah keluar, tetapi bagian bahu si bayi macet lantaran lebar di atas rata-rata.

“Kemungkinan terburuknya operasi sesar, bayi ditarik lagi ke rahim baru dikeluarkan,” dia menerangkan.

Tatang menambahkan, dengan bobot di atas rata-rata, proses persalinan paling aman dilakukan lewat operasi sesar. Namun, semuanya sudah terlambat. Petugas medis dan dokter berkejaran dengan waktu.

Sebab, risiko saat ketuban pecah pun besar. Bayi mesti secepatnya keluar dari rahim ibunya.

Tim medis hanya memiliki sedikit waktu untuk mengobservasi. Apalagi ternyata sebelum melahirkan Anis belum pernah di-USG sehingga tak tahu berat badan bayi secara pasti. “Waktu itu saya berpikir, sesar tidak, sesar tidak. Tapi bayinya sudah mau lahir. Tidak ada waktu. Ya sudah, kita berusaha yang terbaik dengan persalinan normal,” ucap Tatang.

Setelah berjuang nyaris satu jam di antara hidup dan mati, sang ibu dan bayinya berhasil melewati proses persalinan normal dengan selamat.

Risiko terberat melahirkan bayi besar secara normal bisa kematian mendadak

Ditambahkan dr. Yusfa SpOG dari RS. YPK Mandiri, Menteng, berat bayi di atas 4 kg bisa dikatakan tidak wajar. Ia menjelaskan bahwa bayi besar lebih dari 4 kg, disebut makrosomia.

“Penyebabnya bisa faktor keturunan, kenaikan berat badan ibu yang berlebihan, serta yang tersering karena diabetes gestasional, atau diabetes dalam kehamilan. Risiko dalam kehamilan bisa menyebabkan bayi besar dari usia kehamilannya, atau malah kecil, dan adanya kelainan bawaan. Satu hal yang paling berat adalah sudden death, tiba-tiba janin meninggal dalam kandungan,” paparnya.

“Saat persalinan pada bayi yang beratnya kurang dari 4 kg, lingkar kepala lebih besar dari lingkar bahu. Sehingga kalau kepala sudah lahir, pasti bahu bayi dapat dilahirkan dengan risiko cedera pada bayi dan ibu yang kecil. Pada janin yang lebih dari 4 kg, lingkar bahunya lebih besar dari kepala, jadi begitu kepala dilahirkan normal bisa bisa bahunya nyangkut, kepalanya geleng geleng saja di luar,” tambahnya lagi.

Oleh karena itu, dr. Yusfa menjelaskan untuk mengeluarkan bagian bahu, ada beberapa manufer dilakukan dengan episiotomi luas (cedera pada ibu besar) atau memutar dan mematahkan tulang bahu si bayi, karena tidak ada jalan lain bayi harus lahir dari bawah karena kepala sudah lahir, tidak bisa kemudian diputuskan sesar.

Akibatnya cedera pada bayi juga amat besar dan bisa berakhir dengan kematian janin, pendarahan ibu, atau lepasnya tulang simpisis.

“Makanya bila perkiraaan janin lebih dari 4 kg, itu adalah indikasi untuk sesar. Memang ada beberapa sebagian kecil ibu dan bayi yang beruntung, lebih dari 4 kg, selamat lahir normal,” pungkasnya.

 

Baca juga :

6 Fakta penting tentang melahirkan bayi berukuran besar yang harus diketahui ibu